Hindari Meludah Ke Arah Kiblat, Seperti Ini Alasannya

Meludah ke arah kiblat adalah perbuatan yang tidak terpuji dan semestinya dihindari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

من تفل تجاه القبلة جاء يوم القيامة تفله بين عينيه

“Siapa saja yang meludah ke arah kiblat, kelak ia (dibangkitkan) datang pada hari kiamat dalam keadaan ludahnya ada depan matanya”.

(Hadits ini dikeluarkan Abu Dawud, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Al-‘Allamah Al-Albani menilai Sanadnya Shahih dalam Silsilah Al-Shahihah No. 222 ( 1/437).

Dan sebenarnya hukum ini berlaku pada semua keadaan, baik keadaan shalat di masjid atau pun tidak, maka tidak ada perbedaannya. Karena sebab larangan dari meludah ke arah kiblat adalah demi mengagungkan kiblat itu sendiri, sebagaimana hal ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abdilbarr dan atas hal itu kemudian Alhafizh Ibnu Hajarrahimahullah – berkata;

وهذا التعليل يدل على أن البزاق في القبلة حرام سواء كان في المسجد أم لا

“Dan Ta’lil ini menunjukkan atas (hukum) meludah ke arah kiblat haram, sama saja keadaan apakah di dalam masjid ataukah tidak.” (Fathulbari 2/133 Cet. Dar Thayyibah)

Syaikh Al-Albanirahimahullah – berkata;

وفي الحديث دلالة على تحريم البصاق إلى القبلة مطلقا، سواء ذلك في المسجد

أو في غيره، وعلى المصلي وغيره، كما قال الصنعاني في ” سبل السلام “

(1 / 230) . قال:” وقد جزم النووي بالمنع في كل حالة داخل الصلاة وخارجها وفي المسجد أو غيره “. قلت: وهو الصواب

“Dalam hadits ini terdapat petunjuk atas keharaman meludah ke arah kiblat secara mutlak, tidak ada bedanya hal itu di dalam masjid atau di selainnya, dan atau pada orang yang shalat atau selainnya, sebagaimana Al-Shan’ani telah menyebutkannya dalam Subulussalam (1/230) beliau berkata;

An-Nawawi – rahimahullah – telah menyimpulkan mati dengan hukum larangan berludah ke arah kiblat dalam semua keadaan, di dalam shalat ataukah diluarnya, di dalam masjid atau pun selainnya.” Aku (Al-Albani) berkata: “Dan ialah pendapat yang benar.” (Al-Shahihah 1/439).

Al-‘Allamah Al-Albanirahimahullah – memandang bahwa hadits ini mengandung larangan secara umum, tanpa ada batasan tempat seperti masjid atau pun batasan keadaan sedang shalat atau pun tidak, dalam Tamamul Minnah beliau mengungkapkan hal tersebut secara jelas;

وإن مما يؤيد العموم الأحاديث التي وردت في النهي عن البصق تجاه القبلة في المسجد وخارجه ومن ذلك قوله صلى الله عليه و سلم : ” من تفل تجاه القبلة جاء يوم القيامة وتفلته بين عينيه

 “Dan sebenarnya di antara bukti penguat adalah keumuman hadits-hadits yang datang melarang berludah ke arah kiblat di dalam masjid dan diluarnya, di antara hal itu adalah sabda nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – “Siapa saja yang meludah ke arah kiblat, kelak ia (dibangkitkan) datang pada hari kiamat dalam keadaan ludahnya ada depan matanya”. (Tamamul Minnah 1/60).

Pendapat Lain

Sebagian ulama memandang bahwa meludah ke arah kiblat di luar shalat dan di luar masjid tidak dilarang, di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Al-Hafizh Ibnu Rajabrahimahullah – beliau berkata;

وإنما يكره البصاق إلى القبلة في الصَّلاة أو في المسجد ، فأما من بصق إلى القبلة في غير مسجد فلا يكره ذلك

“Sesungguhnya dimakruhkan (diharamkan) meludah ke arah kiblat dalam shalat atau di dalam masjid, ada pun orang yang berludah ke kiblat di selain masjid maka tidak dimakruhkan.” (Al-Fathulbari 3/327. Cet. Dar Ibnu Jauzi)

Dan juga syaikh Abdulaziz bin Baz – rahimahullah – beliau berkata;

أما في خارج الصلاة فهذا محل نظر، الأمر فيه سهل، لكن إذا كان عن يساره حتى في خارج الصلاة يكون أكمل وأحوط

“Adapun di luar shalat maka keadaan ini adalah letak persoalan yang perlu diteliti, urusannya mudah, akan tetapi jika ia meludah ke kiri di luar shalat, itu menjadi lebih sempurna dan lebih berhati-hati.” [1]

Pendapat Syaikh Ibnu Baz adalah jalan tengah persoalan ini, dan inilah yang mesti diamalkan, agar sebaiknya tidak meludah ke arah kiblat. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.

—-

[1] Lihat Di sini ; Fatwa Syaikh Ibnu Baz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.