Gugurkah Kewajiban Shalat Dzuhur Pada Jum’at Hari raya

Sebelumnya telah kami sampaikan hukum Shalat Jumat bagi orang yang menghadiri Shalat Hari Raya, bahwa adanya keringanan bagi yang tidak menghadiri Shalat Jumat di hari tersebut adalah pendapat yang kami pilih dan telah kami jelaskan juga alasannya di sana.

Yang menjadi persoalan berikutnya kini terkait dengan Shalat Dzuhur pada Hari Raya yang terjadi bertepatan pada hari Jum’at, apakah menjadi gugur juga seperti halnya Jum’at ataukah tidak?

Pendapat bahwa Dzuhur menjadi gugur pada hari tersebut adalah pendapat yang lemah walau pun sebagian Ulama condong menguatkannya seperti Asy-Syaukany Rahimahullah.

Namun sebenarnya Shalat Dzhuhur pada hari tersebut hukumnya tetap Wajib karena ketetapan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang terdapat di dalam Ash-Shahih (Al-Bukhari) ketika seorang Arab bertanya kepada beliau tentang apa apa yang diwajibkan Allah atas dirinya dalam perkara Shalat, beliau bersabda “Lima Shalat dalam sehari semalam”.

Sisi pendalilan dari Hadits ini adalah, seandainya Shalat Dzuhur tidak wajib pada hari tersebut maka jumlah Shalat yang difardhukan akan berjumlah hanya Empat pada hari itu, bukan Lima.

Sebagian Ulama yang memandang gugurnya Shalat Dzuhur juga bersandar kepada Hadits yang dikeluarkan Abu dawud dari ‘Atho’ bin Abi Rabah, beliau berkata: “Ibnu Zubair Radhiyallahu Anhu Shalat bersama kami (menjadi Imam) di awal hari pada Hari Raya yang bertepatan dengan hari jum’at, kemudian kami beranjak ke Shalat Jum’at namun beliau tidak keluar mengimami kami (dalam Shalat Jum’at), lalu kami akhirnya Shalat sendiri-sendiri, dan konon Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berada di daerah Tha’if tatkala kami sampai kepadanya, kami menceritakan hal tersebut kepada beliau, beliau berkata : “Menepati Sunnah”.

Namun Hadits ini ternyata adalah petunjuk atas Shalat Dzuhur tidak gugur dari kewajiban, dengan alasan bahwa ketika Ibnu Zubair Radhiyallahu Anhuma tidak keluar untuk Shalat Jum’at, maka ketika itu pula justru orang-orang mendirikan Shalat dengan cara sendiri-sendiri, kalau saja Dzuhur gugur pada hari tersebut maka tentu mereka tidak akan mendirikannya dan tentunya Ibnu Zubair akan menjelaskan kepada mereka bahwa Shalat yang mereka lakukan tersebut tidak dianjurkan, dan Niscaya Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma juga akan menjelaskankan kepada mereka yang mengunjunginya dan menceritakan kisah mereka kepadanya bahwa Shalat Dzuhur tidak wajib atas mereka.

Imam Ash-Shan’any Rahimahullah dalam Subulussalam berkata: “ Bukanlah kesamaran bahwa ‘Atha’ bin Abi Rabah yang mengabarkan bahwa Ibnu Zubair tidak keluar untuk mendirikan Shalat Jum’at namun hal ini bukanlah dalil yang pasti bahwa beliau (ibnu Zubair) tidak Shalat Dzuhur di rumahnya, maka kepastian bahwa Madzhab Ibnu Zubair adalah menggugurkan Shalat Dzuhur pada hari Jum’at yang menjadi Hari Raya atas yang mendirikan Shalat Ied dengan berdasar riwayat ini tidaklah benar, karena kemungkinan beliau (ibnu Zubair) mendirikan Shalat Dzuhur di rumahnya, bahkan dalam riwayat ‘Atha’ disebutkan bahwa mereka mendirikan Shalat sendiri, yakni Shalat Dzuhur, dimana riwayat ini memberikan rasa bahwa tidak ada yang berkata dengan gugurnya Shalat Dzuhur, dan tidak sah dikatakan bahwa maksudnya adalah mereka Shalat Jum’at sendiri, karena Shalat Jum’at tidak sah kecuali dengan berjama’ah menurut Ijma’.

Kemudian pendapat yang mengatakan bahwa yang merupakan dasar pada hari Jum’at adalah Shalat Jum’at sedangkan Shalat Dzuhur hanya sebagai penggantinya, ini adalah pendapat yang Marjuh (Tidak Rojih)  bahkan justru sebaliknya, Dzuhurlah yang menjadi kewajiban asal yang difardhukan pada malam Isra’ sedangkan Shalat Jum’at disyariatkan wajibnya setelahnya, kemudian apabila Shalat Jum’at terluput maka wajib mendirikan Shalat Dzuhur menurut Ijma’, maka Shalat Jum’atlah yang menjadi pengganti Shalat Dzuhur, dan telah kami teliti hal ini dalam sebuah Risalah tersendiri”. Selesai.

Dan telah diterbitkan fatwa dari Al-Lajnah Ad-Da’imah (Komite Fatwa) bahwa pendapat yang menetapkan bahwa siapa saja yang menghadiri Shalat Ied maka menjadi gugur darinya Shalat Jum’at dan Shalat Dzuhur pada hari tersebut adalah pendapat yang tidak benar, dan oleh karena itulah para Ulama meninggalkan pendapat ini dan mereka menghukuminya dengan keliru dan menyendiri karena menyelisihi Sunnah dan menggugurkan salah satu kewajiban yang Allah Fardhukan denagn tanpa dalil.

Di antara Ulama terkini yang berpendapat dengan pendapat ini juga adalah Syaikh Ali Adam dalam kitabnya Dzkhiratul ‘Uqba beliau berkata:

“Dan adapun pendapat yang mengatakan gugurnya Dzuhur dari orang yang telah gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at termasuk dalam sesuatu yang tidak ada dalil atasnya, orang-orang yang mengatakan gugurnya Dzuhur tidak mendatangkan dalil yang jelas, akan tetapi semua dalil yang mereka kemukakan adalah bersifat kemungkinan, seperti perbuatan Ibnu Zubair yang telah terdahulu (pembahasannya), maka yang Hak adalah tidak gugurnya kewajiban mendirikan Shalat Dzuhur, sebab Wajibnya Dzuhur telah tetap dengan naskah dalil yang pasti, sementara apa yang mereka anggap ini,  yaitu gugurnya Dzuhur ditetapkan dengan dalil yang bersifat kemungkinan sehingga tidak bisa membebaskan kewajiban dengan yakin kecuali dengan mendirikan Shalat Dzuhur.”

Dengan demikian maka menjadi jelas bahwa pendapat yang mengatakan gugurnya Shalat Dzuhur adalah pendapat yang keliru, dan dalam bahasan ini juga dapat disimpulkan hukum bolehnya Shalat Dzuhur sendiri pada hari Jumat yang bertepatan dengan Hari Raya. Wallahu Aklam

Dialih bahasakan dengan sedikit pengurangan dan sedikit tambahan dari penulis pribadi, dari laman berikut http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=130496

Abu Affaf