Hukum Mendekat Ke Sutrah

Mendekat ke Sutrah hukumnya Sunnah, Dalil yang menunjukkannya Sunnah adalah sebagai berikut :

1.Dari Sahl bin Abi Hatmah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda :

 إذا صلَّى أحَدُكم إلى سُترةٍ، فلْيَدْنُ منها، لا يقطَعِ الشَّيطانُ عليه صلاتَه

“Apabila seorang di antara kalian shalat (menghadap) ke Sutrah maka hendaknyalah ia mendekatinya, Jangan sampai setan memutus shalatnya.”[1]

2. Dari Sahl bin Sa’d As-Saa’idy Radliyallahu ‘Anhu beliau berkata :

 كان بين مُصلَّى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وبين الجدارِ مَمَرُّ شاةٍ

“Antara tempat (posisi) Shalat Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan tembok (jaraknya seukuran) jalan (yang cukup dilewati) seekor domba.” (HR: Bukhari dan Muslim)

3. Berdasarkan Ijma’ (konsensus) Ulama , dimana Ibnu hazm dan Annawawiy menukil Ijma’ atas disunnahkannya mendekat ke Sutrah.

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata :

واتفقوا على أن من قرب من سترته ما بين ممر الشاة إلى ثلاثة أذرع فقد أدى ما عليه

“Dan mereka (Ulama) telah bersepakat bahwa siapa saja yang mendekat ke Sutrahnya yang ada (posisinya) di antara seluas lintasan seekor domba (atau) sampai dengan tiga Dzira’ (hasta) maka sungguh dia telah menunaikan perintah yang diberatkan atasnya”. (Maratibul Ijma’ 1/30)

Imam Annawawiy Rahimahullah berkata :

السنة للمصلي أن يكون بين يديه سترة من جدار أو سارية أو غيرهما ويدنو منها ونقل الشيخ أبو حامد الاجماع فيه 

“Adalah Sunnah bagi seorang yang shalat ada sutrah di depannya, (dimana Sutrah itu bentuknya bisa berupa dari) tembok, tiang, atau selain dari keduanya, dan (sunnah) ia mendekat ke arahnya, dan Asy-Syaikh Abu Hamid telah menukil Ijma’ di dalamnya”. (Al-Majmu’ Syarh Muhadzzab 3/247)

Imam Al-Baghawiy Rahimahullah berkata :

والعمل على هذا عند أهل العلم ، استحبوا الدنو من السترة بحيث يكون بينه وبينها قدر إمكان السجود ، وكذلك بين الصفين

“Dan inilah amalan yang para Ahli Ilmu berada di atasnya, mereka menyukai (mensunnahkan) mendekat dengan sutrah dengan sekiranya jarak antara dirinya dengan sutrah seukuran memungkinkan untuk sujud, dan demikian pula (ukuran) antara dua barisan Shaf”. (Syarhussunnah 2/447)

Bekasi Kamis 3 Sya’ban 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] (Hadits riwayat Abu Dawud, Annasa’i dan Ahmad, hadits ini dihasankan Ibnu Abdil Barr dalam Attamhid, dan oleh Imam Annawawi dalam Majmu’, dan Ibul Qayyim mengatakan hadits ini Rijalnya adalah Rijal Shahih Muslim, dan nilai Shahih oleh Al-Albaniy dalam Shahih Abu Dawud.)

[2] Artikel ini kami alih bahasakan dari : https://dorar.net/feqhia/1043