Hamka Dalam Khazanah Sastra Indonesia

Saya merasa ingat kepadanya adalah kemestian hidup saya, rindu kepadanya membukakan pintu angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang.

(Buya Hamka dalam Di Bawah Lindungan Ka’bah)

Pembuka

Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan Hamka dilahirkan di Agam, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908 silam. Seorang ulama sekaligus sastrawan mumpuni yang pernah terlahir di bumi Indonesia. Karya-karya multi bidang lahir dari tangannya sebanyak kurang lebih 84 judul buku. Salah satu bidang yang ditekuni Hamka tentu saja kesusastraan. Tercatat Hamka menulis karya sastra pertamanya dengan judul ‘Si Sabariah’ pada tahun 1928 yang royalti daripada penjualan buku tersebut ia gunakan untuk membiayai pernikahannya dengan Siti Raham. Si Sabariah ini mengisahkan tentang perjalanan kasih seorang perempuan Melayu bernama Sabariah. Roman ini ditulis dalam bahasa ibunya yakni bahasa Minang. Selain Si Sabariah, Hamka juga tercatat menulis beberapa judul lainnya seperti Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (1937), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Merantau ke Deli (1940), Dijemput Mamaknya (1939), Tuan Direktur (1940), dll. Sebab karena karyanya itu, Buya Hamka pun ditempatkan sebagai pengarang atau sastrawan angkatan Balai Pustaka bersama Marah Roesli, Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, dan sebagainya.

Roman Hamka yang melambungkan namanya sebagai sastrawan angkatan Balai Pustaka adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah yang ditulisnya pada tahun 1938. Roman ini berkisah tentang cinta tak sampai antara sepasang kekasih yakni Zainab dan Hamid yang terhalang oleh adat. Yang membedakan roman Di Bawah Lindungan Ka’bah dengan roman kebanyakan ialah karena pengarangnya membawa pelakungan ke Mekah dekat Ka’bah. Selain Di Bawah Lindungan Ka’bah, Buya tercatat pernah menulis roman lain yang mampu menggetarkan serta menggegerkan peta sejarah kesusastraan Indonesia. Roman itu diberi judul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Seperti roman Di Bawah Lindungan Ka’bah, roman ini pun berkisah tentang cinta tak sampai antara Zainuddin dan Hayati yang terhalang persoalan adat. Zainuddin yang merupakan seorang anak dari perkawinan silang antara Minang dengan Bugis yang tak berhasil menyunting gadis idamannya karena terhalang oleh rapat ninik mamak yang tidak setuju kalau Hayati dinikahkan dengan Zainuddin yang dianggap tidak sebagai manusia penuh. Lantas Zainuddin menjadi pengarang dan dalam suatu kecelakaan gadis kecintaannya itu meninggal dalam kapal yang ditumpanginya. Roman ini sempat membuat geger khazanah kesusastraan Indonesia pada tahun 1962. Adalah Pramoedya Ananta Toer lewat harian Bintang Timur-nya mendakwa Buya Hamka melakukan plagiat terhadap buku karangan Alphonse Karr yang pernah disadur ke dalam bahasa Arab oleh Musthafa Al-Manfaluthi (1876-1924), seorang pujangga Arab-Mesir yang dikagumi Buya Hamka. Polemik ini bahkan sampai dibukukan oleh seorang pengarsip dari Yogyakarta pada tahun 2011 dengan judul Aku Mendakwa Hamka Plagiat. Isi buku tersebut kurang lebih menjelaskan polemik kesusastraan yang menimpa Buya Hamka dengan tudingan plagiarisme tersebut pada tahun 1962-1964.

Hamka, Sastra dan Kebudayaan Indonesia

Membaca karya-karya sastra yang ditulis Buya Hamka serupa menyaksikan sebuah perjalanan dan peta bangsa besar bernama Indonesia. Meski setting peristiwa dan alur cerita berkisah tentang Minangkabau tanah kelahirannya. Buya Hamka tidak pernah lepas menarasikan kebanggaannya terhadap tanah dan bangsanya. Itu bisa disaksikan ketika membaca roman-roman paling awal yang disusun Buya Hamka. Mulai dari Si Sabariah, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck sampai Di Bawah Lindungan Ka’bah. Bahkan romannya yang bertajuk Merantau ke Deli pun tetap memiliki nuansa khas Minangnya.

Menurut James R Rush dalam bukunya Adicerita Hamka yang diterbitkan ulang Gramedia pada tahun 2017, Buya Hamka disebutkan sebagai salah seorang novelis yang sering menggunakan latar cerita Hindia. Hal ini dibuktikan oleh Buya Hamka kala menulis roman bersambung pertamanya dalam majalah Pedoman Masyarakat yang mengenang perjalanan ibadah hajinya. Roman yang berkisah tentang kasih tak sampai antara Hamid dan Zainab ini menjadi novel pertama Buya Hamka yang mengkritik nilai-nilai sosial dan jujur dalam hal sentimentil. Selain itu, roman ini pun memiliki daya pikat yang selalu dinanti para pembacanya berupa akhir atau ending cerita yang memanggungkan dua tokoh utamanya meninggal dunia. Ini merupakan jenis akhir cerita yang selalu ditunggu-tunggu pembaca dari sosok Buya Hamka.

