Hukum Mengangkat Tangan Pada Takbir Zawaid Shalat Ied

 

Takbir yang dilakukan setelah Takbiratulihram dalam shalat ‘Ied disebut dengan Takbir Azzawa’id, tapi masalahnya apakah dianjurkan mengangkat tangan saat bertakbir ataukah tidak?

Dianjurkan mengangakat tangan pada Takbir Zawaid, dan ini adalah pendapat Mayoritas Ulama dari kalangan Madzhab Al-Hanafiyyah, Al-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, dan satu riwayat dari Imam Malik, bahkan Al-Kasaniy menukil adanya Ijmak atas anjuran tersebut, beliau berkata:

 وأجمعوا على أنه يرفع الأيدي في تكبير القنوت وتكبيرات العيدين

“Dan mereka telah bersepakat bahwa disunnahkan mengangkat kedua tangan pada takbir ketika qunut, dan takbir-takbir shalat dua hari raya.” (‘Alauddin Al-Kasaniy / Bada’i-‘ushhoni’ Fi tartibisyara’ik / (1/207)

Dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika Takbir Zawa’id – menurut Jumhur ulama – berdasarkan beberapa alasan :

Pertama : Perbuatan Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits:

ولا يرفع يديه فى السجود ويرفعهما فى كل تكبيرة يكبرها قبل الركوع

“Dan Beliau (Nabi) tidak mengangkat kedua tangannya ketika sujud dan mengangakatnya pada setiap kali takbir yang beliau takbirkan sebelum rukuk.”

(Hadits riwayat Abu Dawud, Annasa’i, dan Ahmad, dan Hadits ini dinilai shahih oleh Annawawi dalam Al-Majmu’, Ibnulmulaqqin dalam Badrulmunir, Al-Albaniy dalam Shahih Abu Dawud, dan Ahmad Syakir dalam Tahqiq Musnad Ahmad.)

Hadits ini bersifat umum sehingga mencakupi seluruh bentuk takbir yang terjadi sebelum rukuk, dan termasuk di dalamnya adalah takbir zawaid dalam shalat ‘ied.

Atsar dari Umar bin Al-Khathhab Radliyallahu ‘Anhu :

  عن بكر بن سوادة : أن عمر بن الخطاب رضى الله عنه كان يرفع يديه مع كل تكبيرة فى الجنازة والعيدين. وهذا منقطع

Dari Bakr bin Sawwadah: Sesungguhnya Umar bin Al-Khathhab Radliyallahu ‘Anhu mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan setiap takbir dalam shalat janazah dan dua hari raya.”, Al- Baihaqiy berkata: Sanad ini terputus (Munqathi’) (Sunanulkubra 3/293)

Seandainya Atsar ini shahih maka menjadi pemutus dalam masalah ini, namun sayang seperti yang dipaparkan Imam Al-Baihaqiy bahwa Sanadnya terputus sehingga tidak kuat menjadi dalil secara mandiri.

Kedua : Diqiyaskan atau di samakan dengan mengangkat tangan ketika takbir dalam shalat janazah.

Bahwa Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma :

أنه كان يرفع يديه على كل تكبيرة من تكبير الجنازة

“Sesungguhnya beliau mengangkat kedua tangannya atas setiap takbir dalam takbir shalat janazah.”

(Hadits riwayat Al-Baihaqiy dalam Sunan al-Kubra, dan dinilai shahih sanadnya oleh Al-Albaniy dalam Ahkamuljanaiz 1/148)

Ketiga : Dilihat dari posisinya, bahwa Takbir Zawa’id ini terletak dalam keadaan posisi tegak berdiri, maka dianjurkan padanya mengangkat kedua tangan seperti halnya Takbir Iftitah (Takbiratulihram) yang letaknya juga ada pada posisi tegak.

Alasan ini disebutkan oleh Al-‘Umraniy al-Syafi’i dalam kitabnya Al-Bayan (2/368) [1]

Demikian beberapa alasan yang dikemukakan oleh pendapat yang mengatakan disunnahkan mengangakat kedua tangan ketika Takbir Zawaid, dan inilah yang difatwakan oleh Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah.[2]

Beberapa Ulama berbeda dengan pendapat jumhur dalam masalah ini, seperti Ibnulhammam Al-Hanafiy dalam Fathulqadir (1/427), Imam al-Syaukaniy seperti yang beliau sebutkan dalam Nailulauthor (5/55), dan Syaikh Al-Albaniy dalam Tamamulminnah (1/348).[3] Mereka menyimpulkan kalau mengangkat tangan tidak disunnahkan dalam Takbir Zawa’id shalat hari raya.

Karena masalah ini adalah masalah khilafiyyah maka yang bijak dan arif seorang tidak menjadikannya sebagai bahan untuk menjatuhkan pihak lain yang berbeda dalam menerapkannya, namun seyogyanya seorang muslim tidak keluar dari madzhab yang dianut masyarakatnya.

 


 

[1] Lihat dorar.net

[2] Fatwa Syaikh Ibnu Baz 

[3] https://www.alukah.net/sharia/0/34293/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.