Hadits Setan Terbelenggu

Teduh.Or.Id – Ada banyak kesempatan yang Allah sediakan untuk orang-orang beriman dan menginginkan keselamatan di dunia dan Akhirat, di antaranya adalah dengan dijadikannya bulan Ramadhan selain untuk kewajiban berpuasa, juga sebagai musim untuk memperbanyak amal kebaikan di dalamnya.

Dan demi mempermudah langkah setiap orang yang beriman dalam meniti detik demi detik bulan Ramadhan dengan amal ibadah, Allah juga ternyata telah menutup celah-celah yang dapat memalingkan mereka dari kebaikan, sehingga kegiatan amal baik tersebut dapat dijalankan dengan lebih mudah.

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين

“Apabila Ramadhan menjelang maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dikekang dengan besi” (HR : Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Kita dapat menyaksikan, betapa kebaikan di dalam bulan Ramadhan begitu marak, orang-orang menjadi lebih religius di dalamnya dibandingkan dengan keadaan ketika mereka berada diluar Ramadhan. semua itu menjadi bukti bahwa pengaruh setan memang betul-betul terbelenggu di bulan Ramadhan.

Ini sebagai penyemangat bersama, bahwa betapa Allah menyayangi hambanya, sehingga agar kita mendapatkan kebaikan, Allah ciptakan untuk kita satu masa dan suasana yang mendukung kita untuk dapat beribadah dengan baik kepadaNya.

Makna Majazi atau Makna Hakiki Secara Bahasa

Adapun makna hadits tersebut apakah dibawa ke makna jelas kebahasaan ataukah ke makana majazi atau kinayah?

Maka lama berbeda pendapat dalam menentukan makna setan-setan dibelenggu dalam hadits ini, Qadli ‘Iyadl rahimahullah menguatkan makna hadits ini secara kinayah bukan secara makna jelas kebahasaan, walau pun kemungkinan ke makna hakikat kebahasaan juga ada. Pendapat beliau ini telah dinukilkan oleh Imam Annawawiy dalam Syarh Shahih Muslim (7/188) dan Al-Hafizh dalam Fathulbariy (4/114).

Sejalan dengan pendapat ini – sebagaimana yang disebutkan Al-Hafizh – adalah Imam Atturibisytiy (Wafat 661 H.) rahimahullah dalam Al-Muyassar Fi Syarh Mashabihussunnah. Beliau memastikan maknanya dibawa ke makna majazi bukan makna jelas kebahasaan.

Namun Azzain bin Al-Munayyir[1] (Wafat 683 H.) rahimahullah membantahnya, bahwa tidak perlu dialihkan maknanya ke makna selain dari hakikat kebahasaan, beliau berkata :

 والأول أوجه ولا ضرورة تدعو إلى صرف اللفظ عن ظاهره

“Dan pendapat yang pertama lebih tepat, dan tidak ada keterdesakan yang mendorong untuk merubah makna lafaz dari maknanya yang nampak (secara kebahasaan)”

Sejalan dengan itu, Imam Al-Qurthubiy rahimahullah juga menguatkan makna hadits tersebut ke makna hakikat kebahasaan, ini sebagaimana yang disebutkan Al-Hafizh dalam Fathulbariy:

وقال القرطبي بعد أن رجح حمله على ظاهره فإن قيل كيف نرى الشرور والمعاصى واقعة في رمضان كثيرا فلو صفدت الشياطين لم يقع ذلك فالجواب أنها إنما تقل عن الصائمين الصوم الذي حوفظ على شروطه وروعيت ادابه أو المصفد بعض الشياطين وهم المردة لاكلهم كما تقدم في بعض الروايات أو المقصود تقليل الشرور فيه وهذا أمر محسوس فإن وقوع ذلك فيه أقل من غيره اذلا يلزم من تصفيد جميعهم أن لا يقع شر ولا معصية لأن لذلك اسبابا غير الشياطين كالنفوس الخبيثة والعادات القبيحة والشياطين الإنسية

Al-Qurthubiy Rahimahullah – setelah menguatkan makna hadits ke makna zhahirnya –beliau berkata : “Maka jika dikatakan bagaimana bisa kita banyak melihat keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat terjadi dalam ramadlan, jika benar para setan dibelenggu tentu hal itu tidak akan terjadi?”

Maka Jawabnya adalah : “Sesungguhnya maksiat-maksiat dan keburukan-keburukan itu terkurangi hanya dari orang-orang yang berpuasa dengan puasa yang dijaga syarat-syaratnya dan diperhatikan adab-adabnya, atau setan yang dibelenggu hanyalah sebagiannya yaitu setan-setan Maraddah (penggoda) saja, bukan semua jenis setan, seperti yang telah berlalu penjelasannya dalam beberapa riwayat, atau yang dimaksud adalah meminimalisir keburukan-keburukan di dalamnya, dan ini perkara yang dapat dirasakan oleh indra bahwa sesungguhnya keburukan-keburukan itu terjadi lebih sedikit di dalamnya dari pada bulan selainnya, karena bukanlah suatu kelaziman dari pembelengguan semua setan-setan, keburukan dan maksiat tidak akan terjadi, karena hal itu dapat saja terjadi dengan sebab-sebab selain setan-setan, seperti jiwa-jiwa yang buruk, dan kebiasaan-kebiasaan yang jelek, dan setan-setan dari kalangan manusia.” (4/114)

Imam Annawaiy dan Al-Hafizh Ibnu Hajar – sebatas telaah kami – beliau berdua tidak memberikan pendapat yang lebih kuat untuk dipilih, Kemungkinan karena kedua pendapat di atas adalah masalah yang Sa’igh (ada kelonggaran) padanya untuk berbeda. Wallahu A’lam.

Syaikh Saleh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berpendapat maknanya harus dibawa ke makna hakikat bahasa, beliau menjelaskan:

ومثل هذا الحديث من الأمور الغيبية التي موقفنا منها التسليم والتصديق ، وأن لا نتكلم فيما وراء ذلك ، فإن هذا أسلم لدين المرء وأحسن عاقبة ، ولهذا لما قال عبد الله ابن الإمام أحمد بن حنبل لأبيه : إن الإنسان يصرع في رمضان . قال الإمام : هكذا الحديث ولا تكلم في هذا . ثم إن الظاهر تصفيدهم عن إغواء الناس ، بدليل كثرة الخير والإنابة إلى الله تعالى في رمضان

“Dan hadits seperti ini termasuk ke dalam perkara-perkara yang ghaib yang sikap kita terhadapnya adalah menerima dan percaya, dan agar jangan kita berbicara apa pun di belakang itu, sesungguhnya sikap ini lebih selamat untuk Agama seseorang dan lebih bagus akibatnya, oleh karena itu ketika Abdullah putranya Imam Ahmad bin Hanbal bertanya kepada Bapaknya : “tapi orang-orang kesurupan di Ramadlan?” Imam Ahmad menjawab : Hadits datang demikian adanya, dan kamu jangan berbicara pada urusan ini”. Kemudian makna yang jelas adalah pembelengguan mereka dari menyesatkan manusia, dengan dalil banyaknya kebaikan dan pertaubatan kepada Allah di dalam bulan Ramadlan”. (Majmu’ Al-Fatawa 20)

Demikianlah, semoga pembaca mendapat faedah darinya dan cukup menjadi bekal untuk mencerna ucapan para penceramah ketika membawakan hadits tersebut.


[1] Inilah yang benar , Al-Munayyir, bukan Al-Munir . Lihat ejaan tepatnya dalam kitab Taudlihul Musytabih karya ibnu Nashiruddin 8/289.