Empat Hal yang Perlu Diketahui Seputar Bekam

Teduh.Or.Id – Hijamah atau bekam menjadi populer belakangan ini, terutama ketika mulai tersebar berbagai foto atlet internasional yang melakukannya untuk mencapai kesehatan yang maksimal. lalu apa sebenarnya bekam itu? Bagaimana Islam memandang aktivitas ini?

  1. Wujud Hijamah Sebelum Islam

 Berdasarkan beberapa Hadits yang menerangkan tentang bekam atau Hijamah, dapat disimpulkan bahwa metode Hijamah adalah satu pengobatan yang memang sudah ada dan dikenal oleh masyarakat luas Bangsa Arab dari sebelum Islam muncul. Walau pun tidak terdapat petunjuk secara spesifik atas hal itu, akan tetapi Hijamah dapat dikuatkan wujudnya pada zaman kenabian, sementara kaum golongan muslimin yang masuk islam pada masa-masa awal adalah sosok-sosok yang pernah berkecimpung pada zaman Jahiliyyah. hal ini menguatkan bahwa Hijamah sudah terlebih dahulu ada dari sebelum kemunculan Islam.

 (Ibrahim bin Abdillah Al-Hazimiy. Al-Hijamah Ahkamuha Wa Fawaiduha. Pdf.  Hal. 29. Terbitan Darus-Syarif. Riyadh)

  1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Hijamah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam perah melakukan Hijamah dan ini sebagai dalil yang sangat jelas atas hukum kesunnah-annya Hijamah secara umum.

احتجم النبي صلى الله عليه وسلم وهو محرم بلحي جمل في وسط رأسه

 “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam perah berbekam dan beliau tengah dalam keadaan Ihram di (suatu tempat bernama) Lahyu Jamal di bagian tengah kepalanya.” (HR: Bukhari)

Selain itu, Beliau juga pernah bersabda:

الشفاء فى ثلاثة شربة عسل ، وشرطة محجم ، وكية نار ، وأنهى أمتى عن الكى

“Kesembuhan ada dalam tiga pengobatan, Meminum Madu, Siratan Bekam, dan Pelasan Api (kayyu), namun aku larang ummatku dari kayyu.” (HR: Bukhari dari Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma)

  1. Waktu Hijamah

Hijamah boleh kapan saja jika mendesak dan sesuai dengan kebutuhan, akan tetapi yang menjadi fokus pada nomor ini adalah terdapatnya beberapa hadits yang menunjukkan adanya anjuran untuk berbekam pada tanggal dan hari tertentu di dalamnya seperti :

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يحتجم في الأخدعين والكاهل وكان يحتجم لسبع عشرة وتسع عشرة وإحدى وعشرين

 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dulu berbekam pada leher bagian samping kiri kanan dan pertengahan pundak, beliau berbekam pada tanggal Tujuh Belas, Sembilan Belas, dan tanggal Dua puluh satu” (HR: Tirmidzi)

Hadits-hadits yang menceritakan tentang adanya anjuran atau larangan berbekam pada waktu tertentu dipertentangan oleh para Ulama atas Shahih atau Dha’ifnya, sebagaimana hal ini telah dipaparkan dengan rinci oleh pengasuh web fatwa https://islamqa.info dalam salah satu rilis fatwanya No. 128170. Dan di antara Ulama yang menguatkan hadits tersebut adalah Syaikh Al-Albany, beliau menilainya Hasan di dalam beberapa kitabnya seperti kitab Shahih Targhib Wat Tarhib dan Misykatul Mashabih.

  1. Hukum Usaha Hijamah

Usaha bekam disebutkan dalam Hadits sebagai satu usaha yang buruk, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

كسب الحجام خبيث

“Usaha Bekam Khabits (keji).” (HR: Tirmidzi dan Abu Dawud)

Namun bukan berarti membuka usaha atau mengambil upah dari Hijamah diharamkan, sebab dalam satu riwayat lainnya disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan upah kepada seorang budak yang membekam beliau:

حجم النبي صلى الله عليه و سلم عبد لبني بياضه فأعطاه النبي أجره وكلم سيده فخفف عنه من ضريبته ولو كان سحتا لم يعطه النبي صلى الله عليه و سلم

“Seorang budak milik Baniy Bayadhah pernah membekam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka Nabi pun memberinya upah, dan Budak itu berbicara dengan tuannya (negosiasi agar setoran wajibnya diringankan pada hari itu.pent.) maka diringankanlah Dharibnya (setoran wajibnya). Jika seandainya upah bekam itu haram, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak akan memberinya.” (HR: Muslim)

Hadits ini sebagai satu dalih yang kuat untuk menetapkan hukum tidak haramnya mengambil upah atau usaha bekam, dan inilah pendapat mayoritas Ulama. Dari itu Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

“Dan di dalamnya hadits-hadit ini terdapat dalil atas bolehnya berusaha dengan pekerjaan bekam, dan meskipun hal itu tidak baik untuk orang yang merdeka (bukan budak sahaya) makan dari ongkos bekam, bukan dari bentuk pengharaman atasnya, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan upah kepadanya dan beliau tidak melarang untuk makan darinya. Sedangkan penamaan beliau terhadapnya dengan Khabist (keji) sama seperti penamaan beliau terhadap bawang putih dan bawang merah dengan keji, dan hal itu tidak melazimkan pengharaman atas keduanya.” (Zaadul Ma’ad 4/62.)