Hukum Shalat bagi Jenazah yang Tak Ada

Teduh.Or.Id – Karena jarak yang jauh sehingga tidak memungkinkan untuk datang ke lokasi tempat jenazah akan dimakamkan, sebagian orang kemudian tetap melakukan shalat untuk jenazah tersebut di daerah masing-masing. Bagaimana sebenarnya masalah ini di sisi ulama?

Bismillah Walhamdulillah.

Kasus ini disebut dengan shalat ghaib, dan kasus ini pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tepatnya ketika salah seorang dari sahabat Nabi ada yang wafat di tempat yang tidak terjangkau oleh Nabi dan para sahabat untuk datang men-shalati jenazahnya,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه وخرج بهم إلى المصلى فصف بهم وكبر عليه أربع تكبيرات

“Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyiarkan al-Najasyi pada hari kematiannya, dan beliau (datang) keluar ke tempat shalat bersama para sahabat, beliau membariskan mereka (bershaff) dan beliau bertakbir atasnya (al-Najasyi) sebanyak empat kali takbir.” (HR: Bukhariy)

Hadits ini menunjukkan anjuran shalat ghaib, dan ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied Rahimahullah berkata,

وفي الحديث دليل على جواز الصلاة على الغائب وهو مذهب الشافعي وخالف مالك وأبو حنيفة وقالا: لا يصلى على الغائب

“Dalam hadits ini terdapat dalil atas bolehnya shalat untuk (jenazah) yang ghaib, dan ia merupakan pendapat al-Syafi’i, Malik dan Abu Hanifah menyelisihinya, beliau berdua berpendapat: “Tidak dishalatkan atas jenazah yang ghaib.”[1]

Inilah pendapat pertama dan kedua dalam masalah ini, membolehkan secara mutlak dan melarang secara mutlak.

Pendapat ketiga, bahwa jika yang meninggal adalah seorang yang telah memberikan manfaat besar terhadap kaum muslimin, baik itu dengan ilmu atau pun harta. Maka di-shalatghaib-kan sebagai bentuk penghormatan atasnya. Pendapat ini menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin adalah pendapat yang adil (wasth) dan telah dipilih oleh banyak ulama kontemporer atau pun ulama sebelumnya.[2]

Pendapat ini memperhatikan sebab yang menjadikan dan mendorong Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga men-shalat-kan al-Najasyi walau pun berada jauh dari kota Madinah. Sebab maknawi tersebut adalah jasa besar al-Najasyi terhadap kaum muslimin dalam peristiwa hijrah. Maka ketika makna tersebut jika tercermin dari siapa pun dari kaum muslimin, maka layak untuk di-shalatghaib-kan. Wallahu A’lam.

Argumentasi ini hakikatnya adalah qiyas. Namun terjadi kontradiksi  di dalamnya, sebab mereka yang berpendapat dengan pendapat ini dan berdalil dengan Hadits al-Najasyi di atas pada dasarnya telah menetapkan bahwa hadits ini hanyalah Qadliyyah ‘Ainiyyah atau hadits yang bersifat khusus hanya untuk an-Najasyi sehingga dengan demikian tidak bisa menerima qiyas. Dan Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah sendirilah yang  menegaskan hadits itu adalah Qadliyyah ‘Ainiyyah.[3]

Jika sejak awal sudah dipatok sebagai hadits yang khusus maka tentu tidak sah maknanya diperluas kepada selain al-Najasyi. Wallahu A’lam.  

Pendapat keempat, apabila jenazah yang ghaib tersebut belum dishalatkan di daerah tempat ia meninggal dan akan dimakamkan, atau tidak ada yang men-shalati-nya di sana, maka saat itu barulah boleh dilakukan shalat ghaib untuknya. Dan ini merupakan salah satu riwayat pendapat dalam Madzhab Imam Ahmad, dan pendapat  al-Khthhabiy, dan dibenarkan oleh Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnulqayyim.[4] Pendapat ini juga dipilih sebagai pendapat yang Rajih oleh Syaikh Abdullah al-Fauzan Hafizhahullah.[5] 

Pendapat beliau (Syaikh al-Fauzan) ini dikuatkan dengan beberapa pertimbangan. Berikut kami sebutkan beserta tanggapannya:

1. Karena apabila jenazah itu telah dishalatkan maka gugurlah kewajiban kaum muslimin untuk menshalatinya.

Tanggapan: Meskipun gugur, namun tidak menutup untuk dilakukan dengan niat sunnah, sebab menshalati jenazah lebih dari sekali juga tidak dilarang, bahkan dianjurkan.

