Hadits: Membaca Shalawat ketika Telinga Berdenging

Teduh.Or.Id – Telinga berdenging barangkali telah dialami oleh hampir semua orang, namun yang menarik dalam hal ini katanya ada bacaan khusus seperti membaca shalawat yang dianjurkan ketika denging di telinga terjadi. Bagaimana sebenarnya hal ini?

Bismillah,Walhamdulillah. Membaca shalawat pada saat telinga berdenging memang disebutkan dalam sebuah riwayat hadits, seperti yang disebutkan Imam al-Nawawiy rahimahullah dalam kitab al-Adzkar.[1] Hadits tersebut adalah :

إذا طنت أذن أحدكم فليذكرني وليصل علي وليقل : ذكر الله من ذكرني بخير

“Apabila telinga seorang dari kalian berdenging maka hendaklah ia mengingatku dan bershalawat kepadaku dan ucapkanlah, “Allah mengingat siapa saja yang mengingatku dengan kebaikan.”

Dan berikut ulasan ringkas mengenai hadits ini:

Dihukumi Maudlu’ alias Palsu

Al-‘Allamah Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah menilai hadits ini palsu (maudlu’) seperti yang beliau jelaskan dalam Silsilah al-Dla’ifah (hadits no. 2631)[2] dan hukum maudlu’ ini juga sebelumnya telah dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibunul Jauziy dalam kitabnya Al-Maudlu’at[3] dan Ibnul Qayyim dalam Al-Manarulmunif[4].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وكل حديث في طنين الأذن فهو كذب

“Semua hadits dengigan telinga maka ia hadits dusta”[5]

Al-Hafizh al-Suyuthiy juga memasukan hadits ini ke dalam kitabnya yang bertema kumpulan-kumpulan hadits yang palsu.[6] Demikian pula al-‘Allamah al-Syaukaniy rahimahumullah jami’an memasukkan hadits ini ke dalam kitabnya yang bertema kumpulan hadits-hadits maudlu’ atau palsu.[7]

Sebab hadits Ini dihukumi maudlu’ atau palsu

Hadits ini dihukumi palsu karena dalam jalur periwayatannya ada Ma’mar dan ayahnya. Imam Bukhariy rahimahullah menghukumi mereka berdua sebagai periwayat dengan predikat munkarul hadits.[8]

Maka tidak benar jika dikatakan, “adalah suatu amalan sunnah membaca shalawat ketika telinga berdenging”, sebab hadits palsu atau Maudlu’ tidak sah sama sekali menjadi pondasi suatu Sunnah karena pada hakikatnya ia bukan hadits.

Dihukumi Dla’if

Adapun Zainuddin al-‘Iraqiy al-Syafi’i rahimahullah menghukumi hadits ini dla’if seperti yang beliau sebutkan dalam kitab Takhrij Ahadits Ihya’ Ulumuddin.[9]

Al-‘Allamah al-Sakhawiy juga menilai hadits ini dla’if sebagaimana yang dinukilkan Ibnu ‘Allan dalam al-Futuhat al-Rabbaniyyah ‘Alal Adzkar al-Nawawiyyah[10] (6/198)

Hadits palsu berbeda dengan hadits dlaif, mayoritas ulama Madzhab al-Syafi’iyyah menetapkan bahwa hadits dla’if atau lemah apabila terkait dengan Fadla’ilul A’mal boleh diamalkan, dan sebagian lainnya seperti al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan satu syarat lagi sehingga boleh diamalkan yaitu agar hadits dla’if tersebut bukanlah hadits yang syadid al-dla’if[11] atau sangat dla’if.

Dan jika diperhatikan dengan sikap yang adil maka akan didapati bahwa hadits ini sebenarnya masuk ke kategori tersebut, yakni hadits yang sangat lemah (syadid al-dla’if). Karena periwayatnya bukanlah seorang rawi yang dinilai memiliki kelemahan yang ringan, akan tetapi dihukumi oleh Imam Al-Bukhariy rahimahullah dengan predikat Munkarulhadits.

Atas ini, maka masih belum tepat jika dikatakan, “adalah suatu amalan yang sunnah membaca shalawat ketika telingan berdenging”. Semua itu karena haditsnya ternyata bukanlah hadits lemah yang biasa.

Dihukumi Hasan

Menurut Al-Haitsamiy hadits ini hasan berdasarkan sanad riwayat yang ada dalam Mu’jamulkabir karya Imam Al-Thabraniy, hadits itu adalah:

حدثنا أحمد بن عمرو القطراني ، حدثنا أبو الربيع الزهراني ، حدثنا حبان بن علي ، عن محمد بن عبيد الله بن أبي رافع ، عن أخيه عبد الله بن عبيد الله بن أبي رافع ، عن أبيه ، عن جده ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا طنت أذن أحدكم فليذكرني ، وليصل علي ، وليقل : ذكر الله بخير من ذكرني.

