Hukum Menghapus Tato Permanen

Memasang tato permanen hukumnya haram, Nabi ﷺ bersabda;

لعن النبي صلى الله عليه وسلم الواشمة والمستوشمة

Artinya; “Nabi ﷺ melaknat tukang tato dan orang yang meminta ditato”. (HR: Bukhari dan Muslim).

Imam Annawawi – rahimahullah – dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan;

وهو حرام على الفاعلة والمفعول بها باختيارها والطالبة له

“Dan hukumnya haram atas orang yang membuat dan yang dipasangkan dengan kemauannya sendiri dan permintaannya”. (14/106)

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah – dalam Fathulbari berkata;

وتعاطيه حرام بدلالة اللعن كما في حديث الباب

“Dan memasangnya haram dengan petunjuk adanya laknat sebagaimana dalam hadits dalam ini”. (10/372)

Bahkan dosa ini termasuk ke dalam dosa besar atau Kabair atas ketetapan yang telah dikuatkan Imam Al-Dzahabi – rahimahullah -, beliau berkata:

و الذي يتجه و يقوم عليه الدليل أن من ارتكب شيئا من هذه العظائم مما فيه لعن فاعله على لسان نبينا محمد صلى الله عليه و سلم فإنه كبيرة

“Dan pendapat yang sesuai dan dalil berdiri atasnya bahwa siapa saja yang melakukan sedikitpun dari dosa-dosa ini yang di dalamnya – dan di antara kriteria yang beliau sebutkan :  – terdapat laknat di atas lisan Nabi kita Muhammad ﷺ maka ia dosa besar”. (1/7)

Lalu bagaimana jika seorang telah terlanjur memasang tato permanen, kemudian ia bertaubat, apakah harus menghilangkan tatonya sebagai syarat taubatnya? Dan bagaimanakah hukum shalatnya?

Pertanyaan serupa pernah dilayangkan kepada rumah fatwa (Darulifta’) Mesir, sebagai berikut kutipannya:

Pertanyaan: “Apakah sah Shalat dengan bertato permanen? Dan apakah boleh bagi orang yang sebelum itu memasangnya lalu kemudian ia bertaubat tidak menghilangkannya apabila dalam proses menghilangkannya ada kemudlaratan?

الوشم الثابت الذي فيه حبس الدم تحت الجلد حرام شرعًا باتفاق الفقهاء، وتلزم التوبة منه، وتجب إزالته إذا لم يكن في ذلك ضرر على صاحبه، أما إذا قرر المختصون بأن في إزالته ضررًا فإنه يجوز تركه وتكون الصلاة به صحيحةً على ما ذهب إليه جمهور الفقهاء، ولا إثم على صاحبه بعد التوبة

Jawab; “Tato permanen yang di dalamnya terdapat penahanan darah di bawah kulit hukumnya haram menurut syariat, dengan kesepakatan Fuqaha’ (ulama Fiqh), dan mengharuskan taubat darinya, dan wajib menghilangkannya apabila tidak ada kemudlaratan dalam hal itu atas yang memasangnya, adapun jika para ahli kesehatan menetapkan bahwa dalam menghilangkannya terdapat kemudlaratan, maka boleh baginya tidak menghilangkannya dan dan shalatnya dengan tato sah, atas pendapat mayoritas Fuqaha’, dan tidak ada dosa atas orangnya setelah bertaubat.” (dar-alifta no.urut 4918. Tgl.19/11/2019/nama mufti: Prof.Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam).

Fatwa ini dengan jelas menggantungkan hukum menghapus tato pada keputusan medis, artinya kapan ahli medis mengatakan tidak masalah menghapusnya karena tidak ada resiko yang membahayakan maka wajib menghapusnya, demikian juga sebaliknya jika dikatakan berbahaya maka boleh ia tidak menghapusnya.

Namun kini telah ada penghapus tato laser yang sangat begitu mudah, maka wajib atas orang-orang yang betaubat berusaha menghapus tatonya dengan kemudahan tekhnologi tersebut. Wallahu A’lam

’Musa Abu ‘Affaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.