Hukum Dzikir Di Antara Takbir Zawaid Shalat Ied

 

Takbir Zawaid adalah bacaan “Allahu Akbar” (Takbir) yang dibaca setelah Takbiratulihram dalam shalat hari raya. Jumlahnya pada rakaat pertama tujuh kali takbir, dan pada rakaat kedua lima kali takbir.

Apakah ada bacaan khusus yang dibaca di antara satu takbir ke takbir lainnya?

Tidak disunnah membaca dzikir atau bacaan lainnya di antara Takbir Zawaid, hendaknya ia membaca Takbir dengan berkesinambungan tanpa dijeda oleh bacaan apa pun. Inilah pendapat dalam Madzhab Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, dan pendapat Imam Al-Auza’iy seperti yang disebutkan Imam Annawawiy dalam Al-Majmu’ (5/21). Dan bahkan Imam Annawawiy memaparkan kalau ini adalah pendapat Jumhur (mayoritas) Ulama, beliau berkata dalam Al-Majmu’ :

وجمهور العلماء يرى هذه التكبيرات متوالية متصلة

“Dan Jumhur ulama memandang takbir-takbir ini (dilakukan) berkesinambungan lagi bersambung.” (6/180)

Ibnu Hazm juga memilih pendapat ini seperti yang beliau tegaskan dalam Al-Muhalla (5/82), demikian juga dengan Al-Amir al-Shan’aniy dalam Subulussalam (2/69).[1]

Berikut beberapa alasan atau hujjah pendapat ini :

Pertama : Bacaan khusus atau dzikir di antara Takbir Zawaid sama sekali tidak dijelaskan sedikitpun dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga jika memang benar dianjurkan membaca sesuatu berupa dzikir atau tasbih, maka tentu akan disebutkan dan dinukilkan dalam hadits sebagaimana halnya Takbir Zawaid itu sendiri.

Alasan ini dikemukakan oleh banyak ulama di antaranya adalah Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah dalam Majmuk Fatawa (24/219-220), Ibnulqayyim dalam Zadulma’ad (1/443), Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy (2/284). Dan juga Syaikh Ibnu ‘Ustaimin -rahimahumullah –  dalam al-Syarhulmumti’ ; beliau berkata:

وهذا الذكر يحتاج إلى نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم؛ لأنه ذكر معين محدد في عبادة، ولم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول ذلك، وإنما أثر عن ابن مسعود ـ رضي الله عنه

“Dzikir ini membutuhkan penukilan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena merupakan dzikir yang khusus dan dibatasi dalam ibadah, sementara tidak ada nukilan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau mengucapkan dzikir itu, yang ada hanyalah Atsar dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu.” (5/139)

Kedua : Sebenarnya Takbir Zawaid dalam shalat ied merupakan jenis dzikir yang disunnahkan seperti halnya bacaan tasbih dalam rukuk dan sujud, maka pembacaanya pun dibaca dengan tersambung, berkesinambungan, tanpa dijeda dengan bacaan lainnya.

Alasan ini diutarakan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy (2/284) [2]

Berbeda dengan pendapat ini, sebagian ulama mengatakan disunnahkan membaca dzikir diantara Takbir Zawaid, dan di antara ulama tersebut adalah Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ibnulmundzir, bahkan ada keterangan kalau Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menetapkannya. [3]

Imam Makhul termasuk yang mengamalkan hal ini sebagaimana yang disebutkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf:

  عن محمد بن راشد أنه سمع مكحولا يقول بين كل تكبيرتين صلاة على النبي صلى الله عليه و سلم

“Dari Muhammad bin Rasyid bahwa beliau mendengar Makhul membaca shalawat kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam – di antara setiap dua takbir.” (5675)

Di antara dalil pendapat ini adalah Atsar Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘Anhu yang dikeluarkan Imam Al-Baihaqiy, :

 عن علقمة أن ابن مسعود وأبا موسى وحذيفة خرج إليهم الوليد بن عقبة قبل العيد فقال لهم : إن هذا العيد قد دنا فكيف التكبير فيه؟ فقال عبد الله : تبدأ فتكبر تكبيرة تفتتح بها الصلاة وتحمد ربك وتصلى على النبى -صلى الله عليه وسلم- ، ثم تدعو وتكبر وتفعل مثل ذلك ، ثم تكبر وتفعل مثل ذلك ، ثم تكبر وتفعل مثل ذلك ، ثم تكبر وتفعل مثل ذلك ، ثم تقرأ وتركع ، ثم تقوم فتقرأ وتحمد ربك وتصلى على النبى -صلى الله عليه وسلم- ثم تدعو ، ثم تكبر وتفعل مثل ذلك ، ثم تكبر وتفعل مثل ذلك ، ثم تكبر وتفعل مثل ذلك ، ثم تكبر وتفعل مثل ذلك

Dari ‘Alqamah: Sesungguhnya Ibu Mas’ud, Abu Musa, dan HudzaifahRadliyallahu ‘Anhum – mereka kedatangan Al-Walid bin Uqbah sebelum shalat ied, ia berkata kepada mereka : “Sesungguhnya hari raya ini telah mendekat, lalu bagaimanakah takbir dibaca di dalamnya? ”

Maka Abdullah bin Mas’ud berkata: “Engkau mulai bertakbir dengan takbir yang membuka shalat, dan engkau bertahmid kepada rabbmu, dan membaca shalawat kepada Nabi – shallallahu alaihi wasallam – , kemudian engkau berdoa, dan engaku bertakbir kembali dan lakukan seperti yang tadi,” (yakni membaca Tahmid, Shalawat, dan berdoa).

(Assunanulkubra (3/291) dan dikeluarkan juga oleh Atthabraniy, dan dinilai Shahih oleh Al-Albaniy dalam Irwa’ulghalil (642)

Imam Al-Baihaqiy Rahimahullah berkata:

 وهذا من قول عبد الله بن مسعود رضى الله عنه موقوف عليه فنتابعه فى الوقوف بين كل تكبيرتين للذكر إذ لم يرو خلافه عن غيره

“Dan ini adalah ucapan Abdullah bin Mas’udRadliyallahu ‘Anhu – terhenti penyandarannya sampai ke beliau (Mauquf), maka kami mengikutinya dalam hal berhenti di antara dua takbir untuk berzikir, karena tidak diriwayatkan adanya penentangan dari selain beliau dalam hal ini.”

Dengan demikian maka menjadi jelas jika masalah ini adalah masalah khilafiyyah yang memiliki hujjah masing-masing yang harus dihormati, bahkan pendapat kedua lebih kuat karena bersandar kepada Atsar yang shahih dari generasi salaf. Dan seorang sebaiknya mengamalkan madzhab yang diamalkan kaumnya. Wallahu A’lam.

 


[1] Penjabaran lengkap dari ucapan-ucapan Ulama yang tersebut di atas bisa dilihat melalui : dorar.net

[2] Ulasan ini kami ambil dari dorar.net

[3] Lihat : Ahlulhadits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.