Hukum Mencumbu Saat Puasa Sampai Keluar Mani

Orang yang bercumbu secara fisik namun tidak sampai ke tahap bersenggama, namun berciuman dan meraba, kemudian maninya keluar dengan sebab itu, maka puasanya batal, dan ia wajib melakukan puasa ganti atau qadla’. Ini dengan kesepakatan empat madzhab yakni Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, al-Syafi’iyyah, dan Al-Hanabilah, dan ada ulama yang menceritakan Ijma’ atas hal itu [1]

Dalam madzhab al-Syafi’iyyah sendiri disebutkan,  Al-Khathib al-Syarbini – rahimahullah – berkata :

   وكذا خروج المني  يفطر به إذا كان ( بلمس وقبلة ومضاجعة ) بلا حائل لأنه إنزال بمباشرة

“Dan seperti itu juga keluar mani, membatalkan puasa dengan sebabnya apabila keluarnya karena meraba, mencium, menindih, dengan tanpa penghalang, karena ia keluar mani dengan sebab bermesraan fisik (mubasyarah).” (Mughnil Muhtaj  1/430)

sumber dalil hukum ini adalah hadits ;

عن جابر بن عبد الله قال قال عمر بن الخطاب هششت فقبلت وأنا صائم فقلت يا رسول الله صنعت اليوم أمرا عظيما قبلت وأنا صائم. قال أرأيت لو مضمضت من الماء وأنت صائم  قلت لا بأس به قال  فمه

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata; Umar bin Al-Khathab pernah berkata: “Aku merasa lemah, aku mencium (istriku) dan aku dalam keadaan berpuasa, maka aku berkata kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam – ya Rasulallah hari ini aku telah melakukan suatu perkara yang begitu agung, aku mencium dalam keadaan aku puasa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Ketahuilah, bagaimana jika engkau berkumur dengan air dan engkau dalam keadaan berpuasa!? ” Umar menjawab; “Tidak mengapa”, Nabi bersabda ; “maka seperti itulah”. (hadits riwayat Abu Dawud No. 2387Al-Albani menilainya Shahih)

Dalam hadits ini terdapat pondasi metode qiyas, dan pendalilan dengan hadits ini sebenarnya dengan qiyas yang diisyaratkan di dalamnya, di mana mencium diserupakan dengan berkumur dari sisi sama-sama merupakan pendahuluan dari syahwat atau sama sama perbuatan yang mengundang syahwat, dan pada berkumur jika air tidak sampai turun ke dalam kerongkongan maka puasa tidak batal dengannya, maka demikian juga dengan mencium, selama tidak ada air mani yang keluar maka puasa tidak batal, namun jika ada yang air mani yang keluar maka puasanya menjadi batal, sama seperti berkumur lalu air tersebut ia biarkan masuk ke kerongkongannya maka puasanya batal.  (diintisari Al-Aunul Ma’bud (7/21) dan Al-Mausu’ah Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (39/144).)

Maka hendaknya pasangan suami istri berhati-hati, terutama suami agar ia menahan dirinya pada saat berpuasa. Karena sesungguhnya menahan syahwat birahi adalah bagian yang sangat penting dalam puasa; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

والذي نفسي بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله تعالى من ريح المسك يترك طعامه وشرابه وشهوته من أجلي

“Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, bau mulut orang yang puasa lebih bagus di sisi Allah Ta’la dari wangi Al-Misk, ia meninggalkan makannya, minumnya dan syahwatnya karenaku.” (HR.Bukhary 1894)

Hadits ini menunjukkan bahwa kesempurnaan puasa itu ada pada meninggalkan makan, minum, dan syahwat birahi, maka jika seorang tidak menahan birahinya sehingga ia mencumbu istrinya sampai ia mengalami ejakulasi maka ia tidak termasuk ke dalam orang yang berpuasa dengan sempurna, karena ia tidak meninggalkan syahwatnya saat berpuasa. Dari itu ulama Fiqh mengatakan, bahwa mencumbu sampai ejakulasi maknanya sama dengan bersenggama (jima’) dalam artian sama sama sebagai tindakan melampiaskan nafsu bersenggama sehingga dapat membatalkan puasa.

Demikian Wallahu A’lam. 

Musa Abu ‘Affaf.


 [1] lihat dorar.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.