Hukum Membuat Replika Ka’bah Dalam Bimbingan Manasik Haji Dan Umrah

Adalah kebiasaan sebagian bahkan semua pembimbing Manasik Haji dan Umrah yang terkelompok dalam Travel atau KBIH tertentu, ketika akan membimbing jamaah, mereka akan mengadakan praktik Manasik di satu tempat yang tersedia di dalamnya replika Ka’bah dan Maqam Ibrahim. tentunya hal ini mereka ambil dengan banyak pertimbangan dan alasan, namun apa pun itu, hal yang cukup mengejutkan dalam hal ini ialah – betapa tidak – ternyata ada fatwa larangan atas membuat replika Ka’bah dan semacamnya, sebab pengadaan replika tersebut dinilai mengkhawatirkan akan menjadikan orang-orang menambatkan hati mereka terhadapnya dalam pengagungan disamping juga bimbingan dengan membuat replika Ka’bah bukanlah satu kebutuhan selama bisa dijarkan dengan ucapan dan penjelasan tertulis.

Untuk lebih pasnya, berikut kami terjemahkan fatwa larangan atas hal tersebut sedangkan tex aslinya dapat dibaca disini :

Pertanyaan:

 “Kami di Negeri Maghrib (Maroko) ada seorang guru yang mengajarkan Manasik Haji kepada orang-orang dengan cara praktik, yaitu dia membuatkan mereka putaran (semacam benda yang akan diputari keliling) yang diwarnai dengan warna hitam menyerupai Ka’bah, demikian juga (mereka membuat replika) Maqam Ibrahim, Shafa dan Marwah, dan Jamarat (tempat melontar jumrah di mina) dan Replika lainnya yang ada terkait dengan Manasik Haji. Sedangkan praktik latihan ini terlaksana lengkap dengan pakaian Ihram yang mereka pakai lalu mereka melakukan latihan Manasik, mulai dari Umrah sampai berhaji, dan mereka bertalbiyah (ucapan Labbaikallahumma Labbaik) seraya mengangkat suara mereka di dalam masjid dengan suara bersama-sama (berjamaah), dan sesungguhnya penomena ini telah mulai menyebar di seluruh wilayah Maroko, (seolah) jika Anda masuk ke sebagian masjid, Anda akan mendapatkan benda yang dikelilingi menyerupai Ka’bah dan apa saja yang memiliki keterkaitan dengan Manasik Haji sepanjang tahun. Maka diharapkan kepada Samahatul Walid (panggilan penghormatan kepada Ulama) agar menjelaskannya.”

Jawaban

“Membuat kerangka replika dari kayu atau lainnya untuk Syiar-syiar Islam seperti Ka’bah dan Maqam Ibrahim dan Jamarot (tempat jumroh) dan lain-lainnya dengan tujuan untuk dipergunakan sebagai alat pembelajaran dalam menunaikan Manasik Haji dan Umrah sebagaimana dengan cara yang telah disebutkan dalam pertanyaan, (hukumnya) tidak boleh, bahkan BID’AH yang MUNKAR, karena alasan, hal itu dapat mengakibatkan beberapa pelanggaran yang Syar’I seperti misalnya ketertambatan hati dengan kerangka replika ini – walau ba’da hiin (ungkapan untuk kesegeraan akan terjadinya  – dan menjadikannya terbuka untuk dihina dan (sebab-sebab) lainnya dari yang demikian tersebut, disamping juga tidak ada kebutuhan untuk (melakukan pembelajaran) dengan metode ini. Sebab (mengajarkan Manasik) dengan cara menjelaskan dan menerangkan dengan ucapan dan menggunakan penjelasan tertulis sebagai bantuan sudah cukup dan melegakan dalam hal menyampaikan makna-makna Syar’I kepada orang-orang awam, dan telah Shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau sesungguhnya telah bersabda: “Siapa saja yang berbuat satu amalan yang bukan bagian dari urusan (Agama) kami maka ia tertolak. Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya. Dan hanya dengan Allah kita berharap Taufiq. Dan semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurah atas Nabi kita Muhammad dan keluarganya dan para Shahabtnya.”

Fatwa ini dikeluarkan oleh Komite Fatwa Saudi Arabia yang beranggotakan para Ulama ternama seperti Syaikh Bakr Abu Zaid, Shalih Al-Fauzan, Abdullah bin Ghudayyan, Abdul Aziz Aalu Syaikh, dan diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz semoga Allah merahmati mereka. dan semoga apa yang kami sampaikan di sini bermanfaat dan dapat menjadi nasehat bersama. Amiin.

Musa Abu Affaf.