Hukum Imsak Sebelum Subuh

Masalah jadwal Imsak sejak lama telah menjadi polemik, antara yang menilainya Bid’ah dan tidak. Penting bagi seorang muslim mengetahui masalah ini dengan baik, agar tidak terjadi salah kaprah dan menjadi runcing ditengah masyarakat.

Adalah yang penting diketahui dalam masalah ini adalah kapan waktu awal puasa dimulai, dan jawabannya  adalah awal waktu shalat subuh, dalilnya sebagai berikut ; Allah Ta’la berfirman;

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. (Q.S Al-Baqarah:187)

Nabi ﷺ pernah bersabda;

كلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم، فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر

“Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum azan, maka sesungguhnya dia tidak azan kecuali fajar (subuh) telah terbit”. (Muttafaq ‘Alaihi)

Nabi ﷺ juga bersabda:

الفجر فجران فجر يحرم فيه الطعام و تحل فيه الصلاة و فجر تحرم فيه الصلاة و يحل فيه الطعام

“Fajar itu ada dua, fajar yang haram makan di dalamnya dan halal shalat di dalamnya, dan fajar  (Kadzib/pertama) yang shalat (subuh) haram di dalamnya dan halal di dalamnya makanan” (HR: Ibnu Khuzaimah , Syaikh Al-Albani Rahimahullah menilainya Shahih dalam Silsilah al-Shahihah No. 693)

Dan mayoritas ulama telah bersepakat bahwa awal puasa dimulai sejak fajar subuh tiba, Imam Al-Nawawi – rahimahullah – berkata;

يدخل في الصوم بطلوع الفجر الثاني وهو الفجر الصادق

“Masuk ke dalam puasa dengan terbitnys fajar yang kedua, yaitu fajar Shadiq”. (Majmu’ Syarhul Muhadzzab 6/210)

Beliau juga berkata, dan masih dalam halaman yang sama;

هذا الذى ذكرناه من الدخول في الصوم بطلوع الفجر وتحريم الطعام والشراب والجماع به هو مذهبنا ومذهب أبى حنيفة ومالك وأحمد وجماهير العلماء من الصحابة والتابعين فمن

بعدهم قال ابن المنذر وبه قال عمر بن الخطاب وابن عباس وعلماء الامصار قال وبه نقول

“Apa yang telah kami sebutkan ini, mulai masuk puasa dengan terbitnya fajar dan pengharaman makan dan minum dan bersenggama dengannya, ialah madzhab kami, dan madzhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan mayoritas ulama dari kalangan shahabat dan generasi Tabi’in, dan generasi ulama setelah mereka, Ibnul Mundzir berkata; dan dengannya Umar bin Al-Khathhab berkata, dan Ibnu ‘Abbas, dan ulama dari berbagai negeri, Ibnu Mundzir berkata; dan dengannya kami berpendapat”.(Majmu’ Syarhul Muhadzzab 6/210)

Maka jika telah jelas dan terang waktu mulai berpuasa, yaitu dengan terbitnya fajar subuh, – yakni adzan yang kedua jika suatu masjid mengamalkan adzan dua kali, – tentu tidak membutuhkan lagi waktu lain sebagai acuan untuk mulai menahan diri dari makan dan minum – dalam hal ini adalah waktu Imsak beberapa saat sebelum adzan subuh datang – meskipun dengan alasan Ihtiyath atau berhati-hati, oleh karena itu Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – mengecam amalan sebagian orang pada zamannya yang memajukan waktu adzan subuh pada bulan ramadlan beberapa saat dengan alasan kehati-hatian, beliau berkata:

  من البدع المنكرة ما أحدث في هذا الزمان من إيقاع الأذان الثاني قبل الفجر بنحو ثلث ساعة في رمضان واطفاء المصابيح التي جعلت علامة لتحريم الأكل والشرب على من يريد الصيام زعما ممن أحدثه أنه للاحتياط في العبادة

“Termasuk Bid’ah yang mungkar adalah perkara baru yang dilakukan di zaman ini dari menempatkan azan yang kedua sebelum waktu fajar seukuran sepertiga jam dalam bulan ramadlan dan mematikan lampu-lampu yang dijadikan sebagai tanda untuk pengharaman makan dan minum atas orang-orang yang hendak berpuasa dengan mengira dari perkara baru yang mereka perbuat adalah untuk kehati-hatian dalam ibadah”. (Fathulbari Syarh Shahih Al-Bukhari 4/199)

Apa yang ingkari oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – ini jika diterapkan pada praktik imsak yang tersebar saat ini maka tidaklah berbeda, di mana imsak telah dijalankan sebagai satu penanda untuk menghentikan makan dan minum bagi yang akan berpuasa sebagai bentuk kehati-hatian dan bersiap masuk ke waktu puasa, bentuk kesamaannya ada pada hal sama-sama memajukan waktu untuk menahan diri dari makan dan minum sebelum subuh.

