Hukum Gugurkan Janin Diprediksi Kuat Akan Cacat

Siapa pun akan berat tentunya menerima apabila anaknya terlahir dalam keadaan cacat atau tidak normal. Namun sebagai seorang yang beriman kepada Taqdir Allah dan keadilanNya. Insyallah beban berat itu akan terasa lebih ringan.

Hendaknya selalu meyakini sabda Sang Utusan Allah yang telah mengabari orang-orang yang beriman kebaikan atas mereka dalam setiap keadaannya:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

“Dahsyat urusan orang beriman, Sesungguhnya semua persoalannya adalah kebaikan dan hal itu bukan untuk siapa-siapa melainkan hanya untuk orang beriman. Jika ia mendapatkan kegembiraan lalu ia bersyukur maka itu baik untukknya dan jika musibah menimpanya lalu ia bersabar maka itu baik untuknya” (HR: Muslim)

Seiring kemajuan teknologi yang begitu pesat dan telah merambah hampir ke semua lini kehidupan masyarakat dunia termasuk bidang kesehatan. Sejalan dengan itu pula kemajuan dalam kedokteran semakin canggih, seperti misalnya ditemukan alat atau teori untuk mendeteksi keadaan janin bahkan dari sejak dia berumur puluhan hari.

Gejala janin cacat pun akhirnya bisa dipecahkan oleh para ahli dibidangnya, sehingga sebuah keluarga khususnya kedua orang tua janin dapat dimudahkan untuk mengambil keputusan antara menggugurkannya atau membiarkannya terlahir. Lalu bagaimanakah sebenarnya hukum menggugurkan janin yang terindikasi kuat akan cacat? Yuk kita telaah bersama fatwa Ulama berikut:

“Majelis Perhimpunan Fiqih Islam di bawah naungan Rabithatul ‘Alamil Islamy dalam sebuah regulasi diskusi mereka yang ke Dua Belas yang diselenggarakan di kota Makkah Al-Mukarramah pada hari Sabtu 15 Rajab 1410 H – Hari Sabtu 22 Rajab 1410 H. Bertepatan dengan tanggal 17 Februari 1990 M.

Majelis telah memperhatikan masalah hukum menggugurkan janin yang berpotensi kuat akan lahir abnormal atau dalam keadaan cacat. Dan setelah persoalan ini didiskusikan oleh anggota Majelis yang terdiri dari para Ulama International dan melibatkan para dokter ahli di bidangnya, mayoritas majelis akhirnya menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Apabila usia kehamilan telah mencapai Seratus Dua Puluh Hari maka janin tidak boleh digugurkan. Walau pun dari hasil pemeriksaan dokter menghasilkan bahwa keadaan janin cacat fisik. kecuali apabila telah mendapatkan keputusan tetap dari satu tim dokter yang profesional lagi terpercaya bahwa keberadaan janin tersebut kalau dibiarkan maka akan mengancam keselamatan nyawa ibunya, maka ketika itu barulah kemudian boleh menggugurkannya terlepas dari keadaan janin itu normal ataukah cacat. Ini demi menghalangi salah satu kerusakan yang lebih parah.

  1. Apabila usia kehamilan belum melewati Seratus Dua Puluh Hari, kemudian satuan tim dokter ahli dan profesional yang terpercaya dan berdasarkan atas hasil pemeriksaan dengan alat atau wasilah yang memungkinkan, menyimpulkan bahwa keadaan janin itu cacat, dalam artian cacat yang membahayakan, yang tidak mungkin untuk disembuhkan, dan seandainya apabila janin itu dibiarkan tumbuh sampai pada waktu lahirnya kelak akan hidup dalam keadaan yang buruk dan menyakitkan untuk dirinya dan untuk keluarganya, maka ketika itu boleh menggugurkannya atas permintaan kedua orang tuanya. Dan ketika menetapkan fatwa ini, majelis mewasiatkan kepada para dokter dan kedua orang tua si janin agar bertakwa kepada Allah dan hendaknya melakukan klrafikasi dalam kasus tersebut. Wallahu Waliyyut Taufiq.”

( Sumber Putsaka : Abdullah bin Abdirrahman Al-Bassam. Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram. Jilid Empat. Hal. 76. Ad-Darul Alamiyyah. Al-Azhar. Mesir. )

Dari fatwa di atas barangkali kita bisa menyimpulkan dengan sederhana hukum menggugurkan janin cacat sebagai berikut:

Pada bagian pertama difatwakan bahwa apabila usia janin telah mencapai Seratus Dua Puluh hari maka tidak boleh digugurkan apapun alasannya kecuali kasus yang terjadi berkaitan dengan keberlangsungan dan keselamatan nyawa si ibu, maka hukumnya menjadi berubah. Namun perlu diingat kembali, sebab bolehnya menggugurkan dalam kasus ini bukan karena keadaan fisik janin yang cacat namun terkait erat dengan keselamatan nyawa si ibu saja.

 Sedangkan bagian kedua difatwakan dengan menekankan pada usia kehamilan yang harus belum mencapai usia Seratus Dua Puluh Hari sehingga barulah kemudian boleh menggugurkan dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas. Dan apabila usia kandungan melebihi dari batasan tersebut, maka hukumnya dikembalikan ke bagian yang pertama.

Musa Abu Affaf.