Hukum Sedekah Kepada Orang Yang Tidak Taat Beragama

Berikut fatwa Imam al-Nawawiy –rahimahullah dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab , beliau menjelaskan:

يستحب أن يخص بصدقته الصلحاء وأهل الخير وأهل المروءات والحاجات فلو تصدق على فاسق أو على كافر من يهودى أو نصراني أو مجوسي جاز وكان فيه اجر في الجملة قال صاحب البيان قال الصميرى وكذلك الحربى ودليل المسألة قول الله تعالى

Disunnahkan mengkhususkan sedekahnya kepada orang-orang saleh, orang baik, dan orang-orang yang menjaga marwah dan orang-orang yang memiliki kebutuhan, namun jika ia bersedekah kepada orang yang fasiq, atau orang yang kafir seperti yahudi , nasrani, majusi, maka sah (hukumnya) dan secara umum ia tetap mendapatkan pahala di dalamnya. Pemilik kitab Al-Bayan mengatakan; “al-Shumairiy berkata; ‘dan demikian juga sedekah kepada orang yang kafir Harbiy, dalil masalah ini adalah firman Allah Ta’ala ;

ويطعمون الطعام علي حبه مسكينا ويتيما واسيرا ومعلوم ان الاسير حربى

“Dan mereka memberikan makanan atas dasar kecintaannya kepada orang miskin, yatim, dan tawanan”. (QS: Al-Insan : 8) Sedangkan telah dimaklumi kalau kata al-Asir dalam ayat ini maknanya adalah kafir Harbiy.

Dalil lainnya adalah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam –

عن ابى هريرة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : قال رجل لاتصدقن الليلة بصدقة فخرج بصدقته فوضعها في يد سارق فاصبحوا يتحدثون تصدق علي سارق فقال اللهم لك الحمد لاتصدقن بصدقة فخرج فوضعها في يد زانية فاصبح الناس يتحدثون تصدق على زانية فقال اللهم لك الحمد لاتصدقن الليلة بصدقة فخرج بصدقته فوضعها في يد غنى فاصبحوا يتحدثون تصدق علي غنى فقال اللهم لك الحمد على سارق وعلي زانية وعلي غنى فاتي فقيل له اما صدقتك علي سارق فلعله ان يستعف عن سرقته واما الزانية فلعلها تستعف عن زناها واما الغنى فلعله يعتبر وينفق مما آتاه الله تعالى  

Dari Abu Hurairahradliyallahu ‘anhu- sesungguhnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – pernah bersabda; “Seorang lelaki pernah berkata sungguh aku akan bersedekah malam ini dengan suatu sedekah”.

Maka ia pun mengeluarkan sedekahnya dan meletakkannya di tangan seorang pencuri, Keesokannya orang-orang (nyinyir) mengatakan ; “ia bersedekah kepada pencuri”,

maka ia pun berkata; “Ya Allah Lakalhamd, sungguh aku akan bersedekah”, maka ia pun keluar dan memberikan sedekahnya ke tangan seorang perempuan penzina. Esoknya Orang-orang berkata (nyinyir) : “Ia bersedekah kepada penzina”.

Ia pun berkata: “Ya Allah Lakalhamd, sungguh aku akan bersedekah malam ini”, maka ia pun keluar dan memberikan sedekahnya ke tangan seorang yang kaya. Esoknya Orang-orang berkata (nyinyir) : “Ia bersedekah kepada orang yang kaya”,

Maka ia pun berkata: “Ya Allah Lakalhamd atas sedekah yang kuberikan kepada seorang pencuri, penzina,dan kepada orang kaya”.

Lalu ia ditemui dan dikatakan kepadanya; “Adapun sedekahmu kepada pencuri maka semoga ia menjadi menahan diri dari mencuri, dan adapun kepada penzina perempuan itu, maka semoga ia mensucikan dirinya dari perzinaan, dan adapun sedekahmu kepada orang yang kaya itu, maka semoga ia mengambil pelajaran dengannya, sehingga menjadi berinfaq dengan harta yang Allah telah berikan kepadanya”. (Muttafaq ‘Alaih)

Dan hadits lainnya dari Abu Hurairah – radliyallahu ‘anhu – sesungguhnya rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam –  pernah bersabda:

