Hukum Mencumbu Bagian Intim (khusus Pasutri)

Bercumbu dengan mencium atau menjilat kemaluan pasangan ?

Masalah ini sebenarnya adalah masalah intim yang agak malu untuk kita bahas, namun demi mengetahui hukum Syariatnya maka tidak ada salahnya untuk dibahas tentunya dengan tetap menjaga etika bahwa bahasan ini hanya dalam batas koridor hubungan sah dan halal suami istri.

Pada dasarnya melakukan hal itu hukumnya boleh, dengan beberapa Alasan :

Pertama : Allah tidak melarang para suami membuka kemaluan di hadapan istri mereka, Allah berfirman :

والذين هم لفروجهم حافظون – إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين

Artinya : “Dan orang-orang yang mereka terhadap kemaluannya adalah orang-orang yang menjaga, Kecuali atas istri-istri mereka atau budak-budak perempuan mereka maka sesungguhnya mereka bukan orang-orang yang dicela.” (Qs: Al-Mukminun. 5-6)

Yang dimaksudkan dalam Ayat ini adalah kemaluan lelaki saja, bahwa mereka dihalalkan tidak menjaga kemaluanya jika terhadap istri-istri mereka, dan ketika seorang istri mencium atau mengisapnya maka perbuatan itu adalah bagian dari bentuk tidak menjaga kemaluan yang dihalalkan. Wallahu A’lam.

Kedua : Kenikmatan birahi hukumnya halal dilampiaskan antara istri dan suami, dan hukum dasar ini tidak boleh dibatasi kecuali dengan dalil yang kuat, Allah berfirman :

أحل لكم ليلة الصيام الرفث إلى نسائكم هن لباس لكم وأنتم لباس لهن

Artinya : “Aku Halalkan bagi kalian pada malam puasa akan (perbuatan) Rafats (menyetubuhi) perempuan-perempuan kalian, mereka pakaian bagi kalian dan kalian pakaian bagi mereka.” (QS: Al-Baqarah 187)

Maka Rafats menyetubuhi istri adalah Halal secara umum dan termasuk ke dalam hal ini mencumbu kemaluan istri walau pun dengan cara menjilatnya, karena perbuatan ini termasuk ke kategori menyetubuhi maka untuk melarangnya atau mengecualikannya dari kehalalan tersebut tentu harus dengan dalil yang kuat, dan tidak ada dalil atas hal itu.

Ketiga : Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

اصنعوا كل شىء إلا النكاح

Artinya : “Lakukanlah segala apa pun (dalam mencumbunya ketika Haidl) kecuali senggama”. (Hadits Riwayat Muslim dan lainnya)

Larangan dalam hadits ini hanya terbatas pada melakukan Nikah yaitu Jima’ atau senggama, maka selain senggama dibolehkan, mengisap kemaluan suami tentunya bukan senggama. Dengan demikian maka perbuatan tersebut masuk ke dalam hal yang dibolehkan. Dan seandainya terlarang maka niscaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan menjelaskannya, karena memperlambat penjelasan ketika dibutuhkan terlarang pada hak seorang Nabi, dan Nabi terbebas dari sifat tersebut.

Paparan ini sesuai dengan pendapat para Fuqaha’ dari Madzhab-Madzhab yang ada, dan berikut nukilannya :

Pendapat fuqaha’ Madzhab Al-Malikiyyah

قال القباب في باب نظر الرجال إلى النساء مسألة: إذا كانت المرأة يحل للرجل وطؤها فلا كلام إلا في نظره إلى فرجها فإنه موضع خلاف أجازته المالكية وقيل لأصبغ إن قوما يذكرون كراهته فقال من كرهه إنما كرهه بالطب لا بالعلم ولا بأس به وليس بمكروه وقد روي عن مالك أنه قال لا بأس أن ينظر إلى الفرج في حال الجماع وزاد في رواية ويلحسه بلسانه وهو مبالغة في الإباحة وليس كذلك على ظاهره. مواهب الجليل شرح مختصر الخليل.

“Al-Qabbab berkata dalam Bab Lelaki Melihat Perempuan: Masalah : “Apabila seorang wanita halal disetubuhi oleh lelaki, maka tidak ada pembicaraan dalam masalah (hukum) melihatnya kecuali melihat ke arah kemaluannya, hal ini adalah letak perselisihan pendapat, Al-Malikiyyah membolehkannya, dan dikatakan kepada Al-Ashbugh (seorang Ahli Fiqh) bahwa ada suatu kaum menyebutkan kemakruhannya, beliau menjawab : “Orang yang memakruhkannya memandang makruh hanya dari segi medis bukan dari segi ilmu (syar’i) dan tidak ada masalah dengan hal itu, (melihat kemaluan istri) dan tidak makruh hukumnya, telah diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau berkata : “Tidak ada masalah melihat ke kemaluan pada saat Jima’, dan dalam riwayat lainnya beliau menambahkan: “(dan tidak masalah) menjilatnya dengan lidahnya.”. Mawahibul Jalil Syarh Mukhtashar Al-Khalil (5/23)

Pendapat Fuqaha’ Madzhab Asy-Syafi’iyyah

( تتمة ) يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها ولو بمص بظرها أو استمناء بيدها لا بيده

Disebutkan dalam fathul Mu’in (3/340): “Boleh bagi suami melakukan segala kenikmatan dengannya (istri) kecuali pada lingkaran anusya, dan (boleh) walaupun dengan mengisap klitorisnya atau melakukan onani dengan tangannya (istri) tidak dengan tangannya sendiri.”