Alasan Ihtiyath atau kehati-hatian juga tidak dapat diterima karena bertentangan dengan hukum bolehnya makan dan minum atas orang yang syakk (ragu) dengan terbitnya fajar , Imam Annawawi – rahimahullah – berkata;

ولو شك في طلوع الفجر جاز له الاكل والشرب والجماع وغيرها بلا خلاف حتى يتحقق الفجر

“Dan jika ia ragu dalam menentukan terbitnya fajar, boleh baginya makan dan minum dan senggama dan selainnya, (kebolehan ini) dengan tanpa ada perselisihan sampai benar-benar ia dapat memastikan fajar”.

Di antara dalil yang Beliau kemukakan dalam masalah ini adalah Atsar dari Ibnu ‘Abbas – Radliyallahu ‘Anhuma,-  beliau berkata;

كل ما شككت حتى يتبين لك ” رواه البيهقى باسناد صحيح

“makanlah selama kamu dalam keadaan ragu sampai (waktu subuh) benar-benar jelas bagimu”. Imam Annawawi berkata; “Atsar ini telah diriwayatkan Al-Baihaqi dengan Sanad yang Shahih”. (Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab 6/211).

Dan Atsar ini secara jelas sekaligus menepis pemberlakuannya waktu Imsak, karena makan dan minum tetap beliau perintahkan sampai fajar subuh benar-benar nampak. Dan jika makan dan minum tetap boleh dalam keadaan ragu akan terbit ataukah belumnya fajar subuh, tentu saja usaha kehati-hatian tidak makan dan minum (Imsak) di sini menjadi percuma, karena jika ia makan dan minum namun ternyata subuh telah datang , puasanya tetap sah. Wallahu A’lam.

Dari itulah melakukan Imsak sebelum subuh dipandang tidak perlu dan tidak sunnah, sebab waktu awal untuk berpuasa telah jelas, menambahkannya dengan beberapa saat sebelum subuh merupakan suatu pemberatan yang tidak ada dalilnya, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin – rahimahullah – berkata :

هذا من البدع ، وليس له أصل من السنة ، بل السنة على خلافه وقال وهذا الإمساك الذي يصنعه بعض الناس زيادة على ما فرض الله عز وجل فيكون باطلاً وهو من التنطع في دين الله

“Ini termasuk bid’ah dan tidak memiliki dalil dari Assunnah, malahan Assunnah (itu sendiri) bertentangan dengannya.”  Dan beliau juga berkata; “Dan Imsak ini, yang telah dibuat oleh sebagian orang merupakan penambahan atas apa yang Allah telah wajibkan maka jadilah ia perkara yang batil, dan ia termasuk ke dalam bentuk Tanatthu’ (berlebihan) dalam beragama.” (Majmu’ Fatawa Warasa’il 9/292).

Namun jika dalam keadaan tidak mengaitkan diri dengan waktu Imsak yang ada, kemudian ia tidak makan dan minum karena memang sudah tidak berselera dan hendak bersiap shalat subuh, maka tentu hal ini bukan perkara Bid’ah, karena makan dan minum atau tidak, hukumnya mubah selama fajar subuh belum terbit, dan inilah yang dimaksud dalam sebuah hadits;

عن أنس بن مالك أن نبي الله صلى الله عليه وسلم وزيد بن ثابت تسحرا فلما فرغا من سحورهما قام نبي الله صلى الله عليه وسلم إلى الصلاة فصلى قلنا لأنس كم كان بين فراغهما من سحورهما ودخولهما في الصلاة قال قدر ما يقرأ الرجل خمسين آية

Dari Anas bin Malik sesungguhnya Nabi Allah ﷺ bersama Zaid bin Tsabit pernah sahur berdua, manakala mereka telah usai dari santap sahurnya, Nabi ﷺ berdiri menuju shalat, maka Beliau pun shalat”. Kami bertanya kepada Anas; “Berapa lama jarak antara selesainya mereka berdua dari sahur mereka ke masuknya mereka berdua ke dalam shalat?. Anas berkata; “Seukuran waktu seorang membaca Al-Qur’an lima puluh (50) ayat”. (HR: Bukhari).

Jeda waktu lima puluh Ayat dalam hadits ini adalah waktu yang tidak terdapat di dalamnya aktifitas makan dan minum, tapi bukan karena waktu tersebut adalah waktu wajib imsak, tapi semata karena hendak bergegas untuk shalat subuh, seandainya seorang ingin minum saat itu maka tidak terlarang, oleh karena itu para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil disunnahkannya mengakhirkan waktu sahur, bukan sebagai dalil disunnahkan imsak.

Dari itu Imam Attirmidzi – rahimahullah – memberikan judul untuk hadits ini dengan keterangan;

باب ماجاء في تأخير السحور

“Bab hadits yang datang dalam mengakhirkan sahur”. (Al-Jami’ Attirmidi )

Imam Al-Baghawi – rahimahullah – berkata;

فيه دليل على استحباب تأخير السحور للصائم ، وعلى تعجيل الصبح في أول الوقت

 

Dalam hadits ini ada dalil atas disunnahkannya mengakhirkan sahur untuk orang yang berpuasa dan atas (disunnahkannya) menyegerakan shalat subuh di awal waktu.” (Syarh Assunnah 2/198 ).

Demikian, semoga bermanfaat, Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.