Hukum Membaca Dari Mushaf Dalam Salat

Membaca dari mushaf dalam shalat hukumnya diperselisihkan antara pandangan boleh dan Makruh. Dan berikut penjelasan ulama yang berpendapat boleh,

Diriwayatkan dalam shahih Al-bukhari secara Mu’allaq yang berunyi :

وكانت عائشة يؤمها عبدها ذكوان من المصحف

“Aisyah dulu pernah diimami oleh budaknya bernama Dzakwan dari mushaf”. (Disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya , Bab Imammatul ‘Abdi Wal Maula hadits No. 692)

Hadits Mu’allaq ini menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah diriwayatankan secara bersambung di luar Shahih Bukhari, di antaranya oleh Ibnu Abi Dawud dalam Kitab Al-Mashahif, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, Imam al-Syafi’i, dan Abdurrazzaq. (Fathulbari 2/569. Cet. Dar Thaibah. )

Alhafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – berkata;

 استدل به على جواز قراءة المصلي من المصحف ومنع منه آخرون لكونه عملا كثيرا في الصلاة. انتهى

“Telah dijadikan dengannya (hadits ini) dalil atas bolehnya orang yang salat membaca dari mushaf, dan sebagian melarangnya karena menjadikan banyak tindakan di dalam salat”. (Fathulbari 2/270)

Ulama salaf yang diriwayatkan mempunyai pendapat boleh membaca dari mushaf di dalam salat sunnah adalah : Ummulmukminin ‘Aisyah Radliyyallahu ‘Anha, Dzakwan Maula ‘Aisyah, Hasan Al-Bashri, ‘Atha bin Abi Rabah, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Muhammad bin Muslim bin Syihab, dan Imam Malik, Rahimahumullahu Jami’an. (Kitabul Mashahif 1/656 – 661)

Imam Malik pernah ditanya tentang orang yang mengimami jamaah dalam bulan ramadlan dari (bacaan) mushaf, maka beliau berkata:

لا بأس بذلك إذا اضطروا الى ذلك , قال وكان العلماء يقومون لبعض الناس في رمضان في البيوت

“Tidak mengapa dengan hal itu, apabila mereka terdesak untuk melakukannya”. (Kitabumashahif 1/661, Tahqiq Dr. Muhibbuddin Wa’izh.  )

Dan inilah pendapat dalam Madzhab Al-Syafi’iyyah, Imam Annawawi – rahimahullah – berkata:

 لو قرأ القرآن من المصحف لم تبطل صلاته سواء كان يحفظه أم لا بل يجب عليه ذلك إذا لم يحفظ الفاتحة كما سبق ولو قلب أوراقه أحيانا في صلاته لم تبطل

“Dan jika ia membaca Al-Qur’an dari mushaf salatnya tidak batal, sama saja keadaannya ia menghafal ataukah tidak, bahkan wajib atasnya hal itu apabila ia tidak menghafal Al-Fatihah sebegaimana yang telah terdahulu (bahasannya) dan jika ia membolak-balik kertas-kertasnya sesekali dalam salat maka salatnya tidak batal.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab 4/95 ).

Dan juga dalam Madzhab Al-Hanabilah, Al-Faqih Manshur Al-Buhuti berkata :

 وَ لِمُصَلٍّ ” قِرَاءَةٌ فِي الْمُصْحَفِ، وَنَظَرٌ فِيهِ ” أَيْ: الْمُصْحَفِ

قَالَ أَحْمَدُ: لَا بَأْسَ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ الْقِيَامَ وَهُوَ يَنْظُرُ فِي الْمُصْحَفِ، قِيلَ لَهُ: الْفَرِيضَةُ؟ قَالَ: لَمْ أَسْمَعْ فِيهَا شَيْئًا.  شرح منتهى الإرادات 1\ 211

“Dan boleh bagi orang yang salat (wajib dan sunnah) membaca dari mushaf dan boleh melihat darinya, yakni mushaf. Imam Ahmad berkata; “Tidak ada masalah mengimami orang-orang pada qiyam ramadlan dalam keadaan ia melihat di mushaf, ditanyakan kepada (Imam Ahmad) salat fardlu bagaimana? Beliau menjawab; “Aku tidak pernah mendengar (hadits) sedikit pun di dalamnya”. (Syarh Muntahal Iradat 1/211)

Namun dalam salah satu riwayat lainnya disebutkan bahwa Imam Ahmad tidak membedakan antara salat sunnah ataukah salat wajib, Imam Ibnu Qudamah berkata:

وحكي عن ابن حامد أن النفل والفرض في الجواز سواء . المغني 1\ 648

“Dan telah dihikayatkan dari Ibnu Hamid sesungguhnya salat sunnah dan fardlu sama dalam hal kebolehan (membaca lewat mushaf)”. (Al-Mughni 1/68)

Pendapat ini juga yang menjadi fatwa dari ulama Allajnah Adda’imah Saudi Arabia sebagaimana yang tercatat dalam fatwa ( No. 579) dan fatwa (No. 2238.).  Syaikh Abdulaziz bin baz rahimahullah berkata :

الصواب الجواز كما فعلت عائشة رضي الله عنها لأن الحاجة قد تدعو اليه والعمل الكثير إذا كان لحاجة ولم يتوال لم يضر الصلاة لحمله ﷺ أمامة بنت زينب في الصلاة وتقدمه وتأخره في صلاة الكسوف ولأدلة أخرى مدونة في موضعها

 “Yang benar adalah boleh, sebagaimana yang telah diperbuat ‘Aisyah Radliyallah ‘Anha, karena terkadang hajat mendesak kepadanya, dan perbuatan banyak kalau demi hajat dan tidak dengan cara berturut-turut maka salat tidak tercederai, karena Nabi ﷺ pernah membawa Umamah binti Zainab di dalam salat, dan beliau pernah maju dan mundur dalam salat gerhana, dan karena dalil-dalil lainnya yang telah dikumpulkan tersendiri pada tempatnya”. (Catatan Kaki Fathulbari 2/570).

Pendapat Yang Tidak Membolehkan.

Sebagian ulama dari kalangan Salaf mau pun Khalaf memandang tidak boleh membaca al-qur’an dari mushaf dalam salat, baik sunnah mau pun yang wajib, dan ini adalah pendapat dalam Tabi’in Sa’id bin Al-Musayyib, Imam Abu Hanifah, dan Ibnu Hazm, dan Syaikh Al-Albani. Dan insyallah pendapat ini akan kami uraikan pada tulisan lainnya, Insyallah.

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.