Fenomena Batu Akik dan Klaim Sunnah Nabi

Teduh.Or.Id – Merah Delima, Kecubung, Siluman, Kalimaya, Bacan, Klawing, dan Pancawarna, nama nama ini mungkin sering Anda dengar ditengah hiruk-pikuknya pasar cincin modern masa kini, walau terasa seperti berada di zaman batu, kala menajamkan bahasan tentangnya, namun kenyataan tak bisa dipungkiri, tidak hanya orang desa dan pinggiran saja yang ikut menggandrungi trend ini, bahkan kalangan orang kaya mulai dari pengusaha sampai artis pun ikut ambil bagian meramaikannya.

Trend ini baru booming dua tahun belakangan, sebelumnya memang sudah ada penikmat batu akik, baik yang diolah menjadi cincin, kalung, atau aksesori lainnya. Tentu Anda tahu pelawak bernama Kabul atau tenar dengan nama panggung Tessy? Ya, gayanya eksentrik dipadu dengan batu akik di sepuluh jarinya. Jadi, bisa dikatakan memang hobi batu cincin bermata akik ini sudah dikenal oleh masyarakat luas. Dan pengoleksinya pun datang dari kalangan penikmat dan pecinta seni batu alam tersebut. Bukan orang-orang sekarang yang latah karena melihat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menghadiahkan Bacan kepada Barrack Obama atau karena melihat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono memiliki batu Bacan mahal disaat pidato kenegaraannya beberapa waktu silam.

Bicara soal batu akik ini, para penikmatnya ketika dahulu pun relatif dari orang-orang berusia tua. Berbeda halnya dengan hari ini, dimana anak usia sekolah tingkat dasar sudah kenal batu akik yang dibuktikan dengan gaya sok tahunya saat bicara tentang batu akik dihadapan kerabatnya.

Adakah yang salah? Lantas bagaimana pandangan Islamsoal ini sebagai agama yang sudah kita pilih sebagai jalan hidup? Secara umum memakai cincin bukanlah kesalahan, sebaliknya memakai cincin terhitung sebagai Anjuran dalam Islam menurut pendapat Mayoritas Ulama, alasannya adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam konon juga memakai cincin yang sekaligus difungsikan sebagai cap atau stempel surat beliau kepada para raja, sebab ketika itu beberapa raja tidak akan membaca surat dari satu pihak kecuali telah dibubuhi dengan stempel resmi. Hal ini seperti yang diceritakan dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Bukhari No 65 dari Anas bin Malik beliau berkata;

“Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam– pernah (memperintahkan) menulis surat, kemudian ada yang berkata kepada beliau; “Sesungguhnya mereka tidak akan membaca sebuah tulisan kecuali dalam keadaan distempel. Maka beliau kemudian membuat cincin dari bahan perak, ukirannya (bertulis) Muhammad Rasulullah.”

Sekilas peristiwa dalam Hadits itu seolah mengirimkan kita pesan arti dan tujuan Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam– memakai cincin, dan sekaligus menunjukkan bahwa sebelumnya Nabi tidak memakainya. Tidaklah beliau memakai cincin kecuali ada tujuan dan manfaat, sebab perbuatan Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam secara umum tidak ada yang percuma, melainkan sebagai bentuk pensyariatan hukum antara mubah, sunnah, atau wajib. Ini juga sesuai dengan sabda beliau bahwa “baiknya keislaman seseorang ketika dia meninggalkan urusan yang tidak penting terhadap dirinya.”

Cincin Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut kemudian dipakai oleh Khalifah berikutnya yaitu Abu Bakr, kemudian turun kepada Umar bin Khatthab dan kemudian dipakai oleh Khalifah Utsman bin Affan –Radhiyallahu Anhum. Cincin tersebut kemudian jatuh dari tangannya Utsman bin Affan ke dalam sebuah sumur di Madinah ketika itu, ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam karyanya Al-Istidzkar.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memakai cincinnya dengan memposisikan mata cincin tersebut diperut jari, bukan di atasnya. Seperti yang disebutkan dalam Hadits Riwayat Bukhari dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar bercerita kepadanya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam “membuat cincin dari emas dan menjadikan mata cincinnya di perut telapak tangannya ketika beliau memakainya”. Imam Bukhari sendiri sebagai periwayat Hadits ini memberikan satu judul di atasnya dengan berkata; “Bab Menjadikan Mata Cincin di Perut Telapak Tangannya”.

Sebenarnya hal ini lebih menegaskan kembali bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memakai cincin bukan dengan tujuan memperhias diri atau sekedar aksesoris, namun dengan tujuan tertentu yang manfaatnya kembali kepada Mashlahat Islam. Imam Al-Qasthalani (Wafat 923 H.) salah seorang pensyarah (penjelas) kitab Shahih Bukhari mengutarakan hal tersebut disela-sela menjelaskan posisi mata cincin Nabi, beliau berkata: “ini agar diketahui bahwa Beliau (Shallallahu Alaihi Wasallam) tidak memakainya sebagai perhiasan namun untuk menstempel dan sejenisnya.”

Zaman batu akik dan variannya yang masih hangat saat ini cukup membuat risau, sebab sebagian orang menyandingkannya atau menyerupakannya sebagaimana cincin kepemilikan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kini, orang tidak segan-segan untuk memamerkan batu cincinnya yang berukuran besar dan tak lazim ke khalayak ramai, mungkin ada kebanggaan tersendiri bagi mereka. Namun tentunya hal tersebut bukan tuntunan yang sesungguhnya dari dibolehkannya memakai cincin, sebab sikap pamer di tengah kemiskinan dan kesusahan bukanlah pekerti yang baik, terlebih harga cincin tersebut kini sepadan dengan benda berharga lainnya seperti emas dan perak. Maka sebaik-baik gaya hidup dan trend adalah yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Gambar dari: http://citizendaily.net/wp-content/uploads/2014/08/122442_620.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.