Hukum Duduk Tawarruk Dalam Shalat Dua Rakaat

Tawarruk seperti yang disebutkan Imam Annawawi – rahimahullah – adalah posisi duduk yang sama seperti posisi Iftirasy, perbedaanya dengan tawarruk hanya pada letak pantat, di mana dalam tawarruk pantat langsung menyentuh di atas lantai dan kaki kiri diletakkan keluar ke arah kanan.

Agar lebih jelasnya perhatikan gambar berikut ini;

Posisi Tawarruk

Imam Annawawi – rahimahullah- berkata ;

   التورك، وهو كالافتراش لكن يخرج يسراه من جهة يمينه ويلصق وركه بالأرض

Attawarruk, ialah seperti Iftirasy, akan tetapi (orang yang shalat) mengeluarkan kaki kirinya ke arah kanannya dan ia tempelkan pantatnya ke tanah (lantai).” (Mughnil Muhtaj 1/266. Cet. Darulmakrifat)

Duduk dengan posisi Tawarruk pada setiap kali tasyahhud akhir atau yang kedua hukumnya sunnah, dalam hal ini tidak ada perbedaan pada shalat tersebut apakah jumlah tasyahhudnya satu seperti pada shalat dua rakaat, ataukah dua kali tasyahhud seperti Shalat Ashar.

Imam Annawawi –rahimahullah –berkata;

 ويسن في الأول الافتراش فيجلس على كعب يسراه وينصب يمناه، ويضع أطراف أصابعه للقبلة، وفي الآخر التورك

“Dan disunnahkan Al-Iftirasy pada duduk Tasyahhud yang pertama, maka ia duduk di atas mata kaki kirinya, dan ia tegakkan yang kanannya, dan ia meletakkan ujung jari-jari kakinya menghadap ke kiblat, dan (disunnahkan) Tawarruk pada Tasyahhud yang terakhir.” ((Mughnil Muhtaj 1/266. Cet. Darulmakrifat)

Imam Annawawi – rahimahullah – dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab menerangkan;

   مذهبنا انه يستحب ان يجلس في التشهد الاول مفترشا وفى الثاني متوركا فان كانت الصلاة ركعتين جلس متوركا

“Dan madzhab kami sesungguhnya di sunnahkan duduk pada tasyahhud pertama dalam keadaan iftirasy, dan pada yang kedua dalam keadaan tawarruk, maka jika shalat itu dua rakaat ia duduk dalam keadaan tawarruk.” (3/450)

Inilah yang Mu’tamad dalam Madzhab al-Syafi’iyyah dan dalil atas ketetapan ini adalah hadits yang diriwayatkan Abu Humaid dalam Shahih Al-Bukhari yang intinya berbunyi;

فإذا جلس في الركعتين جلس على رجله اليسرى وينصب اليمنى وإذا جلس في الركعة الاخيرة قدم رجله اليسرى ونصب الاخرى وقعد علي مقعدته

“Apabila (Nabi) duduk pada rakaat yang kedua Beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan yang kanan, lalu apabila Beliau duduk pada rakaat yang terakhir Beliau majukan kaki kirinya dan menegakkan yang lainnya dan Beliau duduk di atas pantatnya.” (HR; Bukhari No. 828)

Imam Annawawi – rahimahullah – berkata;

قال الشافعي والاصحاب فحديث ابى حميد واصحابه صريح في الفرق بين التشهدين وباقى الاحاديث مطلقة فيجب حملها على موافقته فمن روى التورك اراد الجلوس في التشهد الاخير ومن روى الافتراش اراد الاول وهذا متعين للجمع بين الاحاديث الصحيحة لا سيما وحديث أبى حميد وافقه عليه عشرة من كبار الصحابة رضي الله عنهم والله أعلم

Imam Al-Syafi’i dan Al-Ashab (murid-muridnya) mengatakan; maka hadits Abu Humaid dan para shahabatnya jelas membedakan antara dua tasyahhud, dan hadits-hadits yang tersisa lainnya bentuknya Muthlaq maka wajib membawanya ke atas makna yang sesuai dengannya (yakni diarahkan maknanya kepada makna hadits Abu Humaid. Pent).

Mereka yang meriwayatkan tawarruk maka yang ia maksudkan denganya adalah duduk pada tasyahhud akhir, dan ulama yang meriwayatkan Al-Iftirasy maka maksud mereka adalah posisi duduk pada tasyahhud pertama.

Dan ini menjadi suatu keharusan demi menggabungkan antara hadits-hadits yang shahih terlebih hadits Abu Humaid telah disepakati oleh sepuluh tokoh besar shahabat Radliyallahu ‘Anhum. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab 3/450)

Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – berkata;

 واستدل به الشافعي أيضا على أن تشهد الصبح كالتشهد الأخير من غيره لعموم قوله في الركعة الأخيرة

“Imam al-Syafi’i juga berdalil dengannya bahwa sebenarnya tasyahhud shalat subuh sama seperti tasyahhud yang terakhir pada selainnya berdasarkan keumuman perkataan dalam hadits yang berbunyi “Pada rakaat terakhir”. (Fathulbari 3/48 Cet. Dar Thayyibah).

Posisi duduk Iftirasy

Kesimpulannya duduk tawarruk pada shalat yang hanya dua rakaat saja seperti shalat subuh dan lainnya hukumnya sunnah dalam Madzhab al-Syafi’iyyah, dalil dan cara pendalilannya pun kuat dan jelas sehingga tidak ada celah bagi mereka yang jahil mengingkari dan menuduhnya tidak sesuai dengan tuntunan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun pendapat yang mengatakan tawarruk hanya dilakukan pada shalat yang memiliki dua tasyahhud saja seperti shalat zhuhur, dan maghrib,  sedangkan pada shalat yang hanya dua rakaat saja maka duduk dilakukan dengan iftirasy adalah pendapat yang Masyhur dari Imam Ahmad, dan merupakan fatwa dari Syaikh Abdulaziz bin Baz, [1] Ibnu ‘Utsaimin [2], Rahimahumullah.

Oleh karenanya hendaklah seorang muslim berusaha meluaskan perasaannya dalam masalah fiqh Ijtihadiyyah seperti ini, bahkan bisa jadi pendapat Madzhab Asy-syafi’iyyah di ataslah yang lebih kuat. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.  ‘Afallahu ‘Anhu

—-

 

[1] Fatwa ibnu Baz

[2] Fatwa Ibnu ‘utsaimin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.