Hukum Jabat Tangan Wanita Dengan Dilapisi Kain

Sebagian orang berjabat tangan dengan lawan jenis yang tidak halal untuk dia sentuh dengan cara melapisi tangannya dengan kain, atau pakaian. Dan ini sering dilakukan oleh kaum perempuan, wabilkhususnya ketika mereka berjabat tangan dengan tokoh Agama seperti Kyai ataupun Ustadz. Mereka menyangka hal ini sebagai jalan keluar dari larangan berjabat tangan dengan lawan jenis yang hubungannya belum halal. Apakah anggapan ini benar?

Ketahuilah, Imam Ahmad menentang dengan tegas hal ini sebagaimana disebutkan Ibnulmuflih – Rahimahullah – :

قال محمد بن عبد الله بن مهران إن أبا عبد الله سئل عن الرجل يصافح المرأة قال : لا وشدد فيه جدا قلت : فيصافحها بثوبه قال : لا

Muhammad bin Abdillah bin Mahran berkata; “sesungguhnya Abu Abdillah (Imam Ahmad) pernah ditanya tentang seorang lelaki berjabat tangan dengan perempuan, beliau berkata: “Jangan”, dan beliau (mengingkari dengan) keras sekali di dalamnya. Aku berkata kepadanya: “Maka apakah boleh berjabat tangan dengan perempuan dengan pakaiannya?, beliau menjawab ; “Tidak boleh.”[1]

Syaikh ‘Amr bin Abdilmun’im Salim dalam Tahqiq beliau atas kitab Al-Qublah Wal Mu’anaqah menjelaskan, bahwa berjabat tangan dengan lawan jenis dari bawah pakaian adalah perkara Bid’ah[2]

Namun untuk mendasari dan melonggarkan masalah ini, barangkali ada yang berdalil dengan riwayat Al-Thabraniy dalam Mu’jamulkabir :

عن معقل بن يسار قال : كنت يوم بيعة الرضوان رافعا غصنا من أغصان الشجرة ، عن رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يبايع الناس ، لم يبايعهم على الموت ، بايعهم على أن لا يفروا ، وكان يصافح النساء من تحت الثوب

“Dari Ma’qil bin Yasar beliau berkata : “Pada hari Baiaturriidlwan aku mengangkat dahan ranting pepohonan dari kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedangkan beliau tengah membaiat para shahabat, Beliau tidak membaiat mereka di atas kematian, namun Beliau membaiatnya di atas tidak lari dari medan jihad, dan beliau menjabat tangan perempuan dari bawah pakaian.”[3]

Hadits ini tidak Shahih, Syaikh ‘Amr bin Mun’im menilainya sebagai hadits yang Munkar, dan tidak sah berdalil dengannya, karena dalam Sanadnya terdapat dua periwayat yang bermasalah, yaitu ‘Itab bin Harb yang dinilai Imam Bukhariy sebagai periwayat yang sangat lemah, dan Al-Mudlo’ Al-Khazzaz, adalah periwayat yang Majhulul’Ain.

Selain Sanadnya yang sangat lemah, Matn atau narasi haditsnya pun Munkar karena narasi sebenarnya yang datang dari Ma’qil bin Yasar adalah larangan berjabat tangan dengan perempuan, sedangkan dalam hadits ini menceritakan hal yang sebaliknya.[4]

Salah Satu Pendapat Dalam Madzhab Al-Syafi’iyyah

Sebagian tokoh kyai atau lainnya membiarkan penomena jabat tangan dengan lapis kain terjadi tanpa pengingkaran, terutama pada hari-hari Ied, barangkali karena adanya pendapat atau Wajh dalam Madzhab Al-Syafi’iyyah yang membolehkannya.

Arramliy – Rahimahullah – dalam Nihayatulmuhtaj (7/191/Darulkutub Al’ilmiyyah)  menyebutkan:

ويجوز للرجل دلك فخذ الرجل بشرط حائل وأمن فتنة، وأُخِذَ منه حِلُّ مصافحة الأجنبية مع ذينك

“Dan boleh bagi seorang lelaki memijat paha lelaki lain dengan syarat terdapat penghalang (lapis) dan aman dari fitnah, dan dari ketetapan ini diambil kehalalan menjabat tangan perempuan Ajnabiyyah (bukan istri dan Mahram) – jika – dengan lapis dan aman dari fitnah.”

 Syaikh Sulaiman Al-Bujairamiy mengatakan :

 وتسن مصافحة أي عند اتحاد الجنس ، فإن اختلف فإن كانت محرمية أو زوجية أو مع صغير لا يشتهى أو مع كبير بحائل جازت من غير شهوة ولا فتنة

“Dan disunnahkan berjabat tangan, yakni ketika jenis kelamin dari yang bersalaman itu satu tidak berbeda, maka apabila berbeda, maka (dilihat keadaannya sebagai berikut:) jika hubungan keduanya adalah hubungan Mahram, atau pasangan suami istri, atau (berjabat tangan) dengan anak kecil yang tidak disyahwati, atau dengan orang yang tua dengan penghalang (lapis) maka boleh (jika) dengan tanpa syahwat dan tidak ada fitnah.” [5]

Pendapat ini di dasari hanya dengan mengembangkan hukum bolehnya memijat paha lelaki dengan lapis, kemudian diturunkan ke masalah jabat tangan dengan perempuan, karena paha lelaki adalah aurat, namun demikian tetap boleh memijatnya jika dengan lapis dan jika ada kebutuhan untuk melakukannya, maka tangan perempuan pun demikian, tidak ada bedanya antara paha lelaki dan tangan perempuan, sama sama aurat yang boleh disentuh jika dengan lapis, ada kebutuhan, serta aman dari fitnah. Demikian ringkasnya nalar fiqh atas pendapat ini.

Maka sebaik-baik hal yang harus kita teladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah berjabat tangan dengan perempuan, baik dalam keadaan dilapisi atau pun tanpa dilapis, bahkan mereka sendiri Madzhab Al-Syafi’iyyah sangat ketat dalam urusan menyentuh perempuan, mereka sebelumnya telah menetapkan bahwa menyentuh lebih berbahaya dari memandang. Wallahu A’lam.

 


[1] Al-Adabusy-Syar’iyyah (2/257)

[2] Al-Qublah Walmu’anaqah Wal Mushofahah (1/18)

[3] Hadits Riwayat Al-Thabraniy dalam Mu’jamulkabir (20/201)

[4] Demikian ringkasan ucapan dari Syaikh Amr bin Mun’im Salim dalam muqaddimah kitab Al-Qublah wal Mu’anaqah (1/18-19)

[5] Hasyiyah Al-Bujairimiy ‘Alal Khathib (3/386) Darulfikr – Beirut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.