Hukum Hadiah Al-Fatihah Ke Nabi

Spread the love

Al-Faatihah !! demikianlah kira-kira kalimat yang kerap dijadikan penutup do’a, dimana sebelumnya pembaca do’a memulaikan doanya dengan pengantar agar bacaan Al-Fatihah tersebut pahalanya diperuntukkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nah bagaimana sebenarnya hal ini menurut Ulama? Mari kita pikirkan bersama:

Ulama berbeda pendapat dalam hukum menghadiahkan pahala amalan-amalan untuk Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, perbedaan tersebut terbagi menjadi dua pendapat.

Pendapat Pertama : “Tidak boleh, karena tidak pernah ada petunjuk izin (perintah) dari Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam akan hal itu, apabila dilakukan maka menimbulkan efek kurang pas terhadap ketinggian marabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu sekiranya akan muncul anggapan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam butuh kepada sumbangan pahala dari ibadah-ibadah orang saleh. Karena sebenarnya pahala amal saleh semua ummat ini berada dalam lembaran amal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab Beliau adalah penyebab hidayah yang paling awal, sehingga meniatkan pahala ibadah untuk beliau merupakan bentuk usaha terhadap sesuatu yang memang telah terhasilkan, dari itu tidak ada hajat untuk melakukannya lagi.

Imam Annawaiy Asy-Syafi’I rahimahullah berkata:

إهداؤه – أي ثواب قراءة القرآن – للنبي صلى الله عليه وسلم لم ينقل فيه أثر ممن يُعتد به، بل ينبغي أن يُمنع منه؛ لما فيه من التهجم عليه فيما لم يأذن فيه، مع أن ثواب التلاوة حاصل له بأصل شرعه صلى الله عليه وسلم، وجميع أعمال أمته في ميزانه، وقد أمرنا الله بالصلاة عليه، وحث صلى الله عليه وسلم على ذلك، وأمرنا بسؤال الوسيلة والسؤال بجاهه، فينبغي أن يتوقف على ذلك، مع أن هدية الأدنى للأعلى لا تكون إلا بالإذن

“Penghadiahannya – yaitu pahala bacaan Al-Qur’an – untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah ada nukilan Atsar (hadits atau ucapan Salaf) dari pihak yang dapat diperhitungkan keberadaannya, akan tetapi seyogyanya hal itu dilarang, karena dalam hal itu ada bentuk Tahajjum (menyerang, maksudnya melakukan tindakan yang tidak pernah diizinkan Nabi), sedangkan pahala Tilawah telah terhasilkan untuknya (Nabi) dengan sebab asal muasal pensyari’atannya (Nabi) Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan seluruh amal saleh ummatnya berada di dalam timbangannya. Dan benar-benar Allah telah memerintahkan kita agar bershalawat atasnya, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menganjurkan untuk melakukan (bershalawat) tersebut, dan telah memerintahkan kita meminta Wasilah (perantara) dan meminta dengan Jaah-nya, maka seyogyanya diberhentikan (dibatasi) dalam hal tersebut saja. Bersama dengan itu juga, bahwa hadiah dari (pihak) yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi tidak ada kecuali dengan adanya izin.”

Pendapat Imam Annawawiy rahimahullah di atas dibenarkan oleh Ibnu Qadli Syahbah Rahimahullah, beliau berkata:

وهو المختار، والأدب مع الكبار من الأدب والدين، وأعمال الأمة من الواجبات والمندوبات في صحيفته صلى الله عليه وسلم

“Dan dia inilah pendapat yang dipilih, dan merupakan Adab terhadap para pembesar adalah bagian dari adab dan Agama, dan semua amalan ummat ini baik yang berbentuk wajib dan Mandub (sunnah) tercatat dalam lembaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Imam As-Sakhawiy rahimahullah juga telah menukil dari gurunya, yaitu Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy Rahimahullah bahwa beliau pernah ditanya tentang orang yang membaca Al-Qur’an kemudian berkata dalam doanya: “Ya Allah jadikanlah pahala dari yang aku baca sebagai tambahan dalam kemuliaan Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam“, beliau menjawab :

هذا مخترع من متأخري القراء، لا أعلم لهم سلفاً فيه. انتهى

“Ini adalah amalan yang dibuat-buat tanpa ada dasarnya (Mukhtara’) oleh para Qurra’ yang ada diera belakangan, dan aku tidak mengetahui ada salaf bagi mereka di dalamnya”. Demikian dinukil dari Mawahibul-Jalil 2/545.

Dan inilah yang Hak, bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al-Fatihah atau Ibadah lainnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah perbuatan yang tidak pernah ada teladannya dari generasi Salaf, maka sebaik-baik yang dikuti adalah cara beragamanya para Salaf.

Al-Khathib Asy-Syarbiniy rahimahullah berkata :

منع الشيخ تاج الدين الفزاري منه، وعلله بأنه لا يتجرأ على الجناب الرفيع إلا بما أذن فيه، ولم يأذن إلا في الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم وسؤال الوسيلة” انتهى

“Syaikh Tajuddin Al-Fazariy telah melarang amalan tersebut, dan beliau memberikan alasan bahwa tidak boleh seorang bersikap berani (tanpa aturan) terhadap ketinggian Nabi kecuali dengan apa apa yang telah diidzinkan melakukannya.” Dan tidak diidzinkan kecuali dalam bershalawat kepadaNya shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mendoakannya Al-Wasilah”. Demikian dari Mughnil-Muhtaj (4/111.)

