Hakikat Dan Syarat Mubahalah

Teduh.Or.Id – Mubahalah adalah suatu istilah dalam bahasa Arab yang maksudnya adalah : Berkumpulnya sekelompok orang setelah terjadinya perselisihan di anatara mereka dalam suatu urusan, kemudian mereka berkata: “Laknat Allah atas yang zhalim di antara kita” (Lisanul ‘Arab 11/71)[1]

Mubahalah dianjurkan dalam syariat islam dengan tujuan untuk membenarkan suatu yang memang hak, dan menundukkan kebatilan. Dan dasar hukum dianjurkannya Mubahalah adalah Allah berfirman:

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ. آل عمران / 61

Artinya : “Siapa yang membantahmu di dalamnya (tentang kisah Nabi Isa) sesudah datang ilmu (kebenaran) kepadamu, maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta” (al-Imran : 61)

Dalam hadits tentang kisah dua orang dari negeri Najran dalam Shahih al-Bukhari juga merupakan dasar hukum dianjurkannya Mubahalah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

وفيها مشروعية مباهلة المخالف إذا أصر بعد ظهور الحجة وقد دعا بن عباس إلى ذلك ثم الأوزاعي ووقع ذلك لجماعة من العلماء ومما عرف بالتجربة أن من بأهل وكان مبطلا لا تمضى عليه سنة من يوم المباهلة ووقع لي ذلك مع شخص كان يتعصب لبعض الملاحدة فلم يقم بعدها غير شهرين

“Dan dalamnya (hadits ini) ada anjuran Mubahalah terhadap orang yang menentang apabila ia tetap membangkang setelah nampaknya suatu hujjah, Ibnu ‘Abbas pernah mengajak kepada hal itu (Mubahalah) kemudian juga al-Auza’i, dan itu juga pernah terjadi pada beberapa kelompok ulama, dan (fakta) yang telah diketahui dengan percobaan, bahwa sesungguhnya siapa saja yang dimubahalahkan dan dia seorang yang menolak kebenaran, tidak akan berlalu atasnya satu tahun (sampai laknat terjadi) mulai dari hari Mubahalah. Dan hal itu telah terjadi pada diri saya pribadi bersama seorang yang fanatik kepada sebagian kaum Mulhid (ateis) maka ia tidak mampu berdiri setelah dua bulan dari Mubahalah”[2]

Ibnulqayyim Rahimahullah berkata:

 السُّنَّة فى مجادلة أهل الباطل إذا قامت عليهم حُجَّةُ اللهِ ولم يرجعوا ، بل أصرُّوا على العناد أن يدعوَهم إلى المباهلة ، وقد أمر اللهُ سبحانه بذلك رسولَه ، ولم يقل : إنَّ ذلك ليس لأُمتك مِن بعدك

“Merupakan suatu Sunnah dalam perdebatan dengan pembela kebatilan apabila hujjah Allah telah tegak atas mereka namun mereka tidak rujuk, bahkan mereka tetap di atas pembangkangan adalah agar mereka diajak kepada Mubahalah, Allah Subhanahu Wata’ala telah memerintahkan Rasul-Nya dengan hal itu, dan Allah tidak pernah berifrman : Bahwa hal itu (Mubahalah) bukan untuk ummatmu setelah (wafat)mu.”[3]

Adapun syarat-syarat Mubahalah adalah seperti yang telah disimpulkan oleh al-‘Allamah Ahmad bin Ibrahim dalam Syarh Qashidah Ibnilqayyim :

 وأما حكم المباهلة : فقد كتب بعض العلماء رسالة في شروطها المستنبطة من الكتاب والسنة والآثار وكلام الأئمة ، وحاصل كلامه فيها : أنها لا تجوز إلا في أمر مهم شرعا وقع فيه اشتباه وعناد لا يتيسر دفعه إلا بالمباهلة ، فيشترط كونها بعد إقامة الحجة ، والسعي في إزالة الشبه ، وتقديم النصح والإنذار ، وعدم نفع ذلك ، ومساس الضرورة إليها. انتهى

“Dan sebagian ulama telah menulis lembaran dalam syarat-syaratnya Mubahalah yang diintisari dari al-Qur’an, al-Sunnah, beberapa Atsar, dan pendapat para ulama, dan kesimpulan perkataan mereka dalam hal ini adalah :

Mubahalah tidak boleh dilakukan kecuali dalam masalah yang penting dalam syariat, dimana masalah tersebut terdapat kesamaran dan penolakan, sehingga tidak mudah untuk membantahnya kecuali dengan Mubahalah,

Mubahalah disyaratkan setelah penegakan Hujjah, dan setelah berusaha menghilangkan kesamaran hukum yang menjadikan mereka menolak yang hak.

Mubahalah disyaratkan dilakukan setelah disampaikan nasehat dan peringatan, namun cara itu kemudian tetap tidak bermanfaat.

Dan dilakukan karena adanya keperluan mendesak untuk melakukan Mubahalah.”

Dan di antara semua syarat tersebut yang paling penting adalah ketulusan niat dalam menjalankan Mubahalah, Syaikh Shalih al-Munajjid berkata dalam fatwanya:

إخلاص النية لله تعالى ؛ وأن يكون الغرض من المباهلة إحقاق الحق ونصرة أهله وإبطال الباطل وخذلان أهله . فلا يكون الغرض منها الرغبة في الغلبة للتشفي وحب الظهور والانتصار للهوى ونحو ذلك

“Mengikhlaskan niat hanya karena Allah Ta’ala, dan hendaknya tujuan dari Mubahalah tersebut ialah menetapkan yang hak dan menolong pihak yang benar, dan membatalkan kebatilan, dan menghinakan pihak yang batil. Maka tujuan Mubahalah bukan ambisi untuk meraih kemenangan untuk mengobati rasa sakitnya, dan menyukai ketenaran dan memenangkan kemauan, dan hal-hal yang semisal dengannya”.[4]

وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وسلم


[1] islamqa.info klik untuk baca

[2] Fathulbari Hadits dalam Kitab al-Maghazi/Bab Qishhah Ahli Najran No. Hadits 4380)

[3] Zadul’ma’ad (3/643)

[4] Klik alamat web untuk membaca: islamqa.info