Hukum Ngobrol Pas Kencing Dan BAB

Spread the love

Berbicara pada saat kencing dan berak terbagi menjadi dua macam kategori pembicaraan: pertama pembicaraan dalam lingkup menjawab salam atau berhubungan dengan dzikir kepada Allah selain Tilawah membaca Al-Qur’an. Kedua adalah pembicaraan biasa yang tidak berhubungan dengan menjawab salam dan dzikir.

Adapun yang pertama, maka Ulama telah sepakat bahwa hal itu terlarang, ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar Radliyallahu ‘Anhu:

 أن رجلا مر ورسول الله -صلى الله عليه وسلم- يبول فسلم فلم يرد عليه

Sesungguhnya ada seorang lelaki melintas sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang kencing, maka ia menyampaikan salam (kepada nabi), namun nabi tidak membalasnya”. (Hadits riwayat Muslim No. 849 Bab Attayammum. Attirmidzi No. 9 )

Namun larangan disini maksudnya dalam kategori Makruh biasa, bukan Makruh yang bersifat Haram. Dan ini adalah pendapat Jumhur (mayoritas) Ulama sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah:

فقد نص الفقهاء في المذاهب الأربعة على كراهة التكلم حال قضاء الحاجة بذكر أو غيره

“Para Fuqaha’ dalam empat madzhab telah mendeklarasikan akan ke-Makruhan bicara saat Qadla’ Hajat dengan dzikir atau yang lainnya”. (34/10)

Juga disebutkan oleh Imam An-Nawawy rahimahullah, beliau berkata:

ثم هذه الكراهة التى ذكرها المصنف والاصحاب كراهة تنزيه لا تحريم بالاتفاق

“Kemudian ke-Makruhan yang telah disebutkan penulis kitab dan Al-Ash-hab (kawan-kawan dalam Madzhab Asy-Syafi’iyyah) adalah Makruh Tanzih, bukan Makruh pengharaman dengan kesepakatan”. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 2/88)

Akan tetapi walau pun tidak sampai haram, namun tentu yang lebih baik adalah tidak berdzikir pada saat itu.

Al-hafizh Ibnul Mudzir (W.219) dalam Al-Ausath berkata :

الوقوف عن ذكر الله في هذه المواطن أحب إلى تعظيما لله، والأخبار دالة على ذلك ولا أوثم من ذكر الله في هذه الأحوال

“Tidak berdzikir dalam keadaan-keadaan ini (saat senggama dan Qadla’ hajat) lebih aku sukai sebagai bentuk pengagungan untuk Allah, dan hadits-hadits menunjukkan atas hal itu, dan tidak berdosa siapa yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan-keadan seperti ini”. (Al-Austah Fissunan Wal Ijma’ Wal Ikhtilaf. 1/340)

Membaca Al-Qur’an (tilawah) Ketika Qadla’ulhajat

Adapun dzikir yang berupa Al-Qur’an, yakni membaca Al-Qur’an sambil kencing dan berak maka di antara dua pendapat ulama yang ada, yang paling benar adalah hukumnya Haram.

Al-Hajjawy Al-Hanbaliy berkata :

وتحرم القراءة فيه وهو على حاجته

“Dan haram membaca Al-Qur’an di dalamnya sedangkan dia dalam keadaan memproses hajatnya”. (Al-Iqna’)

Yang Kedua, pembicaraan di luar kategori dzikir dan tilawah hukumnya juga Makruh, sama dengan yang pertama, bahkan Mubah jika ada hal yang mendesak, ini berdasarkan dalil:

a.)  Hadits dari Jabir bin Abdillah Radliyallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang lelaki melintas dan Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang kencing, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi, maka beliau bersabada:

إذا رأيتني على مثل هذه الحالة فلا تسلم علي فإنك إذا فعلت ذلك لم أرد عليك

“Apabila kamu melihat saya dalam keadaan seperti ini maka kamu jangan mengucapkan salam kepadaku, sesungguhnya apabila kamu lakukan itu, aku tidak menjawab salammu”. (hadits riwayat Ibnu Majah No.352)

Al-Albaniy rahimahullah berkata:

و ظاهر الحديث أنه صلى الله عليه وسلم قال ذلك و هو يبول ، ففيه دليل على جواز الكلام على الخلاء

“Dan Zhahir (lahiriyyah) dari hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam megucapkan itu dalam keadaan beliau sedang kencing, maka di dalamnya terdapat dalil atas bolehnya berbicara saat Khala’ (kencing).” (Silsilah Ash-Shahihah 1/196)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbicara di sini dalam rangka menjelaskan kepada ummatnya, dan ini sangat dibutuhkan dan bahkan bisa menjadi harus atas beliau untuk menyampaikan penjelasan yang dibutuhkan, dari itu yang lebih tepat dikatakan bahwa pembicaraan Nabi saat kencing dalam hadits ini demi hal yang mendesak, sehingga yang lebih tepat insyallah adalah mengatakan boleh berbicara saat kencing jika memang mendesak, adapun jika tanpa keperluan yang mendesak maka hukumnya adalah tetap Makruh seperti yang dijelaskan pada bagian yang pertama.

Imam Annawawi Rahimahullah berkata:

يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة ، سواء كان في الصحراء أو في البنيان ، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام ، إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى ، ولا يشمت عاطسا ، ولا يرد السلام ، ولا يجيب المؤذن ، ويكون المسلم مقصرا لا يستحق جوابا ، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه ، ولا يحرم ، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس ، وكذلك يفعل حال الجماع.

