Hukum Makanan Dicampur Khamr Saat Dimasak

Apakah hukum memakan makanan yang dimasak dengan Khamr atau dengan bahan dari Alkohol ?

Masalah ini telah dijawab oleh Syaikh Sulaiman bin Abdillah Al-Majid. Hafizhahullah (1)

Tidak boleh menyengaja menyimpan khamr, dan tidak boleh dicampurkan ke makanan apa pun, akan tetapi jika makanan telah dimasak dengan sedikit (campuran) darinya, seperti makanan yang ada di negara-negara kaum kafir, maka (hukum) yang paling dekat – bahwa apabila makanan tersebut dalam jumlah yang banyak tidak sampai membuat mabuk – maka tidak ada masalah memakannya.

Dan kepada hal itulah sebagian salaf berpendapat, telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” (5/3320) dari Abu Ad-Darda’ tentang hukum Al-Mirry (2) yang terdapat padanya Khamr? Beliau berkata : “Tidak ada masalah dengannya”, api dan garam telah menyembelihnya (melenyapkannya).” Dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm dan telah dipilih oleh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Wallahu A’lam.

Alih Bahasa : Musa Abu ‘Affaf, BA.

Bekasi 1/Rajab/1439 H.


(1) fatwa asli Syaikh Sulaiman bin Abdillah AlMajid.

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته .. لا يجوز تعمد حيازة الخمر ، ولا أن توضع في شيء مما يؤكل ، ولكنه إن طُبخ الأكل بشي منها ؛ كالذي يكون في بلاد الكفار فالأقرب أنه إذا لم يكن كثير هذا الطعام مسكرا فلا بأس بأكله.
وإلى ذلك ذهب بعض السلف؛ فقد روى ابن أبي شيبة في “المصنف” (5/3320) عن أبي الدرداء : في المري يجعل فيه الخمر؟ قال: لا بأس به, ذبحته النار والملح. وهذا هو مذهب ابن حزم، واختيار ابن عثيمين رحمه الله . والله أعلم.

http://www.salmajed.com/fatwa/findnum.php?arno=7846

(2) Imam An-Nawawi rahimahullah . Al-Murri : dibuat dari ikan dan garam dan khamr, berubah tidak lagi memabukkan karena bekas matahari dan garam, (Asma’ Wallughat 3/315)

Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan hal sama, bahwa Murri adalah khamr yang ditaruhkan garam dan ikan, lalu kemudian dijemur diterik matahari sampai berubah dari rasa khamr.(Fathul Bary 9/532)