Bila pada Di Bawah Lindungan Ka’bah, Buya Hamka menerangkan sosok-sosok tradisional. Maka lain halnya dalam roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijck. Menurut James Rush, di roman ini Buya Hamka mulai mengenalkan sosok pemuda-pemudi Hindia yang modern dan bergulat dengan kebebasan baru dalam hidup di luar desa. Hingga para pembaca baik di Pedoman Masyarakat maupun yang membacanya secara utuh dalam satu buku merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang dipanggungkan Buya Hamka di dalamnya. Hingga Buya Hamka pun berhasil membuat para pembacanya merasa tersentuh. Itu mengapa James Rush mengatakan bahwa Buya Hamka berhasil dan selalu jujur dalam soalan sentimentil ini. Dan antara tahun 1936 sampai tahun 1942, Buya Hamka tercatat telah menerbitkan enam novel dan beberapa cerpen yang sebagian besarnya telah terbit terlebih dahulu di halaman-halaman Pedoman Masyarakat. Buya Hamka menulis cerita-cerita seperti itu tak lebih sebagai hiburan untuk membantu penjualan majalahnya dan menambah penghasilan. Dengan segera ia menerbitkan seri ceritanya sebagai buku dan membantu menghidupkan pasar murah novel di Hindia yang digarap percetakan swasta.

Menarik bila kemudian nama Buya Hamka ditempatkan sebagai bagian teratas dalam pentas kebudayaan dan kesusastraan Indonesia. Buya Hamka telah memberikan begitu banyak kontribusi terhadap keberlangsungan kebudayaan Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Minang serta bahasa Melayu yang merupakan akar dari bahasa Indonesia. Dalam setiap roman dan cerpen yang ditulisnya, Buya tidak serta merta melepaskan jati dirinya sebagai seorang Minang. Latar kehidupan baik tempat maupun pesan-pesan moral yang ditulisnya di setiap roman dan cerpennya tak terlepas dari pengajaran dan nasehat para leluhurnya yang merupakan orang-orang Minang. Ini menandakan bahwa kearifan lokal bisa menjadi jalan penyambung untuk mengutuhkan jati diri bangsa juga karakteristik bangsa yang tidak boleh tercerabut begitu saja. Meski dalam beberapa roman dan cerpennya Buya mulai mengenalkan peristiwa-peristiwa atau budaya modern. Tapi, di tengah relik peristiwa dan budaya modern, Buya tidak pernah lupa menyisipkan kultur budaya leluhurnya. Itu bisa disaksikan atau disimak dalam penulisan roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijck. Sebuah roman yang berkisah tentang bagaimana adat bersimpang jalan dengan modernitas namun tetap diperlakukan anggun hingga dari keduanya lahir sebuah cerita yang begitu apik dikisahkan di tengah serbuan budaya dan modernitas ala Barat. Selain cerita-ceritanya yang menghibur, terselip pula bagaimana Buya mengajarkan kepada berbagai generasi agar tetap setia menjaga dan merawat marwah bangsa melalui bahasa dan budayanya. Itu terlihat dari beberapa roman dan cerpen yang ditulis Buya Hamka dengan unsur kebudayaan dan bahasa Minangnya yang kental. Dan ini tentu saja bisa dijadikan sebagai salah satu warisan berharga untuk banyak generasi yang lahir setelahnya dalam perihal menjaga dan melestarikan bahasa serta budaya bangsa sebagai ejawantah dari perwajahan bangsa kita hari ini.

Penutup

Menarik memang apa bila kita menelusuri bagaimana perjalanan serta kiprah seorang Buya Hamka dalam bidang kesusastraan. Meski karya sastranya sering Buya anggap sebagai sarana menghibur diri. Namun, Buya tidak pernah lupa menyelipkan nilai-nilai moral juga pendidikan yang bermuara pada budaya adiluhung tanah kelahirannya. Itu ditanamkan secara bertahap sebagai bagian dari penjagaan terhadap aset bangsa yang kerap dilupakan. Maka pantaslah bila kemudian nama Buya Hamka disejajarkan dengan para novelis besar bangsa ini termasuk dengan Pramoedya Ananta Toer yang selama hidupnya tak pernah lelah dan letih memusuhi Buya Hamka. Sebab apa yang dilakukan Buya Hamka dahulu sudah selesai dan kini tugas itu sudah berpindah tangan kepada kita untuk dilanjutkan kemudian. Wallahu a’lam bish shawab.****

Daftar Pustaka :

  • Rush R, James (2017), Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
  • Rosidi, Ajip (2013), Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Bandung, Pustaka Jaya.
  • Hamka, Rusydi (1981), Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, Jakarta, Pustaka Panjimas.

Tentang Penulis :

Aldy Istanzia Wiguna– merupakan tenaga pengajar di Pesantren Persis 20 Ciparay. Saat ini diamanahi sebagai ketua umum Pesantren Sastra, lembaga pengkajian budaya dan kesusastraan di bawah Lembaga Kajian Turats dan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Pemuda Persis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.