Hukum Khathib Jum’at Bersandar Tangan Pada Tongkat

Sebagian khathib berpegang pada tongkat saat khuthbah Jum’at, dan sebagian lainnya tidak, bagaimana sebenarnya hal ini menurut ulama? Berikut uraian singkatnya:

Setidaknya ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini, Mustahabb, Makruh, dan tidak Sunnah jika di atas mimbar.

Pendapat pertama : Membawa tongkat untuk menyandarkan tangan saat khuthbah Jumat hukumnya Mustahab atau disunnahkan, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama . disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah dorar.net[1] bahwa pendapat ini adalah pendapat dari Madzhab Al-Malikiyyah, Al-Syafi’yyah, Al-Hanabilah, dan dipilih oleh al-Shan’aniy dalam subulussalam (2/59), Ibnu Baz, dan bahkan diceritakan telah ada Ijma ulama atas hal ini seperti yang disebutkan Al-Qurthubiy

والإجماع منعقد على أن الخطيب يخطب متوكئا على سيف أو عصا

“Dan Ijma’ telah terbentuk bahwa seorang khathib melakukan khuthbah dalam keadaan bersandar di atas pedang, atau tongkat”. (Tafsir Al-Qurthubiy (11/188)

Dalil disunnahkan berpegang pada tongkat menurut jumhur adalah hadits Al-Hakim bin Hazn al-Kulafiy –radliyallahu ‘anhu –

أنه شهد الجمعة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: فقام متوكئا على عصا أو قوس

“Sesungguhnya beliau pernah menyaksikan shalat Jumat bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam – dan menurut beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri berkhuthbah bersandarkan (kedua tangannya) di atas tongkat atau busur panah”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (1096), Ahmad (4/212) dan (17889), Ibnu Khuzaimah (1452), Al-Baihaqiy (Assunanulkubra 3/206). Imam Annawawi dalam Tahdzibul Asma’ Wallughah (1/166) mengatakan hadits ini Sanadnya Shahih atau Hasan, Ibnu Hajar dalam Talkhishulhabir (2/580) menilai Sanadnya Hasan, demikian juga dengan al-Shan’aniy dalam Subulussalam (2/93), dan Ibnu Baz dalam Hasyiyah Bulughulmaram (312), dan Al-Albaniy telah menilainya Hasan dalam Shahih Sunan Abu Dawud (1096) dan Al-Wadi’iy dalam al-Shahihul Musnad (323)

Berpegang pada tongkat atau busur adalah amalan yang telah lama berlangsung dan pernah dilakukan Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam– dan oleh para Khulafa’nya. Dalam Al-Mudawwanah Al-Kubra disebutkan :

 قال ابن شهاب: وكان إذا قام أخذ عصا فتوكأ عليها وهو قائم على المنبر، ثم كان أبو بكر وعمر وعثمان يفعلون ذلك. ابن وهب وقال مالك: وذلك مما يستحب للأئمة أصحاب المنابر أن يخطبوا يوم الجمعة ومعهم العصي يتوكئون عليها في قيامهم وهو الذي رأينا وسمعنا

Ibnu Syihab berkata: “Dan Beliau (Nabi) apabila berdiri berkhuthbah beliau mengambil tongkat maka beliau menyandarkan tangan di atasnya dan beliau dalam keadaan berdiri di atas mimbar, kemudian itu dilakukan Abu bakr, Umar, Utsman, melakukan itu. Dan Imam Malik berkata; “Itu bagian dari yang disunnahkan bagi para Imam yang naik mimbar agar mereka berkhuthbah pada hari jum’at disertai dengan tongkat tempat mereka menyandarkan tangannya saat mereka berdiri, dan amalan inilah yang telah lihat dan dengar”.

Selain itu, menyandarkan tangan pada tongkat ketika khuthbah dapat membantu khathib berdiri tegak dan menjadikan tangannya tidak serampangan berpindah ke sana kemari saat berkhuthbah.[2]

Pendapat Kedua : Makruh hukumnya membawa tongkat dan bersandar tangan di atasnya, dan ini adalah pendapat yang Mu’tamad dalam Madzhab Al-Hanafiyyah.

Disebutkan dalam fatwa al-Tatarikhiyyah (2/61) ;

وإذا خطب متكئاً على القوس أو على العصا جاز ، إلا أنه يكره ؛ لأنه خلاف السنة

 “Dan apabila imam berkhuthbah menyandarkan tangan di atas busur atau tongkat maka boleh, hanya saja hal itu hukumnya Makruh, karena menyelisihi Sunnah”.

