Ghibah Pembatal Puasa, Begini Ketegasan Imam Ibnu Hazm

Spread the love

Segenap Ulama menetapkan bahwa Ghibah tidak membatalkan puasa, kecuali Imam Al-Auza’iy (wafat 157 H.) beliau mengatakan bahwa Ghibah membatalkan puasa:

 يبطل الصوم بالغيبة ويجب قضاؤه

“Puasa batal karena sebab Ghibah dan wajib mengggantinya”.

Beliau berdalil dengan beberapa hadits yang datang dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu yaitu:

  1. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan melakukannya maka bagi Allah tiada hajat pada ia meninggalkan makannya dan minumnya” (HR. Bukhari)

  1. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

“Betapa banyak yang berpuasa namun tiada baginya dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak yang berdiri (shalat) namun tiada baginya dari shalatnya kecuali bergadang saja”.

(Diriwayatkan Annasa’i, Ibnu Majah, dalam Sunan mereka berdua, dan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau berkata: “Dia Hadits Shahih atas Syarat Bukhary”)

  1. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ليس الصيام من الاكل والشرب فقط الصيام من اللغو والرفث

“Puasa bukan hanya sekedar dari makan dan minum saja, (namun) puasa sebenarnya adalah menahan diri dari kelalaian dan Rafats (porno aksi)”

(Diriwayatkan Al-Baihaqiy dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau berkata: Dia hadits yang Shahih atas Syarath Muslim)

Keempat hadits ini meskipun Shahih namun maknanya bukan ke arah batalnya puasa secara fisik sehingga mengharuskan untuk di-qadla’ di kemudian hari, akan tetapi maksudnya adalah mengurangi pahala kesempurnaannya, Imam Annawawiy Rahimahullah berkata:

واجاب اصحابنا عن هذه الاحاديث سوى الاخير بان المراد ان كمال الصوم وفضيلته المطلوبة إنما يكون بصيانته عن اللغو والكلام الردئ لا أن الصوم يبطل به

Dan Ash-Hab kami telah menjawab hadits-hadits ini kecuali hadits yang terakhir – yaitu hadits No. 4 yang penulis sebutkan disini – bahwa yang dimaksudkan dengan hadits-hadits tersebut: Sesungguhnya kesempurnaan puasa dan keutamaannya yang dituntut untuk diraih hanya ada pada puasa yang terjaga dari perbuatan sia-sia dan pembicaraan yang jelek, bukan maksudnya puasanya menjadi batal dengan sebabnya.”

Dan adapun hadits terakhir yang dimaksudkan Imam Annawawiy adalah :

  1. Disebutkan Nabi bersabda:

خمس يفطرن الصائم الغيبة والنميمة والكذب والقبلة واليمين الفاجرة

“Lima yang membatalkan puasa orang yang puasa, Al-Ghibah, Annamimah (adu domba), Dusta, mencium, dan bersumpah palsu”

Imam Annawaiy Rahimahullah menilai Hadits ini Bathil, beliau berkata :

فحديث باطل لا يحتج به

“Hadits Bathil yang tidak (sah) berhujjah dengannya”.[1]

Karena Bathil, tidak shahih, maka pembasahan maknanya pun tidak beliau perpanjang, cukup dengan keadaannya yang sangat lemah tersebut menjadi penguat untuk menolak maknanya.

Pendapat Imam Ibnu Hazm (Wafat 456 H.)

Selain Imam Al-Auza’iy rahimahullah, Imam Muhammad bin Hazm, beliau berpendapat bahwa Ghibah membatalkan puasa:

فصح أن الله تعالى لا يرضى صومه ذلك ولا يتقبله وإذا لم يرضه ولا قبله فهو باطل ساقط وأخبر عليه السلام أن المغتابة مفطرة وهذا ما لا يسع أحدا خلافه وقد كابر بعضهم فقال إنما يبطل أجره لا صومه

“Maka telah Shahih sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan meridlai puasanya dengan sebab itu, dan tidak menerimanya, dan apabila Allah tidak meridlainya dan tidak menerimanya maka hukumnya batal, gugur, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberitakan bahwa ghibah membatalkan, dan tidak leluasa seorang pun menyelisihinya dan sungguh sebagian orang menjadi gengsi (menerima) sehingga ia berkata: Sesungguhnya yang batal adalah pahalanya bukan puasanya”. (Al-Muhalla Bil Atsar 6/178)

Apa yang katakan Ibnu Hazm Rahimahullah menyelisihi kesepakatan terbanyak para ulama, sehingga menjadi populer di kalangan para Ulama ucapan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah – sebagai bantahan atas pendapat tersebut – yang berbunyi kurang lebihnya:

لو كانت الغيبة تُفطر لما صح صوم أحد منا

“Jika Ghibah itu membatalkan, maka tidak sah puasa seorang pun dari kita”.

Walau pun tidak membatalkan puasa, maka seorang Muslim wajib menjaga puasanya dari Ghibah dan hal-hal lainnya, bukan berarti ketika ghibah tidak membatalkan puasa, lalu seorang tidak menjaga dirinya dari hal tersebut.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Demikian kami jelaskan ulang dengan sedikit perubahan dari penjelasan Imam An-Nawawiy Rahimahullah dalam Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab (6/356).

Comments

comments