Hukum konsumsi Buah Atau Sayuran Dipupuk Najis

Buah yang disiram atau dipupuk pohonnya dengan sesuatu yang najis boleh di makan, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama (Jumhur) yang terdiri dari Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, dan al-Syafi’iyyah, dan pendapat sebagian ulama Madzhab Al-Hanabilah;

Imam al-Nawawi al-Syafi’i – rahimahullah– berkata;

الزرع النابت على السرجين قال الاصحاب ليس هو نجس العين لكن ينجس بملاقاة النجاسة نجاسة مجاورة وإذا غسل طهر وإذا سنبل فحباته الخارجة طاهرة قطعا ولا حاجة الي غسلها وهكذا القثاء والخيار وشبههما يكون طاهرا ولا حاجة الي غسله قال المتولي وكذا الشجرة إذا سقيت ماء نجسا فاغصانها وأوراقها وثمارها طاهرة كلها لان الجميع فرع الشجرة ونماؤها

“Tanaman yang tumbuh di atas Assarjin (pupuk dari kotoran hewan) , Al-Ash-hab mengatakan ia bukanlah najis ‘ain akan tetapi ia akan menjadi najis yang bersifat Mujawirah dengan sebab bersentuhan dengan suatu najis, dan apabila dicuci maka menjadi suci, dan apabila ditanam, maka pucuk-pucuknya yang keluar menjadi suci secara pasti, dan tidak membutuhkan untuk mencucinya, dan demikianlah hukumnya dengan buah Qitssa’ (semacam timun) dan timun, dan buah yang serupa dengan keduanya, ia menjadi suci dan tidak perlu mencucinya.

Al-Mutawally berkata; “Dan demikian juga dengan pohon, apabila disiram dengan air yang najis maka dahan-dahannya, daun-daunnya, dan buah-buahnya (hukumnya) suci semuanya, karena semua itu adalah bagian dan kembang biak dari pohon itu sendiri.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab 2/591).

Dihukumi tidak najis sehingga boleh di makan karena dua alasan;

Yang pertama; buah atau sayuran tersebut telah berubah menjadi suci dengan proses yang disebut dengan Istihalah atau fermentasi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;

لأنَّ النَّجاسةَ تَستَحيلُ في باطنِها، فتَطهُرُ بالاستِحالةِ، كالدَّمِ يَستَحيلُ في أعضاءِ الحيوانِ لحمًا، ويَصيرُ لبَنًا

 “Karena sesuatu yang najis bisa berubah pada bagian dalamnya sehingga dengan begitu najis itu bisa menjadi suci dengan proses Istihalah[1], seperti misalnya darah yang berubah di dalam tubuh hewan menjadi daging, dan menjadi susu.”[2]

Yang Kedua : Buah atau sayuran tersebut adalah objek baru yang tidak sama dan tidak terkait dengan najis sehingga hukumnya pun ditentukan oleh keadaan objek tersebut sesuai dengan keadaannya terkini, bukan ke keadaan sebelum ia menjadi buah dan sayur.

Ibnul Qayyim – rahimahullah – berkata :

 أنَّه لا عِبرةَ بالأصلِ، بل بوصْفِ الشَّيْءِ في نفْسِه، ومِنَ المُمتنِعِ بَقاءُ حُكمِ الخَبَثِ وقد زال اسمُه ووصْفُه، والحُكمُ تابعٌ للاسمِ والوصفِ، دائرٌ معه وُجودًا وعَدمًا، فالنُّصوصُ المُتناوِلةُ لتحريمِ المَيْتةِ والدَّمِ ولحمِ الخِنزيرِ والخَمْرِ لا تَتناوَلُ الزُّروعَ والثِّمارَ والرَّمادَ والمِلْحَ والتُّرابَ والخَلَّ، لا لفظًا ولا معنًى، ولا نَصًّا ولا قياسًا

“Asal usul suatu benda tidak menjadi pertimbangan hukum, yang menjadi pertimbangan hukum adalah sifat sesuatu yang ada saat itu padanya, dan adalah hal yang menjadi terhalang diterima akal hukum najis tetap ada sementara nama dan sifatnya telah sirna, sedangkan ketetapan suatu hukum itu mengikut pada nama dan sifatnya, juga berlaku dengannya dari segi ada atau tidaknya. Maka dari itu keterangan-keterangan dalil yang menjangkau pengharaman bangkai, daging babi, khamr, tidak dapat menjangkau tumbuhan, buah-buahan, pasir, garam, cuka, tidak secara lafazh dan tidak juga makna, dan tidak secara nash dan tidak juga secara qiyas.”[3]

Demikian, semoga bermanfaat. [4]

Musa Abu ‘Affaf, Waffaqahullah.

———-

[1] Istihalah adalah proses perubahan suatu zat atau benda menjadi bentuk lain dan baru yang tidak sama dari keadaan asal mulanya.

[2] Ibnu Qudamah / Almugni (9/414)

[3] Ibnul Qayyim/ I’lamul Muwaqqi’in (1/298)

[4] Artikel ini diambil dari : (klik) dorar.net 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.