Hadits: Keutamaan Mati Di Hari Jum’at, Dla’if ?

Teduh.Or.Id – Mati di hari jumat sudah sangat populer di masyarakat muslim sebagai hari yang utama sehingga kerap hal ini dihubungkan ke ciri-ciri Husnulkhatimah. Bukan tidak berdasar, tapi memang ada riwayat hadits yang telah menjelaskannya. Hadits itu berbunyi :

ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر

“Tiadalah seorang yang muslim wafat pada hari jum’at atau malam jum’at kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur”. (Hadits Riwayat Imam al-Tirmidziy dan Ahmad[1])

Namun apakah hadits ini Shahih ataukah Dla’if (lemah)?

Hadits ini Dla’if menurut al-Hafzh ibnu Hajar rahimahullah, beliau berkata:

وكأن الخبر الذي ورد في فضل الموت يوم الجمعة لم يصح عند البخاري فاقتصر على ما وافق شرطه وأشار إلى ترجيحه على غيره والحديث الذي أشار إليه أخرجه الترمذي من حديث عبد الله بن عمرو مرفوعا ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر وفي إسناده ضعف وأخرجه أبو يعلى من حديث أنس نحوه وإسناده أضعف

“Dan seolah riwayat hadits yang telah ada tentang keutamaan mati pada hari jumat tidak shahih di sisi (imam) al-Bukhari, – sampai kepada perkataan beliau – dan hadits yang telah diisyaratkannya telah dikeluarkan al-Tirmidzi dari hadits Abdullah bin ‘Amr secara Marfu’, (yang berbunyi):”Tiadalah seorang yang muslim wafat pada hari jum’at atau malam jum’at kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur”. Dan di dalam sanadnya ada kelemahan, dan telah dikeluarkan oleh Abu Ya’la dari hadits Anas yang semisal dengannya dan Sanadnya lemah.[2]

Ulama kontemporer yang menilai hadits ini lemah adalah Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata:

 أحاديث الموت يوم الجمعة، أو ليلتها، كلها ضعيفة

“Hadits-hadits tentang (keutamaan) wafat hari jum’at atau malamnya semuanya lemah”.[3]

Syaikh Prof. Sa’d bin ‘Abdillah al-Humayyid juga menilai hadits ini lemah sebagaimana yang telah beliau paparkan dalam artikel khusus[4]

Dan Al-Muhaddits al-Albani rahimahullah berbeda pendapat dalam hal ini, beliau menilai hadits ini Hasan dengan penggabungan seluruh jalur riwayat yang ada, beliau berkata:

فالحديث بمجموع طرقه حسن أو صحيح

“Maka hadit ini dengan segenap jalur-jalurnya adalah Hasan atau Shahih”[5]

Namun selain bertentangan dengan pendapat sebelumnya, pendapat Syaikh al-Albani ini saya dapatkan telah dibantah oleh al-Muhaddits Syu’aib al-Arnauth dalam catatannya atas Musnad Imam Ahmad, setelah melalui penjelasan yang panjang beliau berkata:

فهذه الشواهد لا تصلح لتقوية الحديث، وقد أخطأ الألباني في “الجنائز” ص 35، فحسنه أو صححه بها تقليداً للمباركفوري في “تحفة الأحوذي

“Maka Syawahid ini tidak layak untuk menguatkan hadits ini, dan al-Albani telah keliru dalam kitabnya al-Jana’iz Hal.35 dengan menghasankannya atau menshahihkannya dengan sebab Syawahidnya”.[6]

Demikianlah, perbedaan pendapat tentang hadits ini di kalangan ulama, suatu hal yang tidak bisa dihindarkan, namun kami lebih condong dengan pendapat yang mengatakannya lemah. Wallahu A’lam.


[1] Sunan al-Tirmidziy

[2] Fathulbari (4/188-189) cet. Dar Thayyibah

[3] Fatwa Ibnu Baz

[4] https://www.alukah.net/web/homayed/10178/38/

[5] Ahkamul-Jana’iz (1/35)

[6] Musnad Ahmad Tahqiq Syu’aib al-Nauth cetakan al-Risalah (11/150) Hadits No. 6582 Penomoran Maktabah al-Syamilah.