Dan Syaikh Abdullah al-Fauzan sendiri mengakui bahwa tidak ada keterangan yang kuat yang menunjukkan bahwa al-Najasyi ketika itu belum ada yang menshalatkannya di Habasyah, terlebih beliau adalah seorang raja, dan kemungkinan beliau dishalatkan oleh kerabat dan rakyatnya sangat terbuka.[6] Dengan demikian alasan ini tidak kuat untuk menafikan anjuran shalat ghaib atas jenazah yang sudah ada yang menshalatkannya di lokasi setempat. Wallahu A’lam.

2. Shalat ghaib yang dilakukan Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas al-Najasyi bukanlah syariat yang umum untuk semua jenazah yang ghaib. Akan tetapi hal itu hanyalah kasus yang terkait hanya pada personil semata (Qadliyyah ;Ainiyyah) sebagai tanda balas budi kepada al-Najasyi atas apa yang pernah beliau perbuat semasa hidup terhadap kaum muslimin.

Tanggapan: Klaim bahwa itu adalah syariat yang khusus butuh kepada dalil yang jelas dan kuat, sebab asal muasal syariat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk semua ummatnya, dan dalil yang mengkhususkannya tidak ada.

3. Tidak terdapat nukilan riwayat dari Generasi Sahabat yang sepuh (kibar) termasuk di dalamnya al-Khulafa’urrasyidin yang empat, bahwa ketika mereka wafat mereka di-shalatghaib-kan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru negeri kaum muslimin saat itu. Dan secara analisis yang zhahir, seharusnya jika ternyata dilakukan shalat ghaib untuk mereka maka tentu hal itu akan memicu semangat untuk menukil kejadiannya, namun ternyata tidak. Jika demikian maka hal ini menunjukkan kalau shalat ghaib dipahami oleh generasi salaf sebagai amalan yang khusus untuk al-Najasyi.

Tanggapan: Tidak adanya nukilan dari generasi salaf belum cukup untuk membatasi keumuman anjuran shalat ghaib, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendirilah yang pernah melakukan shalat ghaib. Dan berdalil hanya dengan tidak ada nukilan sangatlah lemah terlebih jika telah ada hadits shahih yang menjelaskannya. Wallahu A’lam

Dari itu yang mendekati menurut hemat kami adalah pendapat al-Syafi’iyyah, bahwa di-sunnah-kan melakukan shalat ghaib kepada seorang muslim secara umum. Membatasinya hanya boleh untuk al-Najasyi adalah pembatasan yang bersifat kemungkinan dan dugaan. Sedangkan pada dasarnya ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada salah seorang sahabatnya juga berlaku untuk semua umat ini. Dan pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Madzhab al-Hanabilah.

Al-Khathib Syarbiniy, seorang Ulama Madzhab al-Syafi’iyyah terkemuka menjelaskan,

( ويصلى على الغائب عن البلد ) وإن قربت المسافة ولم يكن في جهة القبلة خلافا لأبي حنيفة و مالك لأنه صلى الله عليه وسلم أخبر الناس وهو بالمدينة بموت النجاشي في اليوم الذي مات فيه وهو بالحبشة رواه الشيخان وذلك في رجب سنة تسع

“(Dan dishalatkan atas yang ghaib dari wilayah) walau pun jaraknya dekat, dan (walau pun) wilayah tersebut tidak berada di arah kiblat, – hal ini – berbeda dengan madzhab Abu Hanifah, Malik. – dalil boleh dishalatkannya yang ghaib – karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengabarkan orang-orang ketika beliau di Madinah akan wafatnya al-Najasyi pada hari di mana ia wafat, dan ia (al-Najasyi) tengah berada di negeri Habasyah. Hadits ini telah diriwayatkan Syaikhan. Dan peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rajab tahun ke sembilan.[7]

‘Alauddin al-Mirdawiy (seorang ulama madzhab Hanabilah yang tersohor) menjelaskan,

“ويصلي على الغائب بالنية”. هذا المذهب مطلقا وعليه جماهير الأصحاب وقطع به كثير منهم

“Dan dishalatkan atas yang ghaib dengan niat.” Inilah yang menjadi Madzhab secara mutlak, dan di atasnya (pendapat)  para al-Ash-hab berada, dan dengannya kebanyakan dari al-Ash-hab memutuskan.”[8]

Demikian, Wallahu A’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

 

 


Referensi:

[1] Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam

[2] Syarhulmumti’ (5/348) Penomoran al-Syamilah

[3] Syarhulmumti’ (5/348) Penomoran al-Syamilah

[4] Minhatul’Allam Syarh Bulughil Maram (2/293)

[5] Minhatul’Allam Syarh Bulughil Maram (2/294)

[6] Minhatul’Allam Syarh Bulughil Maram (2/294)

[7] Mughnilmuhtaj (1/345) penomoran al-Syamilah

[8] Al-Inshaf (2/374) Penomoran al-Syamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.