Tafsir Mimpi

Kata Pengantar : Mimpi adalah kekhususan manusia di antara makhluk Allah yang ada, bahkan mimpi merupakan jalan datangnya Wahyu atas seorang Nabi, mimpi kadang membuat orang yang mengalaminya menjadi gelisah atau bisa juga ceria, dan adalah kesempurnaan Agama Islam, ia menunjukkan kepada manusia bagaimana menyikapi mimpi dan bagaimana menafsirkannya. Artikel di bawah ini Insyaallah mengajak Anda mengenal hakikat mimpi. Semoga bermanfaat. Baarokallahu Fiikum.

Pertanyaan: Apa makna/maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “mimpi seorang mukmin adalah salah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”? Dan siapakah orang-orang yang mimpinya bisa dibenarkan/dipercaya?

Jawab: Makna/maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “mimpi seorang mukmin adalah salah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” adalah bahwasanya mimpi seorang mukmin itu betul bisa menjadi nyata karena mimpi tersebut adalah sebuah gambaran yang disampaikan seorang malaikat kepada seorang yang bermimpi, bisa berupa pemberitaan tentang suatu hal yang sedang terjadi atau suatu hal yang akan terjadi sesuai dengan mimpi tersebut, maka mimpi yang semacam ini seperti sebuah wahyu kenabian di dalam kebenaran tentang suatu hal yang ditunjukkannya walaupun keduanya tetaplah berbeda, karena hal inilah mimpi semacam ini disebut/digolongkan sebagai salah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian. Dan mengkhususkan/menggolongkan satu bagian ke dalam empat puluh enam bagian kenabian termasuk perkara yang bersifat tauqifiyyah yang hikmahnya tidak selalu bisa diketahui seperti halnya penentuan shalat berikut jumlah-jumlah raka’atnya.

Adapun orang yang mimpinya bisa dibenarkan/dipercaya adalah (hanya) orang yang yang beriman lagi jujur lisannya yaitu ketika ia memimpikan sesuatu yang baik. Jika seseorang selalu benar dalam segala tutur katanya dan ia juga memiliki keimanan dan ketaqwaan maka umumnya apa yang ia mimpikan itu akan betul terjadi oleh karena itu hadits di atas dikaitkan dengan hadits yang lain yang menyebutkan tentang mimpi yang dimaksud adalah mimpi yang baik dan orang yang memimpikannyapun orang yang saleh. Di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling benar tutur katanya.”

Akan tetapi penting untuk diketahui bahwa mimpi yang dilihat seorang manusia di dalam tidurnya ada tiga macam:

Macam yang pertama: mimpi yang benar lagi baik, inilah yang diberitakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ia termasuk salah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian, dan ini jarang sekali terjadi, akan tetapi menjadi nyatanya mimpi tersebut terkadang bisa sesuai dan betul-betul tepat dengan apa yang dimimpikan oleh orang tersebut di dalam tidurnya, terkadang juga bisa dalam bentuk sketsa/klise/perumpamaan di dalam mimpinya dimana ia melihat sebuah gambaran di dalam tidurnya lalu gambaran tersebut terjadi dalam dunia nyata mirip dengan apa yang ia mimpikan tetapi tidak betul-betul tepat dengan apa yang ia mimpikan sebagaimana apa yang dimimpikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam beberapa saat sebelum berlangsungnya perang Uhud, dimana beliau memimpikan adanya ketumpulan pada pedang beliau, dan beliau juga melihat ada seekor sapi yang disembelih di dalam mimpi itu.

Ternyata ketumpulan pedang tersebut memiliki arti gugurnya Paman beliau Hamzah dalam keadaan syahid, (diartikan demikian) karena kabilah seseorang itu bagaikan sebuah pedang di dalam penjagaan, pembelaan, dan pertolongannya, adapun sapi yang disembelih maka memiliki arti gugurnya sebagian para Sahabat dalam keadaan syahid di perang tersebut, (diartikan demikian) karena ada banyak kebaikan di dalam diri seekor sapi, begitupun para Sahabat dimana banyak sekali kebaikan yang ada di dalam diri mereka, mereka adalah orang-orang yang berilmu, orang-orang yang banyak manfaat/jasanya kepada sesama manusia, merekapun orang-orang yang banyak amal salehnya.

