Hukum Menerima Hadiah Natal

Teduh.Or.Id – Menerima hadiah dari Nasrani pada dasarnya dibolehkan dalam syariat Islam, sebab hal ini bagian dari bentuk berbuat baik kepada mereka. Berbuat baik kepada kafir dzimmiy tidak terlarang dalam Islam.

Allah Ta’ala berfirman,

لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين

“Allah tidak melarang kalian terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam Agama dan tidak mengusir kalian dari rumah-rumah kalian akan berbuat baik kepada mereka dan bersikap adil kepada mereka, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (Qs: Al-Mumtahinah – 8)

Nabi Mendapat Hadiah dari Yahudi

Nabi ﷺ pernah menerima hadiah daging kambing dari seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti al-Harits yang ternyata daging tersebut telah dibubuhi racun mematikan olehnya. Dalam hadits disebutkan,

أن امرأة يهودية أتت رسول الله صلى الله عليه و سلم بشاة مسمومة فأكل منها

“Sesungguhnya seorang perempuan berbangsa yahudi pernah memberikan Rasulullah ﷺ domba yang telah diracuni dan beliau menyantap sebagiannya.”[1]

Maka pada dasarnya menerima hadiah orang kafir selama hadiah tersebut bukan berupa daging yang disembelih demi perayaan natal hukumnya tidak haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan:

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها وروى ابن أبي شيبة في المصنف حدثنا جرير عن قابوس عن أبيه أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا من المجوس وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ولكن كلوا من أشجارهم وقال حدثنا وكيع عن الحكم بن حكيم عن أمه عن أبي برزة أنه كان له سكان مجوس فكانوا يهدون له في النيروز والمهرجان فكان يقول لأهله ما كان من فاكهة فكلوه وما كان من غير ذلك فردوه

“Dan ada pun menerima hadiah dari mereka (orang kafir) pada hari raya mereka maka sebelumnya telah kami ketengahkan dari Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu sesungguhnya pernah beliau dikirimkan hadiah hari raya Nairuz dan beliau pun menerimanya.”

Dan Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mushannaf.  Beliau berkata, “Jarir telah menyampaikan hadits kepada kami dari Qabus, dari Bapaknya, bahwa seorang perempuan pernah bertanya kepada Aisyah, ia berkata “sesungguhnya kami punya aazhar (onta yang sudah pisah dari induknya)  pemberian dari kaum Majusi, dan sebenarnya mereka punya hari raya dan mereka memberi hadiah untuk kami? Aisyah radliyallahu ‘anha berkata, “adapun hadiah berupa daging yang disembelih demi hari raya tersebut maka jangan kamu makan, tapi santaplah yang berupa tumbuh-tumbuhan mereka.””

Dan beliau (ibnu Abi Syaibah) berkata, “Wakik telah menyampaikan hadits kepada kami dari al-Hakam bin Hakim, dari Ibunya, dari Abu Barzah, sesungguhnya beliau memiliki tetangga seorang Majusi dan mereka menghadiahkan kepadanya pada hari raya Nairuz dan al-Mahrajan. Maka beliau (Abu Barzah) ketika itu berkata kepada keluarganya, hadiah yang berupa buah-buahan maka makanlah dan hadiah yang bukan buah-buahan (daging)  maka tolaklah.””

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan,

 فهذا كله يدل على أنه لا تأثير للعيد في المنع من قبول هديتهم بل حكمها  في العيد وغيره سواء لأنه ليس في ذلك إعانة لهم على شعائر كفرهم

“Maka sesungguhnya semua ini menunjukkan sebenarnya tidak ada pengaruh dari hari raya mereka dalam larangan menerima hadiah mereka, akan tetapi hukumnya menerima hadiah di hari raya mereka atau di waktu selainnya adalah sama saja, sebab dalam hal itu bukanlah bentuk membantu mereka atas syiar-syiar kekafiran mereka.”[2]

Hukum memberi ucapan Natalhttps://www.teduh.or.id/ibnul-qayyim-bicara-hukum-ucapan-selamat-natal/

Fatwa Komite Riset dan Fatwa Saudi Arabia

Berbeda dengan pandangan Syaikhul Islam di atas, Komite Fatwa Saudi Arabia menetapkan tidak boleh menerima hadiah orang kafir pada hari raya mereka jika pemberian tersebut dilandasi dengan nilai perayaan tersebut.