Seorang Ulama dari Madzhab Al-Malikiyyah, Al-‘Allamah Addardir berkata :

“صرح بعض أئمتنا بأن قراءة الفاتحة مثلاً وإهداء ثوابها للنبي صلى الله عليه وسلم مكروه” انتهى

“Sebagian imam-imam kami telah menjelaskan dengan jelas bahwa membaca Al-Fatihah –misalnya- dan menghadiahkan pahalanya untuk Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam hukumnya Makruh”. Demikian dari Asy-Syarhul Kabir Ma’a Hasyiyatuddasuqiy (2/10.)

Pendapat Kedua : Al-Jawaz (boleh), mereka berdalil dengan riwayat dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma bahwa beliau pernah Umrah untuk Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah wafatnya Nabi. Dan dengan alasan tidak ada dalil yang melarang, yang ada bahkan dalil yang menunjukkan atas bolehnya yaitu seperti riwayat-riwayat yang membolehkan haji dan puasa untuk Mayyit.

Pendapat bolehnya menghadiahkan pahala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berasal dari pendapat sebagian kelompok ulama yang datang belakangan (Muta’akhhirin) seperti Taqiyyuddin Assubky, Ibnu Hajar Al-Haitsamiy, Arramliy, dan Al-Qalyubiy.[1] Dari itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

أما ما ذهب إليه هذا المسئول عنه مِن إهداءِ ثواب القُرباتِ إلى النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فقد ذهب إليه طائفة من المتأخرين من الفقَهاء والعُبَّاد

“Adapun pendapat yang ditanyakan ini, yaitu menghadiahkan pahala ibadah kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka sebenarnya sekelompok dari kalangan Fuqaha’ dan Ahli ibadah (‘Ubbad) yang muncul belakangan telah berpendapat dengannya.” (Risalah Fi Ihda’its-tsawab Linnabiy 1/33)

Dalam hal ini Al-Khathib Asy-syarbiniy rahimahullah juga menjelaskan, beliau berkata :

جوزه بعضهم، واختاره السبكي، واحتج بأن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما كان يعتمر عن النبي صلى الله عليه وسلم عمرة بعد موته من غير وصية. وحكى الغزالي في “الإحياء” عن علي بن الموفق – وكان من طبقة الجنيد – أنه حج عن النبي صلى الله عليه وسلم حججاً، وعن محمد بن إسحاق السراج النيسابوري أنه ختم عن النبي صلى الله عليه وسلم أكثر من عشرة آلاف ختمة وضحى عنه مثل ذلك

“Sebagian dari mereka membolehkannya”, dan As-subkiy memilih pendapat ini, ia berdalil dengan perbuatan Ibnu Umar Radliyallahu ‘Anhuma, bahwa beliau dulu pernah Umrah untuk Nabi shallallahu ‘alihi wasallam  setelah Nabi wafat tanpa wasiat sebelumnya dari Nabi. Dan Al-Ghazaliy menceritakan di dalam Al-Ihya’ dari ali bin Al-Muwaffaq – beliau adalah tokoh dari Thabaqat Al-Junaid – bahwa beliau pernah melakukan haji beberapa kali untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , dan dari Muhammad bin Ishaq Assiraj An-Naisaburiy bahwa beliau pernah menyelesaikan al-Qur’an untuk Nabi sebanyak sepuluh ribu kali Khatam, dan pernah berqurban untuk Nabi seperti itu juga”. Demikian dari Mughnil Muhtaj (4/111) dan lihat Tuhfatul Muhtaj (7/76) dan Nihayatul Muhtaj (6/93).

Al-Buhutiy Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :

ويقول البهوتي الحنبلي رحمه الله: “كل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف والثلث أو الربع لمسلم حي أو ميت جاز ذلك ونفعه ذلك، لحصول الثواب له، حتى لرسول الله صلى الله عليه وسلم” انتهى

“Setiap perbuatan mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh seorang muslim dan ia menjadikan pahalanya atau sebagiannya seperti setengah, sepertiga, atau seperempat untuk seorang muslim yang masih hidup atau pun mati, hukumnya boleh dan itu bermanfaat untuknya, karena sampainya pahala untuknya, bahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun”. Demikian dari Kasy-ful Qina’ (2/147)

Namun walau pun ada di antara Fuqaha’ yang membolehkannya, akan tetapi pendapat mereka tersebut tidak dapat melebihi kebaikan yang ada pada pendapat salaf, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah beliau berkata :

ومن لا يَستحبُّ بل يراه بدعةً –وهو الصواب المقطوعُ به– يحتجُّ بأن السلف لم يكونوا يفعلون ذلك وهم أعلم بالخير وأرغبُ، وليس فعلُ [المذكورِ] وأمثالِه ولا قولُ طائفة من متأخري الفقهاء مما يُعارَضُ به أقوالُ السلف

“Dan pihak yang memandangnya tidak disukai, bahkan ia menilainya Bid’ah – dan inilah dia yang benar dan hukum diputuskan dengannya –ia berdalil bahwa Salaf tidak pernah melakukan itu sementara mereka adalah kaum yang paling mengetahui kebaikan dan paling suka dengan kebaikan, dan tidaklah amalan tersebut dan semisalnya, dan tidak pula ucapan sekelompok dari kalangan Fuqaha’ yang datang belakangan boleh menjadi penentang terhadap pendapat-pendapat Salaf”.  (Risalah Fi Ihda’its-tsawab Linnabiy 1/51)

Apa yang disebutkan oleh Imam Annawawiy Rahimahumullah , Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy dan Syaikhul Islam adalah pendapat yang hak dan inilah yang semestinya dipegang.

Lombok Barat 18 Sya’ban 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1]  seperti yang disebutkan dalam kitab 

كشف الشبهات عن إهداء القراءة وسائر القرب للأموات .

[2] Tulisan ini kami serap dari : http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2079