Hukum Kremasi Dalam Islam

Syariat islam sangat memuliakan manusia dan di antara bentuk pemuliaan tersebut adalah perintah agar jasad manusia dikuburkan, tidak boleh dicampakkan jasadnya bak bangkai hewan yang tak berharga, akan tetapi diwajibkan mengubur jenazah mereka sesuai dengan tatacara yang telah dijelaskan syariat, semua itu karena kemuliaan yang ada pada diri manusia, Allah berfirman ;


ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ

“kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya (‘Abasa 21)


Syaikh ‘Abdurrahman Assa’di – rahimahullah – menafsirkan;

أكرمه بالدفن، ولم يجعله كسائر الحيوانات التي تكون جيفها على وجه الأرض

“Allah memuliakannya dengan ditimbun, dan diperlakukan seperti hewan-hewan yang dimana bangkainya dibiarkan tergeletak di atas tanah.” (Tafsir Assa’di )

Dari itu ulama telah bersepakat (Ijma’) bahwa hukum menguburkan jenazah seorang muslim adalah wajib Kifayah,  Ibnulmundzir – rahimahullah – berkata;

وأجمعوا على أنَّ دَفْنَ المَيِّت لازِمٌ واجِبٌ على النَّاسِ لا يَسَعُهم تَرْكُه عند الإمكانِ، ومن قام به منهم سقط فَرْضُ ذلك على سائِرِ المُسلمين

“Dan ulama telah bersepakat bahwa menimbun mayat harus dan wajib atas orang-orang, tidak boleh meninggalkannya ketika hal itu memungkinkan dilakukan, dan siapa saja yang melakukannya dari mereka maka gugurlah kewajiban itu atas segenap kaum muslimin.” (Al-Ijma’ 44)

Inilah aturan baku dalam syariat islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim, dan siapa saja yang memilih cara lain dari syariat ini dalam prosesi pengurusan jenazah walhal mereka dalam keadaan mampu dan leluasa untuk melakukannya, maka dia telah melanggar Ijma’ dan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan kremasi?

Dimana belakangan ini kremasi menjadi pilihan disebagian negara, termasuk di Indonesia walau pun tidak banyak, dan bahkan sebagian orang berwasiat agar jasadnya dikremasi setelah meninggal dunia.

Kremasi yaitu membakar mayat tanpa ada alasan yang syar’i hukumnya Haram , karena nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 كسر عظم الميت ككسره حيا

“Mematahkan tulang mayit seperti mematahkannya ketika hidup.” (Hadits riwayat Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

Sulaiman bin Khalf Al-Baji Al-Maliki – rahimahullah – berkata;

يريد أن له من الحرمة في حال موته مثل ما له منها حال حياته وأن كسر عظامه في حال موته يحرم كما يحرم كسرها حال حياته

“yang dimaksud (hadits ini) bahwa seorang memiliki kehormatan dalam keadaan kematiannya seperti halnya ia memiliki kehormatan ketika hidupnya dan sesungguhnya mematahkan tulangnya ketika mati haram sebagaimana haram mematahkannya ketika hidup.” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwathha’ 2/30)

Jika mematahkan tulangnya saja diharamkan, maka tentu perlakuan yang lebih buruk dan brutal dari itu lebih cocok dan pantas diharamkan. Disamping hal itu, kremasi mayat merupakan budaya non islam, dan kita telah diperintahkan agar tidak mengikuti dan memperserupakan diri dengan mereka,  Syaikh Dr. Nashr Farid Washil, salah seorang mufti di Darulifta’ Mesir menegaskan ;

فلا يجوز بحالٍ إحراقُ جثث موتى المسلمين، ولم يُعرَف الحرقُ للجثث إلا في تقاليد المجوس، وقد أُمِرنا بمخالفتهم فيما يصنعون مما لا يوافق شريعتنا الغراء.

“Maka tidak boleh dengan keadaan yang telah disebutkan membakar jasad-jasad mayit kaum muslimin dan tidak pernah diketahui pembakaran tubuh mayit kecuali dalam budaya majusi dan kita telah diperintahkan menyelisihi mereka dalam perkara-perkara yang mereka lakukan yang tidak sesuai dengan syariat kita yang bercahaya.”[1]

Demikian , Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf

——

[1]  Fatwa Al-Azhar No.urut 1896

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.