Hadits, Sunnah dan Hikmah, Kenali Yuk!

Teduh.Or.Id – Hadits, Sunnah dan Hikmah adalah tiga kata yang sudah tidak asing bagi setiap muslim. ketiga kata tersebut sebenarnya berasal dari al-Qur’an dan Sunnah.

Adapun kata hadits telah disebutkan dalam satu riwayat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكذابين

“Siapa saja yang memberitakan hadits dariku yang telah diriwayatkan bahwa hadits tersebut kedustaan maka dia (orang yang memberitakan tersebut) termasuk salah satu pendusta.“[1]

Sedangkan kata as-Sunnah telah tertera di dalam al-Qur’an mau pun hadits. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

فمن رغب عن سنتي فليس مني 

“Maka siapa saja yang tidak suka dengan Sunnahku maka ia bukan dariku.”[2]

Kata hikmah tersebut di dalam al-Qur’an , Allah berfirman:

 يؤتي الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيرا كثيرا وما يذكر إلا أولوا الألباب

“Allah memberikan hikmah terhadap siapa pun yang Ia kehendaki, dan siapa saja yang diberi hikmah maka sungguh ia telah diberikan kebaikan yang banyak, dan tidaklah orang yang menjadi ingat kecuali mereka yang memiliki akal.”[3]

kata Hikmah dalam Ayat ini ditafsirkan berbeda-beda oleh para Ulama [4] dan keragaman tafsir tersebut dapat dikatakan mengerucut maknanya kepada al-ilmu dan pemahaman (Fiqh), dan kedua hal inilah yang dapat membawa seorang kepada yang hak.

Perbedaan Hadits, as-Sunnah dan al-Hikmah

Ketika kata hadits disebut, maka maknanya dikembalikan kepada definisi yang telah ditetapkan dalam Ilmu Mushthalahul Hadits. Yaitu :

ما أضيف الى النبي من قول أو فعل أو تقرير أو صفة

“Hal-hal yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meliputi ucapan, perbuatan, ketetapan, dan atau sifat.” [5]

Dan berarti hadits di sini merupakan sumber hukum Syari’at kedua setelah al-Qur’an.

Sedangkan kata as-Sunnah memiliki makna yang lebih luas dari hadits, dan sekarang kita coba telaah makna as-Sunnah tersebut:

  1. Semua yang ada di dalam al-Qur’an dan hadits adalah Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang beliau berjalan di atasnya.
  2. as-Sunnah dengan makna hadits atau sebagai salah satu sumber hukum Syariat yang terdiri dari al-Qur’an, hadits, Ijma’ dan Qiyas.
  3. as-Sunnah terkadang yang dimaksud dengannya adalah al-Mandub. yaitu satu perintah yang anjurkan Islam namun bukan sebagai perintah yang wajib.
  4. as-Sunnah sebagai lawanan kata Bid’ah. [6]

Adapun kata hikmah yang ditafsirkan oleh Abu Malik sebagai as-Sunnah dapat dikembalikan maknanya kepada al-ilmu, sebab ilmu yang sesungguhnya adalah memahami yang benar terhadap apa-apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata [7]:

والعلم إما نقل مصدق عن معصوم وإما قول عليه دليل معلوم وما سوى هذا فإما مزيف مردود وإما موقوف لا يعلم أنه بهرج ولا منقود

“al-Ilmu dapat berupa nukilan yang dipercaya dari sang Ma’shum (Nabi) atau perkataan yang berdasarkan di atas dalil, selain hal ini maka dia adalah kepalsuan yang tertolak atau bisa jadi sesuatu yang Mauquf (tidak bisa diambil apa apa darinya) tidak diketahui bahwa sebenarnya adalah penipuan dan tidak diketahui pula apakah ia selamat dari tipuan.”

Dengan demikian maka kata hikmah memiliki keterkaitan yang erat dengan kata as-Sunnah beserta keempat maknanya seperti yang saya sebutkan di atas. Wallahu A’lam.

___________________________________

[1] Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimahnya. Lihat Syarh Shahih Muslim Hal. 22/ Juz 1-2/ Cet. Darul Ma’rifah. Bairut. dan juga oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya.

[2] Hadits Riwayat Imam Bukhari dalam Shahihnya/ Kitabun Nikah/Bab Targhib Finnikah. Dan yang kami tuliskan hanya bagian akhirnya saja.

[3] al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 269

[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir surat al-Baqarah Ayat 269. di situ beliau menyebutkan beberapa pendapat Ulama Tafsir terhadap kata hikmah. di antaranya perkataan ِAbu Malik yang mengatakan bahwa hikmah adalah Sunnah.

[5] Dr. Mahmud Thahhan. Taisiru Mushthalahil Hadits. Hal. 17 Maktabatul Ma’arif. Riyadh.

[6] Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad Hafizhahullah. al-Hats-ts ‘Alat Tiba’is Sunnah. Hal. 16-19 Cet. Maktabatur Ridhwan. 2005 H. Mesir.

[7] Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah. Majmu’ Fatawa. 13/ 329-330. Cet. ke-3 Darul Wafa’. Versi Maktabah asy-Syamilah.