إعانة الطالبين : (قوله: ولو بمص بظرها) أي ولو كان التمتع بمص بظرها فإنه جائز.

Apa yang disebutkan dari Fathul Mu’in tersebut diperjelas kembali dalam kitab Hasyiyah I’anatuth-Thalibin (3/388): “Dan perkataannya : “walau dengan mengisap itilnya) yakni maksudnya walau pun bentuk kenikmatan tersebut dengan mengisap klitorisnya maka sesungguhnya itu boleh.”

Pendapat Fuqaha Madzhab Al-Hanbaliyyah

Dalam Al-Inshaf (8/27) disebutkan dua faedah :

إحداهما: قال القاضي في الجامع يجوز تقبيل فرج المرأة قبل الجماع ويكره بعده وذكره عن عطاء.

Pertama : Al-Qadli dalam kitabnya Al-Jami’ berkata : “Boleh mencium kemaluan perempuan sebelum Jima’ dan dimakruhkan setelahnya, dan beliau menyebutkan hal ini dari ‘Atha’.

الثانية: ليس لها استدخال ذكر زوجها وهو نائم بلا إذنه ولها لمسه وتقبيله بشهوة وجزم به في الرعاية وتبعه في الفروع وصرح به ابن عقيل.

 Kedua : “Bukanlah baginya (seorang istri) memasukkan dzakar suaminya sedang ia sedang tidur dengan tanpa izin dari suaminya, dan bagi dia (istri) boleh meremas dan menciumnya (dzakar) dengan syahwat.”

Fatwa Ulama Kontemporer

Sebatas yang kami ketahui ulama kontemporer tidak ada yang mengharamkan masalah ini secara asal perbuatan, mereka menghukuminya Makruh dengan alasan lain yang menjadi konsekuensi dari perbuatan ini, seperti karena khawatir liur tercampur dengan Najis Madzy lalu tertelan, atau karena alasan kesehatan.

Salah satu fatwa kontemporer tentang hal ini, adalah fatwa islamweb dengan No. 2146 di tengah-tengah penjelasannya menyebutkan :

ومع ذلك فإننا لانقطع بتحريم (مص الأعضاء واللعق) مالم تخالط النجاسة الريق وتذهب إلى الحلق

“Dan bersama dengan itu, maka sesungguhnya kami tidak memastikan akan keharaman (mengisap dan menjilat) selama najis tidak bercampur dengan liur dan membawanya ke dalam tenggorokan.” (1)

Makruh juga adalah pendapat Syaikh Ali Farkus Hafizhahullah (2), beliau memberikan alasannya atas hukum makruh tersebut sebagai berikut :

Pertama : “Sesungguhnya lidah adalah alat tempat berdzikir maka seyogyanya dijaga dari tempat-tempat yang keluar darinya kencing , cairan Al-Madzi, dan Al-Wadyu.

Kedua : “Sesungguhnya kita diperintahkan menjauhi najis-najis yang ada, dan bukanlah hal samar, pada saat melakukan hal ini kadang susah menghindar dari Al-Madzyu , yaitu cairan putih bening yang cepat menempel dan tidak kental keluar ketika bermesraan, atau saat mengingat Jima’ atau pada saat ada keinginan Jima’, dan seorang bisa saja tidak merasakan cairan ini keluar, sedangkan cairan ini merupakan bagian dari najis yang susah untuk dihindari, suatu hal yang sangat mungkin terjadi Al-Madzyu menjadi bercampur dengan liur ditengah-tengah melakukannya.”

Ketiga : “Ada hal-hal yang menjijikan terdapat pada area yang akan dicium, atau bau yang tidak sedap, atau ada penyakit pada kemaluannya, maka jika tidak ancaman terkena penyakit, maka sesungguhnya perbuatan ini tidak disukai secara citarasa dan jiwa yang selamat menganggapnya menjijikkan.”

Keempat : Sering akan terjadi (suatu pola) beralih dari mencari kenikmatan dengan Jima’ di kemaluan yang dia adalah tempat bercocok tanam dan sumber keturunan (ini akan ditinggalkan) karena sebab kenikmatan dengan cara yang seperti ini.

Namun pada dasarnya alasan menghukumi makruh harus dengan Dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah, tidak kuat jika dengan alasan yang masih terbuka untuk dibantah, oleh karena itu pendapat Fuqaha’ dari Madzhab lebih kuat dalam hal ini. Wallahu A’lam.

Bekasi 1 Rajab 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


(1) Link fatwa :

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=2146

(2) Link fatwa Syaikh Ali Farkus

https://ferkous.com/home/?q=fatwa-151

Comments

comments