Hukum Akad Melalui Alat Komunikasi Modern

Dengan nama Allah Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, penutup para nabi ‘Alaihissalam dan atas keluarga serta para sahabatnya Radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Mengenai Hukum Melakukan Akad Dengan Alat-alat Komunikasi Modern.

Sesungguhnya Dewan Lembaga Fikih Islam yang melaksanakan sidang Muktamar keenam di Jeddah, Kerajaan Arab Saudi dari tanggal 17-23 Sya’ban 1410 H, bertepatan dengan tanggal 14-20 Maret 1990 M. Setelah menelaah kajian yang sampai kepada Lembaga khusus dalam masalah “Pelaksanaan Akad atau Transaksi dengan Alat-Alat Komunikasi Modern”.

Dengan melihat perkembangan yang besar yang dihasilkan oleh media komunikasi dan terlaksananya pekerjaan-pekerjaan dalam menetapkan transaksi-transaksi dengannya yang disebabkan oleh cepatnya keberhasilan transaksi keuangan serta menghadirkan apa yang dikemukakan oleh para ahli fikih mengenai penetapan transaksi dengan surat, tulisan, isyarat serta kurir serta dengan ketetapan hukum bahwa akad di antara dua orang yang ada disyaratkan harus berada dalam satu majelis selain transaksi harta wasiat, mewasiatkan, perwakilan, kesesuaian antara ijab dan kabul serta tidak adanya hal-hal yang menunjukkan penyelewengan dari salah satu pihak yang melakukan akad, serta penerimaan yang langsung antara ijab dan kabul sesuai dengan kebiasaan, maka majelis memutuskan:

  1. Apabila terjadi akad atau transaksi antara dua orang yang tidak ada, yang tidak disatukan oleh tempat dan masing-masing tidak saling melihat dan mendengar pembicaraan dimana media komunikasi keduanya adalah tulisan, surat maupun kurir, teleks, faksimili atau layar komputer. Di dalam kondisi ini maka akadnya sah, ketika ijab sampai kepada yang dituju demikian pula dengan kabulnya.
  2. Apabila terjadi akad atau transaksi di antara kedua belah pihak di dalam satu waktu dan keduanya berada pada dua tempat yang berjauhan dan hal ini terjadi melalui telepon seluler, maka sesungguhnya akad di antara keduanya dianggap sebagai akad dari dua orang yang hadir. Dalam kondisi ini hukum-hukum dasar ditetapkan oleh para ahli fikih yang diisyaratkan pada pendahuluan.
  3. Apabila seseorang dengan media-media ini mengeluarkan ungkapan ijab dengan batas waktu tertentu, maka ia harus tetap pada ungkapan ijab tersebut dan selama masa yang ditentukan tersebut ia tidak boleh menariknya kembali.
  4. Sesungguhnya prinsip-prinsip di atas tidak mencakup hukum pernikahan, karena di dalamnya ada syarat saksi. Demikian pula pada penukaran mata uang, karena ada syarat penerimaan langsung serta tidak juga kepada jual beli salam, karena disyaratkan mendahulukan pembayaran.
  5. Hal-hal yang berhubungan dengan kemungkinan adanya pemalsuan, penipuan atau kesalahan, maka hal itu kembali kepada kaidah umum dalam menetapkan keabsahan suatu transaksi.

Wallahu a’lam (Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui).

Ditulis kembali oleh: Musa Mulyadi, Lc

Gambar dari: http://blog.monitor.us/wp-content/uploads/2012/11/online-shopping-safe-and-convenient.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.