Hukum Haram bagi yang Mendekap Kaki saat Khothbah Jum’at

Ihtiba’ atau Hubwah secara mudahnya adalah duduk dengan posisi mengangkat dengkul sehingga betis menempel terlipat ke paha dan paha menempel ke perut kemudian kedua tangan mendekapnya.

Posisi duduk ini disebutkan dalam hadits sebagai posisi yang terlarang untuk dilakukan khususnya ketika imam salat Jum’at berkhothbah, dalam hadis disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melarang akan hal itu:

نهى عن الحبوة يوم الجمعة والإمام يخطب

“Beliau (Nabi) telah melarang dari Ihtiba’ pada hari Jum’at ketika imam tengah berkhothbah.” (HR: Abu Dawud dan al-Tirmidziy)

Syaikh Shalih al-Minajjid hafizhahullah menjelaskan,

وقد اختلف أهل العلم في هذا الحديث ، فمنهم من حَسَّنه كالشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح الترمذي” ، وكذا محققو مسند الإمام أحمد . ومنهم من ضعفه كالنووي في “المجموع” (4/592) وابن العربي في “عارضة الأحوزي” (1/469) وابن مفلح في “الفروع” (2/127) . قال النووي في “المجموع” بعد أن ذكر أن الترمذي قد حَسَّن هذا الحديث ، قال : “لكن في إسناده ضعيفان ، فلا نسلم حسنه” انتهى

“Ulama berbeda pendapat terkait derajat hukum hadis ini, di antara sebagian mereka ada yang menilainya hasan seperti Syaikh Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah dan oleh para Muhaqqiq Musnad Imam Ahmad.

Sebagian lainnya menilai hadis ini dha’if atau lemah seperti Imam al-Nawawiy rahimahullah dalam Al-Majmu’ (4/592) dan Ibnul ‘Arabiy dalam ‘Aridlatul Ahwadziy (1/469) dan Ibnu Muflih dalam Al-Furu'(2/127).

Setelah menyebutkan bahwa Imam al-Tirmidziy menilai hadis ini hasan, Imam al-Nawawiy rahimahullah berkata dalam al-Majmu’, “Akan tetapi dalam sanad hadis ini ada dua periwayat hadis yang lemah, maka kami tidak dapat menerima derajat hasanannya atas hadis ini”.[1]

Apabila hadis ini lemah, maka pembicaraan menjadi lebih ringan untuk menetapkan hukum Ihtiba’ adalah mubah, namun jika pun sahih, maka para ulama membawa larangan Ihtiba’ dalam hadis ini ke makna makruh biasa. Berikut kami nukilkan ringkasan pendapat ulama akan hal itu:

Hukum duduk dengan posisi Ihtiba’ saat imam berkhuthbah pada shalat jum’at adalah mubah, dan ini merupakan madzhab Jumhur atau mayoritas ulama dari empat madzhab. Dan dengan itulah kebanyakan ulama berpendapat, dan merupakan pendapat dari sebagian ulama dari generasi salaf, dan sebagai madzhab dalam madzhab al-zhahiriyyah. Dan telah dihikayatkan Ijma’ atas itu.

Sementara dalil yang menunjukkannya mubah tidak haram ada beberapa. Pertama adalah beberapa Atsar atau riwayat hadis dari para shahabat di antaranya riwayat dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa beliau (Ibnu ‘Umar) dulu duduk dalam posisi Ihtiba’ sedangkan imam sedang berkhothbah.

Kedua karena tidak kokohnya larangan Ihtiba’ dari Nabi ﷺ  selesai.[2] Demikian.

Imam Al-Baihaqiy rahimahullah salah seorang ulama besar madzhab al-Syafi’iy berkata,

والذي روي في حديث معاذ بن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن الحبوة يوم الجمعة : فهو إن ثبت فلِما فيه من اجتلاب النوم ، وتعريض الطهارة للانتقاض ، فإذا لم يخش ذلك فلا بأس بالاحتباء. انتهى

“Dan hadis yang diriwayatkan Mu’adz bin Anas bahwa Nabi ﷺ pernah melarang Hubwah pada hari Jum’at , maka jika dia sahih maka karena di dalamnya dapat mendatangkan tidur, dan membuka peluang thaharah batal, maka apabila hal itu tidak dikhawatirkan terjadi maka tidak ada masalah dengan posisi Ihtiba’.” [3]

Adapun sebagian poster dakwah yang hanya mencantumkan hadis larangan Ihtiba’ di atas lalu kemudian menambahkannya dengan pemahaman sendiri tanpa merujuk keterangan para ulama salaf mau pun khalaf, maka adalah suatu kecerobohan dan ketergesa-gesaan, yang pada ujungnya dapat berakibat pada pengingkaran terhadap suatu perbuatan yang tidak pernah diingkari ulama salaf.  Wallahu A’lam.


Referensi:

[1] Lihat keterangan Syaikh Al-Munajjid ini dalam web fatwa yang beliau asuh. Klik

[2] Ringkasan hukum ini kami nukil dari dorar.net . klik

[3] Ma’rifatussunan Wal-Atsar (1814)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.