بينما رجل يمشي بطريق اشتد عليه العطش فوجد بئرا فنزل فيها فشرب ثم خرج فإذا كلب يلهث يأكل الثرى من العطش فقال الرجل لقد بلغ هذا الكلب من العطش مثل الذى كان قد بلغ مني فنزل البئر فملا خفه ماء ثم أمسكه بفيه حتي رقى فسقى الكلب فشكر الله له فغفر له قالوا يارسول الله ان لنا في البهائم أجرا فقال في كل كبد رطبة أجر  

 “Suatu ketika seorang lelaki berjalan di sebuah jalan, ia begitu sangat kehausan, ia menemukan sebuah sumur, maka lalu ia turun ke dalamnya dan minum. Kemudian ia keluar, maka tiba-tiba seekor anjing yang mengeluarkan lidahnya tengah memakan tanah karena kehausan,

Maka lelaki itu berkata; ” sungguh anjing ini telah sampai pada level kehausan yang sama seperti haus yang aku telah rasakan”,

lalu ia turun ke sumur, ia penuhi alas kakinya (sepatu) dengan air, kemudian ia membawanya naik ke atas dengan mulutnya, lalu ia memberikan anjing itu minum, maka Allah bersyukur untuknya, dan Allah mengampuninya. Para shahabat berkata; “Ya Rasulallah, sesungguhnya apakah kami mendapatkan pahala dalam berbuat kebaikan kepada binatang”, Beliau bersabda; “(berbuat baik) kepada setiap hati yang basah (makhluk hidup yang bernyawa) mendapatkan pahala”. (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

بينما كلب يطيف بركية قد كاد يقتله العطش إذ رأته بغى من بغايا بنى إسرائيل فنزعت موقها فاستقت له به فسقته إياه فغفر لها به

“Manakala seekor anjing mengitari sebuah sumur, anjing ini hampir mati karena kehausan. Tiba-tiba seorang pelacur dari kalangan Bani Israil melihatnya, lalu ia lepaskan sepatunya, ia mengambil air dengan sepatunya untuk anjing itu, lalu ia meminumkannya maka Allah ampuni dia dengan sebabnya”.[1]

Adapaun hadits yang menyebutkan larangan memberi makan kecuali untuk orang yang bertakwa saja, seperti yang diriwayatkan Attirmidziy, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban, yang berbunyi:

لا تصاحب إلا مؤمنا ولا يأكل طعامك إلا تقي

“Jangan berteman kecuali dengan orang beriman, dan jangan ada yang memakan makananmu kecuali yang bertakwa”.

Syaikh Saleh Al-Munajjid – hafizhahullah menjelaskan dalam fatwanya[2] bahwa makna larangan memberikan makan kepada orang yang tidak bertaqwa hanya berlaku dalam konteks makan bersama mereka tanpa ada tujuan yang syar’i, sebab duduk bersama orang-orang yang fasik dapat mempengaruhi atau merubah akhlak seseorang, namun apabila ada tujuan yang positif dan kebaikan seperti untuk membuat mereka melunak sehingga bertaubat kepada Allah, atau menutupi kebutuhan mereka agar mereka sadar dan kembali kepada Allah, maka tidak ada masalah, oleh karena itu Imam Al-Khathhabiy – rahimahullah – berkata:

هذا إنما جاء في طعام الدعوة دون طعام الحاجة وذلك أن الله سبحانه قال {ويطعمون الطعام على حبه مسكيناً ويتيماً وأسيراً} ومعلوم أن أسراهم كانوا كفاراً غير مؤمنين ولا أتقياء

“Larangan ini hanya berlaku pada makanan undangan bukan makanan yang ada kebutuhan (dibaliknya) karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya) : “Dan mereka memberikan makanan atas dasar kecintaannya kepada orang miskin, yatim, dan tawanan”. (QS: Al-Insan : 8) dan diketahui bahwa tawanan-tawanan mereka kaum muslimin adalah orang-orang yang kafir tidak beriman dan bukan orang-orang yang bertaqwa”.[3]

Dengan demikian maka ucapan para penceramah yang melarang orang bersedekah makanan kepada orang-orang yang zhahirnya tidak bertakwa adalah ceramah yang tidak didasari dengan pemahaman yang benar terhadap hadits tersebut. Wallahu A’lam.

 


 

[1] Al-Majmu’ Syarh Muhaddzab (6/240)

[2] Dijelaskan secara ringkas dari Islamqa.info

[3] Ma’alimussunan (4/114)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.