Hukum Memakai Sandal Sambil Berdiri

Sangat harus kita syukuri banyaknya kaum muslimin yang mulai sadar akan pentingnya mengikuti Sunnah, namun tentu semangat itu harus terus dipupuk dengan ilmu, dan dirujuk kepada penjelasan ulama, agar tidak terjadi kekacauan memaknai suatu hadits, dan memahami Sunnah dengan bermodal unek-unek sendiri.

Nah, di antara Sunnah yang mulai dikenal dan menyeruak ke publik adalah hadits tentang larangan berdiri saat memakai sandal, hadits ini berasal dari Abu Hurairah –radliyallahu ‘anhu – beliau berkata:

نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن ينتعل الرجل وهو قائم

“Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – melarang seorang memakai sandal dalam keadaan ia sedang berdiri”. (Hadits Riwayat Attirmidziy)

Untuk hukumnya, maka hadits ini telah di-Takhrij oleh Al-AlbaniyRahimahullah – dengan detil dalam al-Shahihah (2/341) beliau berkata:

 وخلاصة القول: أن الحديث بمجموع طرقه صحيح بلا ريب

“Kesimpulan pendapat atas hukum hadits ini : Bahwa hadits ini dengan segenap Thuruq (jalan periwayatannya) Shahih tanpa ada keraguan”.

Fiqh Hadits

Larangan memakai sandal dalam posisi berdiri dalam hadits ini menurut para ulama karena kalau memakai sandal dalam posisi berdiri dikhawatirkan ia akan jatuh dan tidak stabil berdiri dengan satu kaki, sehingga dikala seorang bisa dengan baik dan tanpa kesusahan memakainya dalam poisis berdiri, maka hukumnya menjadi boleh.

Imam Malik – rahimahullah – pernah ditanya tentang hukum memakai sandal dalam posisi berdiri, beliau menjawab : “Tidak ada celaan dengan hal itu”, dan jawaban beliau ini maksudnya seperti yang dijelaskan sebelumnya, yaitu tidak ada celaan ketika seorang memang tidak mendapatkan kesulitan memakai sandal sambil berdiri. Namun jika ia mendapatkan kesulitan maka Makruh.

Ibnu Rusyd – rahimahullah – berkata:

وهو نهي أدب وإرشاد لهذه العلة

“Larangan ini adalah larangan dari segi adab, dan Irsyad berdasarkan ‘Illah (sebab) ini.”[1]

Syaikh Al-Albaniy rahimahullah – menyepakati hal ini, ini dengan dibuktikan beliau tidak menolak penjelasan Al-Munawi atas fiqh hadits tersebut, bahkan beliau menjadikannya sebagai Syarh atau penjelasan yang penting atasnya, beliau berkata :

تنبيه. قال المناوي: والأمر في الحديث للإرشاد، لأن لبسها قاعدا أسهل وأمكن، ومنه أخذ الطيبي وغيره تخصيص النهي بما في لبسه قائما تعب

“(Penting ). Al-Munawiy (salah seorang ulama besar dalam Madzhab Al-Syafi’iyyah) mengatakan: “Perintah dalam hadits ini maksudnya untuk Irsyad, (yakni arahan yang bersifat baik namun tidak wajib). karena memakainya dalam keadaan duduk lebih mudah dan lebih memungkinkan, dan beranjak dari alasan inilah al-Thibiy dan yang lainnya mengambil jalan pengkhususan (Takhshish) atas zahir larangan dalam hadits ini dengan alasan adanya unsur kelelahan ketika memakainya dalam posisi berdiri.”[2]

Sandal jepit dihari ini tentu tidak masuk ke dalam larangan hadits ini, selain modelnya belum tentu ada di zaman Nabi – shallallahu alaihi wasallam – tapi juga sangat mudah dipakai walau pun sambil berdiri, bahkan memakainya sambil duduk dapat menyebabkan ‘keribetan” sehingga bertentangan dengan tujuan yang dimaksudkan dalam hadits.  Wallahu A’lam.


[1] Syaikh Shadiq bin Abdirrahman Al-Ghirbaniy / Tash-hihat Fi Tathbiq Ba’dhissunan (1/84)  Cet. Dar Ibnu Hazm / Tahun 1427 H.

[2] Silsilah Ahadist al-Shahihah (2/342)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.