Hukum Jual Beli Ayam Tiren Untuk Pakan Lele

 

Sebagian orang membeli ayam tiren (mati kemarin) untuk dijadikan pakan lele yang ia ternak, bagaimanakah hukumnya jual beli tersebut.?

Berikut penjelasannya. Bismillah

Ayam Tiren, atau ayam mati kemarin hakikatnya adalah bangkai (Maitah). Dan semua bangkai diharamkan, Allah berfirman

حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير

“Telah diharamkan atas kalian bangkai dan darah dan daging babi”. (QS; Al-Maidah 3)

Allah juga berfirman :

إنما حرم عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل به لغير الله

“Sesungguhnya yang telah diharamkan atas kalian hanyalah bangkai dan darah, dan daging babi, dan hewan-hewan yang disembelih kepada selain Allah”. (Qs: Al-Baqarah 173)

Al-Bujairimy – salah seorang Fuqaha Madzhab al-Syafi’iyyah – berkata:

والميتة ما زالت حياتها بغير ذكاة شرعية فيدخل في الميتة ما لا يؤكل إذا ذبح ، وكذا ما يؤكل إذا اختل فيه شرط من شروط التذكية كذبيحة المجوسي والمحرم للصيد وما ذبح بالعظم ونحوه

“Bangkai adalah setiap hewan yang hidupnya hilang (mati) tanpa melalui penyembelihan yang sesuai syariat, sehingga masuklah ke dalam kategori bangkai setiap hewan yang tidak boleh dimakan apabila disembelih,demikian pula hewan yang boleh dimakan (namun ketika) apabila syarat-syarat penyembelihannya kurang, seperti sembelihan kaum Majusi, dan hewan yang haram diburu, dan hewan yang disembelih dengan tulang, dan semisalnya.”[1]

Dan sesuatu yang telah diharamkan Allah, maka harganya pun haram, Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam sabdanya :

إن الله تعالى إذا حرم شيئا حرم ثمنه

“Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila telah mengharamkan sesuatu, Allah haramkan juga harganya”.

(Hadits riwayat Addaruquthniy dan Al-Baihaqiy dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma, Syaikh Al-Albaniy menshahihkannya dalam Ghayatul Maram Fi Takhriji Ahaditsil Halali Wal Haram No. 318 )

Dengan demikian maka ayam tiren tidak boleh dijual belikan, walau pun digunakan untuk pakan lele, dan uang yang didapat dari jual beli tersebut haram. Keharaman menjual belikan bangkai juga disebutkan dengan sangat jelas oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام

“Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah mengharamkan khamr, dan bangkai, dan babi, dan berhala”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbaliy Rahimahullah berkata :

ولا يجوز بيع الخنزير ولا الميتة ولا الدم قال ابن المنذر : أجمع أهل العلم على القول به وأجمعوا على تحريم الميتة والخمر وعلى أن بيع الخنزير وشراءه حرام

“Dan tidak boleh menjual-belikan babi, tidak juga bangkai, dan darah, Ibnul Mundzir berkata: “Ahli Ilmu telah ber-Ijma’ berpendapat dengannya dan mereka telah ber-Ijma’ atas keharaman bangkai dan khamr, dan atas menjual dan membeli babi haram”. (Al-Mughniy 6/358 / cet. Ke-5 Alamul-Kutub – Saudi Arabia)

Mungkin mereka menyangka dari pada bangkai ayamnya dibuang percuma dan sia-sia lebih baik dijual walau pun harganya murah. Namun ketahuilah, alasan ini tidak dapat diterapkan dalam masalah ini, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selain mengharamkan jual beli bangkai, juga melarang memanfaatkan bangkai menjadi apa pun, Beliau bersabda:

لا تنتفعوا من الميتة بشيء

“Jangan kalian memanfaatkan bangkai untuk apa pun”

(Hadits Shahih, telah di-Takhrij oleh Al-Albaniy dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 3133)

Demikian, maka hendaknya seorang meninggalkan jual beli Ayam Tiren tersebut, karena seorang muslim dituntut agar menerima ketentuan hukum yang datang dari Nabinya sehingga barulah imannya sempurna di sisi Allah

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

“Maka tidaklah – demi Rabb-mu – tidaklah mereka beriman sampai mereka menghukumkan dirimu dalam masalah-masalah yang mereka perseterukan di antara mereka kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka kesusahan dengan keputusan yang telah engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan berserah.” (Qs; Annisa’ 65)

Seorang muslim hendaknya menjauhkan segala rasa risau dan khawatir, sebab meninggalkan yang haram karena bertakwa kepada Allah keutamaannya akan diberikan ganti yang lebih baik dari apa yang telah ditinggalkannya , Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إنك لن تدع شيئا اتقاء الله إلا أعطاك الله خيرا منه

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan memberikanmu yang lebih baik darinya”. (HR: Imam Ahmad No. 20739 dalam Al-Musnad dan dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Arna’uth beserta timnya.)

Musa Abu ‘Affaf. BA.


[1] Hasyaiah al-Bujairmiy (1/311)

Comments

comments