Hadits: Perkara Bulan Sya’ban Kerap Dijadikan Modal Ceramah

Teduh.Or.Id – Untuk membangkitkan dan mendorong semangat jamaahnya, kadang penceramah kerap menyebutkan hadits atau kisah orang-orang saleh, akan tetapi kadang hadits yang disampaikannya – karena mungkin tidak mengetahui – adalah hadits yang Dla’if atau lemah. dan di antara hadits lemah yang kerap disampaikan menjelang bulan Sya’ban adalah hadits berikut ini, :

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي

Artinya: “Rajab bulan Allah dan Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan ummatku”

Al-Hafizh As-Suyuthi Rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shaghir (1/426) berkata :

رواه أبو الفتح بن الفوارس في أماليه عن الحسن مرسلاً. ضعيف

“Abul Fath bin Al-Fawaris telah meriwayatkannya dalam kitab Amali-nya dari al-Hasan dalam keadaan Mursal. (ini) Dla’if. “

Hadits ini juga dinilai Dla’if oleh al-Allamah al-Muhaddits Nashiruddin Al-Albany dalam Silsilah Ahadits Dha’ifah Wal Maudlu’ah No. hadits yang ke-4400 beliau berkata:

وهذا إسناد ضعيف لإرساله وقران بن تمام صدوق ربما أخطأ

“Dan Sanad ini Dla’if karena ke-Mursalannya sedangkan Qiran (atau Qaran) bin Tamam adalah periwayat yang Shaduq terkadang tersalah (hafalannya dalam meriwayatkan).”

Hadits serupa yang juga sering diucapkan oleh para penceramah yang tidak membedakan hadits lemah dan yang Shahih yaitu:

شعبان شهري ورمضان شهر الله وشعبان المطهر ورمضان المكف

Artinya: “Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan Allah, dan Sya’ban adalah pembersih, dan Ramadlan adalah penggugur”

Hadits ini diriwayatkan oleh Addailami 2/233-234 dan dinilai sangat lemah oleh al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albany Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Dha’ifah Wal Maudlu’ah No. Hadits yang ke-3746 beliau berkata:

وهذا إسناد ضعيف جداً الخشني هذا متروك

“Dan Sanad ini adalah Sanad yang Dha’if sekali, (seorang periwayat bernama) Al-Khasyaniy (dalam sanad) ini Matruk. (ditinggalkan atau tidak dapat diperhitungkan sama sekali riwayat haditsnya)”

Hal ini penting diketahui oleh Anda agar jangan sampai meyakini sesuatu yang tidak pasti kebenarannya sebagai sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan menjadi pelajaran untuk para penceramah agar lebih berhati-hati menyampaikan hadits sehingga jangan sampai mereka menyampaikan hadits yang lemah dan terindikasi palsu kepada ummat.