Hamster Juga Tikus?

Pada dasarnya Islam melarang menyakiti binatang apalagi membunuhnya sia-sia, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma , Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

لاَ تَتَّخِذُوا شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا

Artinya: “Janganlah kalian menjadikan sesuatu yang terdapat padanya ruh sebagai Sasaran” (HR; Muslim.)

Menjadikan hewan sebagai sasaran lemparan atau tembakan tidak dengan tujuan berburu adalah larangan yang bersifat diharamkan, oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda – sebagaimana dalam riwayat Ibnu ‘Umar – “Allah melaknat orang yang melakukan hal ini”, sebab prilaku tersebut merupakan bentuk penyiksaan terhadap binatang dan berpotensi menghilangkan nyawanya sia sia. (Syarh Shahih Muslim Karya Imam An-Nawawy 109/Jilid 13-14/ Cetakan Darul Ma’rifah)

Namun karena suatu hikmah dan manfaat bagi ummat manusia itu sendiri, ada beberapa jenis hewan yang boleh dibunuh, tentunya tetap dengan tatacara yang baik tanpa menyiksa dan berlebihan,

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَارَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْغُرَابُ وَالْحُدَيَّا وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

Artinya: “Dari ‘Aisyah semoga Allah Meridhainya berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: ‘Lima (hewan) Fawasiq (hewan yang keluar dari hukum hewan lainnya karena ia merusak, mengganggu dan tidak dapat dimanfaatkan, Pen.) dibunuh di tanah Haram; yaitu Tikus, Kalajengking, Gagak, Al-Hudayya (elang) dan Anjing buas” (HR; Bukhari Muslim)

Berdasarkan hadits ini Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ menyebutkan bahwa Binatang yang diperintahkan agar dibunuh berarti (hukumnya) haram untuk dimakan. Selesai (Kitab Al-Ath’imah / Juz -9). seandainya saja halal dimakan maka tentunya tidaklah diperintahkan untuk dibunuh melainkan akan diperintahkan agar dimakan saja sebab menyia-nyiakan makanan bukanlah anjuran dalam Islam.

Jika demikian, maka semakin dekatlah kita pada kesimpulan, bahwa sesuatu yang haram dimakan dalam lingkup keumumannya akan berimbas kepada keharamannya harga dari sesuatu tersebut, sederhananya, tidak boleh memperjual belikan sesuatu yang haram dimakan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَىْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ

Artinya: “dan sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum memakan sesuatu, maka Allah haramkan atas mereka harganya” (HR: Abu Dawud)

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Karya Ibnu Hajar Al-Haitamy 9/337 dinukilkan bahwa Az-Zarkasy berkata:

وَيَحْرُمُ حَبْسُ شَيْءٍ مِنْ الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ عَلَى وَجْهِ الِاقْتِنَاءِ” انتهى

Artinya: “dan diharamkan menahan (mengkandangkan) binatang yang bersifat Al-Fawasiq yang lima jika dengan atas tujuan memelihara”.

berkata Ibnu Qudamah :

وقال ابن قدامة: “وما وجب قتله حرم اقتناؤه”. انتهى من “المغني” (11/2).

Artinya: “dan apa saja yang diwajibkan dibunuh, haram memeliharanya”. (Al-Mughny 2/ 11)

Imam An-Nawawi juga berkata:

“ما لا ينتفع به [من الحيوانات] لا يصح بيعه، كالخنافس، والعقارب، والحيات، والفأر، والنمل، ونحوها” انتهى من “روضة الطالبين” (3 /351

Artinya: “hewan yang tidak dapat dimanfaatkan tidak sah dijual belikan, seperti Al-Khanafus, kalajengking, ular, tikus dan semut, dan yang semisalnya”. Selesai . (Raudhatuth Thalibin 3/351)

Dengan demikian maka tikus (Fa’rah) termasuk hewan yang tidak sah menjadi barang dagangan dalam jual beli, sebab ia termasuk dalam kategori hewan yang diperintahkan membunuhnya sebagaimana yang telah dijelaskan, lalu bagaimanakah dengan Hamster ?

Sebagai jawabannya berikut kami nukilkan penjelasan Syaikh Al-Munajjid dalam situs Fatwanya;  beliau menjelaskan; Melalui kajian dari beberapa artikel seputar Hamster, dan juga beberapa poto hamster yang valid di internet, menjadi jelas bahwa hamster memiliki keserupaan yang besar dengan tikus. Sedangkan telah dimaklumi bahwa tikus adalah hewan yang memiliki banyak macam, dan telah disebutkan oleh sebagian penelitian, sesungguhnya tikus ada 86 jenis yang mencakup 720 macam tikus , lihat kitab “Al-Qawaridh Fil Wathanil ‘Araby” Halaman 75 , karya ‘Adil Muhammad ‘Ali.

Di antara jenis jenis tikus tersebut – sebagaimana yang ditulis dalam kitab itu – adalah hamster, dan telah disebutkan pula dalam kitab Enseklopedi Al-Arabiyyah Al-‘Alamiyyah 122/26 : “Hamster tergolong ke dalam hewan pengerat yang kecil lagi pendek dan juga sebagai hewan pengumpul makanan yang berkulit, dan kebanyakan jenis hamster adalah memiliki ekor yang kecil dan menggali dengan mulutnya, sekaligus membantunya mengumpulkan makanan dalam jumlah besar, dan di sana terdapat sekitar 15 macam hamster.”

Apabila hamster termasuk ke dalam jenis tikus, maka tidak boleh memeliharanya dan merawatnya akan tetapi wajib membunuhnya, baik itu dalam keadaan halal (sedang tidak Ihram haji dan Umrah) atau pun dalam keadaan berihram, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam hukum tikus. Dan sesungguhnya Ulama telah memberikan penjelasan, bahwa hukum ini (haram) meliputi semua jenis tikus. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “dan tikus itu ada banyak, di antaranya: Al-jard, Al-Khuld, Fa’ratul Ibil, Fa’ratul Misk, Fa’ratul Gaidz, dan semuanya sama hukumnya dalam hal haram dimakan dan boleh dibunuh.” Selesai. (Fathulbary 39/4.)

Sebaiknya bagi saudaraku yang hobi memelihara hamster agar kembali menimbang dengan serius untuk menghentikannya atau menggantinya dengan hobi lain yang jauh dari Syubhat dan terlepas dari hal-hal yang terlarang dalam Syari’at islam.

Musa Abu Affaf