Hukum serta Perbedaan Alkohol dan Khamr

Teduh.Or.Id – Khamr telah disepakati keharamannya dalam Islam, dan hukum ini adalah konsensus (Ijma’) Ulama yang tidak boleh sama sekali diusik dan diganggu. Ijma’ Ulama atas haramnya Khamr didukung oleh banyak dalil dari Al-Qur’an, seperti dalam Surat Al-Ma’idah Ayat 90 – 91, Al-A’raf Ayat 33, Al-Baqarah Ayat 219. Dan juga dalil dari hadits seperti:

إنه قد نزل تحريم الخمر وهي من خمسة أشياء: العنب والتمر والحنطة والشعير والعسلوالخمر ما خامر العقل

“Sesungguhnya pengharamannya Khamr telah turun dan dia terdapat dalam lima sesuatu : Anggur, Kurma, Gandum, (Gandum) Sya’ir, dan madu. dan Khamr adalah setiap yang menutup akal.” (HR; Bukhari Muslim dari khuthbahnya Umar bin Khathhab Radhiyallahu ‘Anhu)

Lalu bagaimana dengan Alkohol ? apakah dikategorikan secara umum ke dalam Khamr sehingga penggunaannya pun menjadi haram secara umum ? untuk menemukan kejelasan dari pertanyaan tersebut, alangkah manfaatnya apabila kita luangkan sedikit waktu untuk menelaah fatwa berikut ini:

Pertama : Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:

  1. Khamr adalah setiap minuman yang memabukkan, baik dari anggur atau yang lainnya, baik dimasak ataupun tidak.
  1. Alkohol adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apapun yang memiliki gugus fungsional yang disebut gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon. Rumus umum senyawa alcohol tersebut adalah R-OH atau Ar-OH di mana R adalah gugus alkil dan Ar adalah gugus aril.
  1. Minuman beralkohol adalah :
  • minuman yang mengandung etanol dan senyawa lain di antaranya metanol, asetaldehida, dan etilasetat yang   dibuat secara fermentasi dengan rekayasa dari berbagai jenis bahan baku nabati yang mengandung karbohidrat; atau
  • minuman yang mengandung etanol dan/atau metanol yang ditambahkan dengan sengaja.

Kedua : Ketentuan Hukum

  1. Meminum minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum hukumnya haram.
  1. Khamr sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah najis
  1. Alkohol sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum yang berasal dari khamr adalah najis. Sedangkan alkohol yang tidak berasal dari khamr adalah tidak najis.
  1. Minuman beralkohol adalah najis jika alkohol/etanolnya berasal dari khamr, dan minuman beralkohol adalah tidak najis jika alkohol/ethanolnya berasal dari bukan khamr.
  1. Penggunaan alkohol/etanol hasil industri khamr untuk produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya haram 
  1. Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya: mubah, apabila secara medis tidak membahayakan.
  1. Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan, hukumnya: haram, apabila secara medis membahayakan.

Dari fatwa di atas bisa disimpulkan bahwa alkohol tidak mutlak adalah Khamr sehingga alkohol atau etanol yang berasal dari industri non Khmar hukumnya berbeda dengan Khamr.