Disebutkan dalam Al-Fatawa Al-Hindiyyah (1/148) :

ويكره أن يخطب متكئا على قوس أو عصا , كذا في الخلاصة , وهكذا في المحيط

“Dan Makruh berkhuthbah dalam keadaan bersandar tangan di atas busur, atau tongkat, demikian disebutkan dalam Al-Khulashah, dan juga dalam Al-Muhith”.

Pendapat Ketiga : Tidak disunnahkan dengan sengaja dan tanpa ada hajat membawa tongkat apabila khuthbah tersebut dilakukan di atas mimbar, namun jika ada hajat atau di atas tanah tanpa mimbar maka disunnahkan.

Pendapat ini adalah pendapat Al-Albaniy- rahimahullah- dan juga Fatwa Lajnah Da’imah. Disebutkan dalam Fatwa Lajnah Da’imah Vol. 2 (7/109-110) :

وأما إمساك الخطيب العصا أو نحوها مما يتكئ عليه فإنه يشرع ذلك إذا لم يكن فيه منبر؛ ليكون ذلك عونًا له في رباطة جأشه ولتقليل حركته أما بعد اتخاذ المنبر فلا يسن اتخاذ العصا ونحوها؛ لأنه لم يحفظ عن النبي صلى الله عليه وسلم بعد اتخاذ المنبر أنه كان يرقاه بسيف أو قوس أو عصا ونحو ذلك، إلا إذا احتاج الخطيب إلى اتخاذ العصا للاعتماد عليها لكبر ونحوه فلا مانع منه

“Adapun khtahib  memegang tongkat atau semisalnya yang dijadikan tempat untuk menyandarkan tangan di atasnya maka hal itu disyariatkan apabila tidak ada mimbar, hal itu menjadi penolong untuk dirinya dalam menenangkan diri (menghilangkan demam panggung, pent.) dan untuk membatasi gerakan tangannya.

Adapun setelah dibuatnya mimbar maka tidak disunnahkan membawa tongkat dan semisalnya, karena tidak ada riwayat dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- setelah dibuatnya mimbar Beliau naik mimbar membawa pedang, busur, atau tongkat, dan semisalnya, kecuali apabila khathib tersebut memerlukan tongkat untuk bersandar karena usia yang telah tua dan semisalnya, maka tidak dalil yang melarangnya.”.

Al-Muhaddist Al-Albaniy-rahimahullah- dalam Silsilah Ahadist al-Dla’ifah berkata:

 وجملة القول : أنه لم يرد في حديث أنه صلى الله عليه وسلم كان يعتمد على العصا أو القوس وهو على المنبر ، فلا يصح الاعتراض على ابن القيم في قوله : أنه لا يحفظ عن النبي صلى الله عليه وسلم بعد اتخاذه المنبر أنه كان يرقاه بسيف ولا قوس وغير ، بل الظاهر من تلك الأحاديث الاعتماد على القوس إذا خطب على الأرض

 “Kesimpulan masalah ini ; “Sebenarnya tidak ada hadits menyebutkan bahwa Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam– berpegang pada tongkat atau busur dalam keadaan beliau di atas mimbar, maka bantahan terhadap Ibnulqayyim atas pendapatnya yang menyebutkan bahwa tidak ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah dibuatnya mimbar beliau naik ke atasnya dengan membawa pedang, busur, dan lainnya, akan tetapi yang nampak dari hadits-hadits tersebut adalah bersandar pada busur apabila beliau berkhuthbah di atas tanah”. (2/381)

Demikian, dan di antara ketiga pendapat tersebut yang lebih nampak bagi penulis adalah pendapat mayoritas ulama seperti yang ada pada pendapat pertama, selain haditsnya dinilai Hasan oleh banyak ulama, juga ternyata telah diamalkan sejak dahulu kala oleh kaum Salaf.

Namun perlu diingat bahwa tongkat yang dimaksudkan dalam persoalan ini adalah tongkat yang panjangnya mencapai sekitar pusar sang khathib sehingga bisa meletakkan tangan di atasnya, adapun tongkat yang panjangnya melebihi tinggi khathib atau sama dengan tingginya khathib seperti yang banyak terjadi di sebagian masjid maka tidak termasuk dalam bahasan ini, sebab tongkat tersebut tidak lagi berfungsi sebagai tempat meletakkan tangan saat berkhuthbah, melainkan menjadi beban sang khathib karena ia harus meletakkannya di samping dadanya saat membaca isi khuthbahnya dan ini termasuk ke dalam perkara membebankan diri dengan sesuatu yang tidak dianjurkan. Wallahu A’lam.  

 


 

[1] Dorat.net

[2] Dorar.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.