Macam yang kedua: mimpi yang dilihat oleh seseorang di dalam tidurnya berdasarkan rekaman perjalanan kehidupannya, karena sesungguhnya kebanyakan manusia memimpikan sesuatu yang ia pikirkan tatkala ia dalam kondisi terjaga dan juga memimpikan sesuatu yang telah terjadi ketika ia masih dalam kondisi terjaga, mimpi yang semacam ini tidak memiliki konsekuensi hukum apa-apa.

Macam yang ketiga: kekhawatiran yang berasal dari setan, sesungguhnya setan terkadang menampilkan sesuatu kepada seorang manusia di dalam tidurnya tentang sesuatu yang menakutkan jika terjadi pada dirinya, pada hartanya, pada keluarganya, atau pada masyarakatnya karena setan sangat gemar berusaha membuat seorang manusia mukmin menjadi berduka cita, Allah berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” QS. Al-Mujadalah 10, maka segala sesuatu yang bisa membuat seorang manusia merana di dalam hidupnya dan mengeruhkan kejernihannya maka setan amat sangat semangat untuk melakukannya tidak memandang apakah orang tersebut dalam kondisi terjaga ataukah ia sedang dalam kondisi tertidur sebagaimana Allah berfirman (yang artinya): “sesungguhnya syaitan itu musuh bagi kalian maka jadikanlah ia sebagai musuh bagi kalian!.”

Dan macam yang terakhir ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk kepada kita untuk melepaskan diri darinya dimana beliau memerintahkan kepada siapa saja yang memimpikan sesuatu yang tidak disukainya untuk segera beristi’adzah/meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan setan dan dari keburukan apa yang dia mimpikan, beliau juga memerintahkan untuk meludah tipis/ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali dan mengubah arah posisi tidur ke arah yang lain, dan agar hendaknya seorang yang bermimpi demikian tidak menceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka apabila ia telah melakukan semua perintah ini apa yang ia mimpikan itu tidak akan pernah membahayakan dirinya sedikitpun.

Inilah yang banyak dialami oleh manusia dan banyak ditanyakan tentangnya, akan tetapi penawarnya adalah apa yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu di dalam riwayat Imam Muslim beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memimpikan sesuatu yang tidak ia sukai maka hendaknya ia meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali, meminta perlindungan kepada Allah dari setan sebanyak tiga kali dan mengubah arah posisi tidur dari arah posisi tidur yang sebelumnya.”

Begitu juga hadits dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu di dalam riwayat imam Al-Bukhari: “Apabila salah seorang di antara kalian memimpikan sesuatu yang tidak ia sukai sesungguhnya itu berasal dari setan, hendaknya ia meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi itu dan janganlah ia ceritakan mimpi itu kepada siapapun karena sesungguhnya mimpi itu tidak akan membahayakannya.”, juga hadits dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu didalam riwayat Imam Muslim beliau (Qatadah) berkata: “suatu ketika aku bermimpi maka aku pun jatuh sakit sampai akhirnya aku mendengar Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mimpi yang baik itu berasal dari Allah, maka apabila salah seorang di antara kalian memimpikan suatu yang ia sukai maka janganlah ia ceritakan mimpi tersebut kecuali kepada orang yang ia sukai/senangi, (sebaliknya) apabila salah seorang di antara kalian memimpikan memimpikan suatu yang tidak ia sukai hendaknya ia meludah tipis/ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali dan meminta perlindungan kepada Allah dari setan dan kejahatannya, dan janganlah ia menceritakan mimpi tersebut kepada siapapun karena sesungguhnya mimpi itu tidak akan pernah membahayakannya.”

Juga hadits dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “apabila salah seorang di antara kalian memimpikan suatu yang tidak ia sukai hendaknya ia bangun lalu mengerjakan sholat dan janganlah ia menceritakan mimpi tersebut kepada siapapun.” HR Muslim.

Kesimpulannya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal-hal berikut ketika kita memimpikan sesuatu yang tidak kita sukai:

  1. Meludah tipis/ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali,
  2. Beristi’adzah/meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan sebanyak tiga kali,
  3. Beristi’adzah/meminta perlindungan kepada Allah dari keburukkan mimpi tersebut,
  4. Mengubah arah posisi tidur dari arah posisi tidur yang sebelumnya ke arah yang lain,
  5. Tidak menceritakan mimpi tersebut kepada siapapun,
  6. Bangun lalu mengerjakan sholat.

Oleh : Muhammad Rizqi Lc.

Gambar diambil dari: http://4.bp.blogspot.com/-cZTPlIjx-cA/UQvLsiSv3tI/AAAAAAAAADo/XC1IoUUeScE/s1600/Dream_like_a_kid___With__PSD_by_TranceParadox.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.