Hukum Mengeraskan Bacaan ‘Amin’ Saat Khuthbah Jumat

Mengamini doa khathib jumat ketika di akhir khuthbah menurut mayoritas ulama hukumnya sunnah, dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan;

يسن التأمين على دعاء الخطيب عند المالكية والشافعية والحنابلة ، إلا أنه يكون عند المالكية والحنابلة سرا ، وبلا رفع صوت عند الشافعية ولا تأمين باللسان جهرا عند الحنفية بل يؤمن في نفسه

“Dan disunnahkan mengaminkan doa sang khathib di sisi Al-Malikiyyah, Al-Syafi’iyyah, dan Al-Hanabilah, kecuali di sisi Al-Malikiyyah, dan Al-Hanabilah (mengaminkan) dengan cara Sirr (suara lirih), dan di sisi Al-Syafi’iyyah dengan tanpa mengangkat suara, dan tidak mengaminkan dengan lisan secara jelas menurut Al-Hanafiyyah akan tetapi meng-aminkan dalam dirinya sendiri.” (1/115-116)

Perbedaan pendapat fuqaha’ dalam masalah ini terjadi pada cara meng-aminkannya, apakah dengan suara terang (Jahr) ataukah dengan suara lirih yang hanya cukup didengar oleh orang yang membacanya saja,

Di dalam kitab al-Taj Wal Iklil Li Mukhtashar Khalil disebutkan;

  لا خلاف في التأمين عند دعاء الخطيب ، لأنه كان يستدعي التأمين منهم وإنما الخلاف في السر به والجهر

“Tidak ada perbedaan dalam masalah meng-aminkan ketika khathib berdoa, karena doa tersebut menuntut adanya bacaan Amin dari makmum, perbedaan pendapat terjadi hanya dalam membaca dengan lirih ataukah dengan jelas.” (2/261)

Namun sebatas pencarian penulis, tidak ada satu pun pendapat ulama yang menganjurkan meng-aminkan dengan suara keras, dari itu hikayat adanya perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini perlu ditinjau ulang. Wallahu A’lam.

Dan dalam fatwa Allajnah Adda’imah Saudi Arabia ditegaskan;

دعاء خطيب الجمعة في خطبة الجمعة مشروع فقد ثبت أنه صلى الله عليه وسلم كان يدعو فيها للمؤمنين والمؤمنات. أما التلفظ بالتأمين على دعائه فلا بأس به؛ لعموم الأدلة

“Doa khathib jumat di dalam khuthbahnya disyariatkan, ada hadits yang telah shahih sesungguhnya Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – mendoakan kaum beriman (lelaki dan perempuannya) di dalam khuthbahnya. Adapun melafazhkan bacaan Amin atas doanya khathib maka tidak ada keburukannya, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada.” (No.6398)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaiminrahimahullah – pernah ditanya hukum meng-aminkan doa khathib jumat dalam khuthbahnya, dan beliau memfatwakan;

وكذلك التأمين على دعاء الخطيب لا بأس به بدون رفع صوت لأن التأمين دعاء

“Dan demikian itu seperti meng-aminkan doa khathib, tidak ada keburukan dengannya dengan tanpa mengangkat suara, karena meng-aminkan adalah doa.” (Majmu’ Fatawa Warasa’il Ibnu ‘Utsaimin 16/100)

Madzhab al-Syafi’iyyah

Adapun dalam Madzhab al-Syafi’iyyah maka ditegaskan bahwa meng-aminkan doa khathib dengan suara yang keras lebih baik ditinggalkan saja, kebiasaan orang-orang membaca Amin dengan suara yang begitu keras saat khathib berdoa adalah prilaku bid’ah yang begitu jelek, sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haitsami  (909 H. –  974 H.) Beliau berkata ;

وفي شرح المهذب وغيره يندب للخطيب الدعاء للمسلمين وولاتهم بالصلاح والإعانة على الحق والقيام بالعدل ونحو ذلك ولجيوش الإسلام . ا هـ

“Dan di dalam Syarh Al-Muhadzzab dan lainnya, disunnahkan bagi khathib mendoakan kaum muslimin dan pemimpin mereka dengan kesalehan dan mendapat pertologan atas yang hak, dan menegakkan keadilan, dan semisalnya, dan juga untuk pasukan Islam. Selesai.

 ويؤيد ذلك قول الحسن البصري رضي الله عنه لو علمت لي دعوة مستجابة لخصصت بها السلطان فإن خيره عام وخير غيره خاص

Hal itu dikuatkan oleh perkataan Al-Hasan Al-Bashriradliyallahu ‘anhu – yang berbunyi; “Jikalau aku mengetahui ada suatu doa yang mustajab untukku niscaya aku khususkan dengannya untuk pemerintah, karena sesungguhnya kebaikan mereka adalah umum sedangkan kebaikan selainnya itu bersifat khusus.”

وأما التأمين على ذلك جهرا فالأولى تركه لأنه يمنع الاستماع ويشوش على الحاضرين من غير ضرورة ولا حاجة إليه  وأما ما أطبق  الناس عليه من التأمين جهرا سيما مع المبالغة فهو من البدع القبيحة المذمومة فينبغي تركه

Dan adapun meng-aminkan atas hal itu (doa khathib tersebut) dengan suara yang jelas (Jahr) maka yang lebih utama meninggalkannya, karena ia menghalangi pendengaran, dan mengganggu jamaah yang hadir tanpa ada keterdesakan dan tidak ada hajat kepadanya, dan adapun apa yang telah dipraktikkan orang-orang atasnya dari meng-aminkan secara Jahr terlebih dengan suara yang begitu keras maka itu bagian dari Bid’ah yang buruk lagi tercela, sehingga maka semestinya ditinggalkan.”  (Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra (1/356.) Cet. Ke-1 1417 H./1997 M.  Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah / Bairut – Libanon.)

Fatwa Ibnu Hajar – rahimahullah – ini juga dinukil dalam Hasyiah I’anatuth-thalibin (2/80)

Oleh karena itu, hendaklah jamaah shalat jum’at tidak mengencangkan suara aminnya ketika khathib berdoa di penghujung khuthbah, hendaklah meng-aminkan dengan suara yang tersembunyi sehingga tidak menimbulkan suara yang tidak beraturan di dalam masjid ketika khathib membaca doanya.

Musa Abu ‘Affaf

 

One thought on “Hukum Mengeraskan Bacaan ‘Amin’ Saat Khuthbah Jumat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.