Hukum Menjawab Ibu-Bapak Ketika Shalat

 

Berbicara ketika shalat diharamkan, dan shalat pun menjadi batal karenanya, dalam Hadits disebutkan :

عن زيد بن أرقم قال كنا نتكلم في الصلاة يكلم أحدنا أخاه في حاجته حتى نزلت هذه الآية { حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين } فأمرنا بالسكوت

Dari zaid bin al-Arqam beliau berkata: “Dulu kami berbicara di dalam shalat, seorang dari kami berbicara kepada saudaranya tentang kebutuhannya sampai kemudian turunlah Ayat ini : (yang artinya: ) “Jagalah shalat dan (terutama) shalat yang al-Wustha dan berdirilah kalian dengan Qanit”. (QS: al-Baqarah 238 ) maka kami kemudian diperintahkan untuk diam (tidak berbicara ketika Shalat)” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, dan yang lainnya.)

Ditegaskan juga dalam riwayat Mu’awiyyah bin al-Hakam al-Sulamiy , Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شىء من كلام الناس إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القرآن

“Sesungguhnya Ibadah Shalat ini tidak sah di dalamnya sesuatu dari ucapan manusia, sesungguhnya ia adalah (Ibadah yang isinya) bacaan tasbih, takbir, dan pembacaan al-Qur’an”. (Hadits Riwayat Muslim.)

Imam An-Nawawiy Rahimahullah menjelaskan:

فيه دليل على تحريم جميع أنواع كلام الآدميين وأجمع العلماء على أن الكلام فيها عامدا عالما بتحريمه بغير مصلحتها وبغير انقاذها وشبهه مبطل للصلاة

“Dalam hadits ini ada dalil atas keharaman semua bentuk pembicaraan manusia (di dalam shalat) dan Ulama telah berijma’ (bersepakat) bahwa berbicara di dalam shalat dengan sengaja, dalam keadaan mengetahui hukum keharamannya, pembicaraan yang bukan untuk mashlahat shalat, dan bukan untuk menyelamatkan shalat, dan (keadaan lainnya) yang serupa, adalah membatalkan shalat”[1]

Lalu bagaimana dengan menjawab panggilan kedua ibu dan bapak kita, apakah ada pengecualian dalam hal ini, berhubung menjawab panggilan mereka pada dasarnya adalah satu kewajiban ?

Menjawab panggilan manusia termasuk dalam hal ini panggilan kedua ibu dan bapak tidak diperkenankan di dalam Shalat fardlu, namun ada keringanan jika itu dilakukan dalam shalat sunnah dengan catatan kedua ibu dan bapak akan merasa sangat jengkel dan kesal dan sakit hati apabila sekiranya tidak dijawab,

Imam Syamsuddin al-Ramliy Rahimahullah (Ulama terkemuka dalam Madzhab al-Syafi’iyyah) berkata:

ولا تجب إجابة الأبوين في الصلاة بل تحرم في الفرض وتبطل بها ، وتجوز في النفل مع بطلانها بها ، والأولى الإجابة فيه إن شق عليهما عدمها

“Dan tidak wajib menjawab Ibu-Bapak (kedua orang tua) di dalam Shalat bahkan menjadi haram menjawab di dalam shalat yang fardlu, dan shalat menjadi batal dengan sebab menjawabnya, namun boleh menjawab ketika dalam shalat sunnah (an-Naflu) dan bersamaan dengan itu shalatnya batal dengan sebab menjawabnya. Dan lebih Aula (utama) menjawab ketika dalam shalat sunnah jika berat atas kedua orang tua tidak mendapatkan jawaban.”[2]

Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy al-Makkiy (ulama terkemuka dalam Madzhab al-Syafi’iyyah) menjelaskan :

وتبطل بإجابة الأبوين ولا تجب في فرض مطلقا بل في نفل إن تأذيا بعدمها تأذيا ليس بالهين

“Dan batal (shalatnya) dengan menjawab kedua ibu bapak, dan tidak wajib menjawab ketika dalam shalat fardlu secara mutlak, akan tetapi menjadi wajib menjawab ketika dalam keadaan shalat sunnah jika mereka berdua merasa tersakiti dengan tidak mendapat jawaban, tersakiti dalam bentuk yang tidak ringan.”[3]

Pengecualian shalat sunnah dalam masalah ini karena menjawab kedua ibu bapak lebih wajib dari pada melanjutkan shalat sunnah dengan catatan yang dijelaskan dalam fatwa di atas, dan pengecualian ini disandarkan kepada kisah Juraij al-Rahib di mana Imam annawawiy rahimahullah berkata di dalamnya:

قال العلماء : هذا دليل على أنه كان الصواب في حقه إجابتها لأنه كان في صلاة نفل والإستمرار فيها تطوع لا واجب وإجابة الأم وبرها واجب وعقوقها حرام

“Ulama berkata; (kisah Juraij dalam hadits) ini adalah dalil bahwa sesungguhnya yang benar pada haknya (Juraij) adalah menjawab ibunya, karena ia berada dalam shalat sunnah sedangkan melanjutkannya adalah amalan sunnah bukan wajib, sedangkan menjawab dan berbakti kepada ibu hukumnya wajib, dan durhaka kepadanya haram.”[4]

Demikian, dan semoga bermanfaat, Washallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin Wa Alihi Wasallama.

Musa Abu ‘Affaf, B.A.


 

[1] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (5-6/30) Darulma’rifah.

[2] Imam al-Ramliy dalam Nihayatulmuhtaj 

[3] Tuhfatul-Muhtaj 

[4] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (15-16/321) cet. Darulma’rifah

Comments

comments