“Dimakruhkan berdzikir dan berbicara ketika Qadla’ Hajat, apakah itu di tempat terbuka ataukah dalam bangunan, dan masing-masing dari dzikir dan berbicara sama hukumnya dalam hal itu, kecuali pembicaraan yang darurat (mendesak) sampai –sampai sebagian dari sahabat kami (dari madzhab Asy-syafi’iyyah) mengatakan : “Apabila (seorang bersin ketika Qadla’ Hajat) maka dia tidak membaca Alhamdulillah, dan dia tidak membalas bacaan orang yang bersin, tidak membalas salam, tidak menjawab adzan, seorang muslim menjadi orang terbatas yang tidak berhak mendapatkan balasan, dan berbicara dalam semua (corak) ini hukumnya Makruh, yaitu Makruh Tanzih, dan tidak haram, apabila ia bersin lalu membaca Alhamdulillah dengan hatinya namun tanpa menggerakkan lisannya maka tidak mengapa, demikian juga yang dilakukan ketika bersenggama”.   (Al-Adzkar 1/26)

b.) Juga hadits dari Jabir bin ‘Abdilah beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إذا تغوط الرجلان فليتوار كل واحد منهما عن صاحبه، ولا يتحدثان على طوفهما، فإن الله يمقت على ذلك.

“Apabila dua orang berak maka hendaknyalah masing-masing satu orang dari mereka menutup dirinya dari temannya, dan janganlah mereka berdua berbicara ketika berada di Thuf  (dinding pembatas) mereka masing-masing, maka sesungguhnya Allah membenci itu”.

Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnul Qathhan (Wafat. 628.H) dalam Bayanul-Wahmi Wal-Iham (5/260) dari Sanad milik Ali bin Assakan. Kitab Ali bi Assakan sendiri hilang tidak ditemukan. Ibnul Qathhan menilai Sanad yang disebutkan Ibnussakan Jayyid, dan oleh sebab itulah kemudian Syaikh Al-Albaniy menguatkan hadits ini dan beliau rujuk dari hukum sebelumnya, beliau berkata :

الآن وقد أوقفنا ابن القطان- جزاه الله خيراً- على هذا السند الجيد من غير طريق عكرمة بن عمار، فقد وجب نقله من “ضعيف أبي داود”، إلى “صحيح أبي داود” ومن “ضعيف الجامع ” إلى “صحيح الجامع “، و”ضعيف الترغيب ” إلى “صحيح الترغيب “، و”ضعيف ابن ماجه ” إلى “صحيح ابن ماجه “، ولفظه ولفظ أبي داود وغيرهما من طريق عكرمة نحو حديث الترجمة

“Dan sekarang Ibnul Qathhan telah mempertemukan kami – Jazahullahu khaira – dengan Sanad yang Jayyid selain dari jalur Ikrimah bin ‘Ammarah, maka wajib memindahkannya (hadits ini) dari Dha’if Abu Dawud ke Shahih Abu Dawud, dan dari Dla’iful Jami’ ke Shahihul Jami’, dan dari Dla’if Attarghib ke Shahih Attarghib , dan dari Dla’if Ibnu Majah ke Shahih Ibnu Majah”. (Sililah Ah-Shahihah No. 3120, 10/10.)

Selain dari riwayat Ibnu Assakan tersebut, Syaikh Al-Albaniy juga menyebutkan beberapa Syahid lainnya sehingga dengan sebab itulah beliau di akhir bahasannya berkata:

يزداد الحديث قوة على قوة

“Hadits ini bertambah kuat di atas kuat”.

Dan hadits ini adalah salah satu dalil inti dalam masalah ini, Syaikh Al-Albaniy rahimahullah berkata:

والحديث بظاهره يفيد حرمة الكلام إلا أن الإجماع صرف النهي عن التحريم إلى الكراهة

“Dan Hadits ini dalam zhahirnya menunjukkan keharaman berbicara, hanya saja Al-Ijma’ memalingkan larangan tersebut, dari pengharaman menjadi Makruh”. (Tamamul Minnah 1/58).

Asy-Syaukaniy Rahimahullah sebelumnya telah mengatakan hal yang sama, bahwa yang memalingkan makna haram dari hadits ini adalah Al-Ijma’, beliau berkata:

والقرينة الصارفة إلى معنى الكراهة الإجماع على أن الكلام غير محرم في هذه الحالة

“Dan petunjuk yang memalingkan ke makna Makruh adalah Al-Ijma’ akan tidak haramnya pembicaraan yang bukan haram dalam keadaan ini”. (Nailul Authar 1/97)

Walaupun beliau sendiri diakhir penjelasannya memandang jauhnya atau tidak kuatnya pendapat yang memaknakan larangan dalam hadits ini dengan makna makruh, karena ikatan yang menjadi Ta;lil (sebab yang dapat memunculkan suatu hukum) larangan berbicara di sini adalah kemurkaan Allah, beliau berkata:

  والحديث يدل على وجوب ستر العورة وترك الكلام فإن التعليل بمقت الله تعالى يدل على حرمة الفعل المعلل ووجوب اجتنابه؛ لأن المقت هو البغض

“Dan Hadits ini menunjukkan atas wajibnya menutup Aurat dan wajib meninggalkan pembicaraan, karena sesungguhnya Ta’lil dengan kemurkaan Allah menunjukkan atas keharaman perbuatan yang menjadi objek ‘Illah tersebut, dan (menunjukkan) wajib menjauhinya”. (Nailul Authar 1/97)

Pemaparan Imam Asy-Syaukaniy rahimahullah membuat saya condong kepadanya, terlebih status cerita Ijma’ bolehnya berbicara membutuhkan telaah mendalam dan saya belum mendapatkan dengan jelas Ijma’ tersebut kecuali apa yang disebutkan oleh Ibnul Mundzir – seperti di atas – dan itu pun tidak lugas mengatakannya sebagai Ijma’. Wallahu A’lam.

Bekasi 08/Sya’ban/2439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.