Hukum Pakai Papan Sutrah Di Masjid

Sutrah atau pembatas adalah salah satu Sunnah yang terkait erat dengan shalat, hukumnya di sisi ulama antara wajib atau sunnah. Namun dalam ulasan edisi ini kita ingin mengetahui fatwa ulama kibar tentang menyediakan papan sutrah di dalam masjid seperti yang telah kita saksikan akhir-akhir ini di sebagian masjid, Thayyib, langsung saja kita singkap isi dari fatwa yang diterbitkan Komite Fatwa Saudi Arabia tetang hal ini;

Soal : “Apa hukum meletakkan Sutrah di depan orang yang shalat di dalam masjid?.”

Jawaban Inti Komite Fatwa Tetap Saudi Arabia;

ويسن له دنوه من ستر له لما في الحديث وقد كان الصحابة رضي الله عنهم يبتدرون سواري المسجد ليصلوا إليها النافلة . وذلك في الحضر في المسجد لكن لم يعرف عنهم أنهم كانوا ينصبون أمامهم ألواحا من الخشب ليكون سترة في الصلاة بالمسجد بل كانوا يصلون إلى جدار- المسجد وسواريه فينبغي عدم التكلف في ذلك فالشريعة سمحة ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه ولأن الأمر بالسترة للاستحباب لا للوجوب لما ثبت من أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بالناس بمنى إلى غير جدار

“Dan untuk orang yang shalat disunnahkan agar ia mendekat ke sutrah-sutrah mereka berdasarkan dalil dalam hadits (yang telah disebutkan), dan sebenarnya para shahabat Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – mereka berusaha mengejar (mempriotitaskan) tiang-tiang masjid agar bisa shalat nafilah (Sunnah) ke arahnya, dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (menetap tidak sedang musafir) di dalam masjid, akan tetapi tidak diketahui dari mereka, bahwa mereka meletakkan di depan mereka papan dari kayu untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid, akan tetapi mereka shalat ke tembok masjid dan tiang-tiangnya,

Maka seyogyanya tidak membebankan diri dalam hal itu, Syariat itu mudah dan tidak ada seorang pun keras dalam Agama ini kecuali ia kalah sendiri olehnya (Agama), dan karena sesungguhnya perintah membuat sutrah adalah perintah yang bersifat Istihbab (sunnah) bukan kewajiban berdasarkan hadits yang telah shahih, sesungguhnya Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – pernah shalat bersama para shahabat di Mina menghadap tanpa tembok dan tidak disebutkan di dalam hadits itu Beliau membuat sutrah.”

Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdulaziz bin Abdillah bin Baz, Rahimahullah. / Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifiy,/ Anggota : Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud. [1]

Demikian, dan perlu kami sampaikan bahwa dalam masalah ini ada juga pendapat lain yang berbeda dengan fatwa di atas yang layak untuk dipertimbangkan secara ilmiah, dan di sini kami cukupkan hanya menyebut fatwa Lajnah Da’imah karena merupakan fatwa kolektif dari para ulama sepuh. Wallahu A’lam.


[1] Fatwa Lajnah Da’imah No. 3599 tgl. 5/4/1401 H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.