Berikut kami nukilkan fatwa tersebut.

Tanya:

هل يجوز للمسلم أن يأكل من الأطعمة التي أعدها أهل الكتاب أو المشركون في أيام عيدهم أو يقبل عطية منهم لأجل عيدهم ؟

Apakah boleh bagi seorang muslim menyantap makanan yang telah disiapkan Ahli Kitab atau kaum Musyrikun pada hari raya mereka, atau menerima pemberian dari mereka kerena demi hari raya mereka?

Jawab:

” لا يجوز للمسلم أن يأكل مما يصنعه اليهود أو النصارى أو المشركون من الأطعمة لأعيادهم ولا يجوز أيضاً للمسلم أن يقبل منهم هدية من أجل عيدهم لما في ذلك من تكريمهم والتعاون معهم في إظهار شعائرهم وترويج بدعهم ومشاركتهم السرور أيام أعيادهم ،

Tidak boleh bagi seorang muslim menyantap makanan yang telah dibuat oleh Yahudi dan Nasrani atau kaum Musyrikun berupa makanan yang diperuntukkan untuk hari raya mereka, dan tidak boleh juga bagi seorang muslim menerima hadiah dari mereka karena semata demi hari raya mereka, karena dalam hal tersebut ada bentuk pemuliaan terhadap mereka, dan tolong menolong bersama mereka dalam menonjolkan syiar-syiar mereka dan membiarkan bid’ah-bid’ah mereka merasuk dan (sebagai bentuk) ikut serta dengan mereka dalam kesenangan pada hari raya mereka,

وقد يجرّ ذلك إلى اتخاذ أعيادهم أعياداً لنا ، أو إلى تبادل الدعوات إلى تناول الأطعمة أو الهدايا في أعيادنا وأعيادهم في الأقل ، وهذا من الفتن والابتداع في الدين ، وقد ثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قال : ( من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد ) كما لا يجوز أن يهدى إليهم شيء من أجل عيدهم .” انتهى

Dan bisa jadi hal itu dapat menyeret paling tidak kepada menjadikan hari raya mereka sebagai hari raya kita, atau ke dalam (prilaku) bertukar undangan saling mencicipi makanan, atau hadiah pada hari raya kita dan hari raya mereka. Dan ini bagian dari fitnah dan bid’ah dalam agama. Sebenarnya telah shahih Nabi ﷺ pernah bersabda,”siapa saja yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya maka ia tertolak,” sebagaimana juga tidak boleh seorang muslim memberi hadiah kepada mereka karena demi hari raya mereka”.[3]

Fatwa ini ditandatangani oleh tiga Ulama Lajnah saat itu, mereka adalah Syaikh Abdulaziz bin Baz, Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud, rahimahumullah jami’an.

Yang lebih dekat bagi penulis adalah apa yang dipaparkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan inilah yang difatwakan oleh Syaikh Shalih al-Munajjid (fatwa No. 85108) dengan tambahan beberapa syarat di dalamnya. [4]


[1] Hadits Riwayat Muslim/Kitab al-Salam/Bab al-Summ/No.2190

[2] Iqtidlaush-Shirathil-Mustaqim (2/51-52) Cet. Dar.Isybiliya Tahqiq Dr.Nashir bin Abdilkarim al-‘Aql.

[3] Fatwa Lajnah Da’imah (22/298-299) Cet. Darulmuayyid.

[4] Link Fatwa 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.