Al-Haitsamiy rahimahullah, beliau berkata:

رواه الطبراني في الثلاثة والبزار باختصار كثير وإسناد الطبراني في الكبير حسن

Hadits ini telah diriwayatkan al-Thabraniy dalam tiga mu’jam-nya, dan oleh al-Bazzar dengan ringkas sekali, dan sanad al-Thabraniy dalam Mu’jam al-Kabir Hasan.”[12]

Kemudian simpulan al-Haistami ini disepakati oleh Al-Munawiy, beliau berkata:

وبه بطل قول من زعم ضعفه فضلا عن وضعه . بل أقول : المتن صحيح ، فقد رواه ابن خزيمة في ” صحيحه ” باللفظ المذكور عن أبي رافع . وهو ممن التزم تخريج الصحيح ، وبه شنعوا على ابن الجوزي

“Dengannya ucapan orang yang menyangka lemahnya hadits ini menjadi batal apalagi hendak dikatakan palsu (Maudlu’). Akan tetapi saya tegaskan: “Al-Matn (isi) hadits ini Shahih, Ibnu Khuzaimah telah meriwayatkannya di dalam kitab Shahihnya dengan lapazh hadits tersebut dari Abu Rafi’. Sementara beliau ini (Ibnu Khuzaimah) termasuk ke dalam kelompok Ahli hadits yang menetapkan periwayatan yang shahih (dalam kitabnya tersebut), dan dengan sebab inilah kemudian mereka para ulama mencela Ibnuljauziy[13]

Namun sayangnya, penilaian hadits ini sebagai hadits hasan tidak sesuai dengan kaedah dan definisi hadits hasan, sebab di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafik, seorang periwayat yang dihukumi lemah bahkan matruk,[14] dan dengan sebab inilah Al-Albaniy memberikan catatan atas penilaian tersebut.

Adapun dalil bahwa hadits ini diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya maka tidak serta merta dapat menjadikannya shahih begitu saja, oleh karena itu al-‘Allamah al-Sakhawiy terheran-heran atas hal ini, bagaimana bisa dikatakan hadits yang shahih sementara Imam Abu Ja’far al-Uqailiy sendiri mengatakan bahwa hadits ini Laa Ashla Lahu, yakni tidak ada dasarnya alias palsu.[15]

Atas hal tersebut maka yang lebih dekat dalam hemat kami, hadits ini tidak tepat dijadikan sebagai dalil untuk menetapkan maknanya sebagai suatu sunnah yang berasal dari Nabi ﷺ . Tentu membaca shalawat atas Nabi ﷺ secara lepas adalah amalan yang sangat baik dan memiliki banyak keutamaan, akan tetapi ketika shalawat tersebut diatur dan disesuaikan dengan waktu  tertentu dan momen tertentu maka tentu harus dilandasi dengan petunjuk Nabi ﷺ dari hadits yang sah dijadikan sebagai hujjah.

Dan di antara momen yang terdapat padanya sunnah membaca shalawat atas Nabi ﷺ adalah ketika nama Nabi ﷺ disebutkan. Beliau bersabda:

رغم أنف رجل ذكرت عنده فلم يصل علي

“Rugilah seorang lelaki namaku disebut di sisinya ia tidak bershalawat atasku”[16]

 

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم

(Mus/Rgo)


[1] Al-Adzkar 492

[2] Silsilah Ahadits al-Dla’ifah Wal Maudlu’ah (6/137)

[3] Al-Maudlu’at (3/76)

[4] Manarulmunif (1/59)

[5] Manarulmunif (1/59)

[6] Lihat Al-la’ali’u al-Mashnu’ah (2/242) Nomor al-Syamilah

[7] Lihat al-Fawaidul Majmu’ah (1/224) Nomor al-Syamilah

[8] Al-Maudlu’at (3/76)

[9] (1/290) Maktabah al-Syamilah

[10] (6/198) Cet. Al-Azahariyyah

[11] Tadriburrawiy (1/351)

[12] Majmak al-Zawaid

[13] Faidlulqadir

[14] ” محمد بن عبيد الله بن أبي رافع قال البخاري : منكر الحديث ، قال يحيى : ليس بشيء ”  وقال الدارقطني :” متروك له معضلات

[15] Al-Futuhat al-Rabbaniyyah A’al Adzkar al-Nawawiyyah (6/198)

[16] Hadits Riwayat Tirmidziy No.3545 , Shahih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.