Duhai Anak Muda, Jadilah Dirimu Sendiri!

Teduh.Or.Id – Rambut-berbelah di bagian pinggir kanan, kepala-mengkilap bagaikan bola bowling yang siap digelontorkan di arena, celana lurus berbahan jeans mencekik kaki yang kurus bagai tiang-tiang dibungkus layar gulung di atas kapal nelayan, disertai sepasang sepatu produksi sebuah clothing-an mentereng hingga meninggalkan jejak di mata yang melihatnya.

Begitulah gambaran singkat sebuah penampilan anak muda berlabel “fashionista” yang sangat sering dijumpai setiap kali kepala menoleh di tengah bahkan di pinggiran kota. Penampilan menjadi sebuah perkara utama bagi mereka untuk menjalani setiap aktivitas mereka sehari-hari.

Hampir di setiap pusat keramaian kota terdapat sebuah toko busana yang dikenal dengan sebutan “distro” dengan menyediakan semua kebutuhan para anak muda agar dapat berpenampilan “kece” dan “fashionable.” Dari menjual pomade (minyak rambut) impor dan jepit rambut sampai sneakers dan kaos kaki colourful se-mata kaki, distro menjadi persinggahan pertama bagi para anak muda dalam memuaskan hasrat mereka demi berpenampilan yang tujuan utamanya mendapat pengakuan sebagai “fashionable-person” dari orang-orang yang melihatnya.

Seringkali anak muda semacam ini menghadapi kondisi dimana pakaian yang baru saja dibeli pekan lalu tidak lagi menarik lagi dikenakan, tersebab sudah muncul fashiontrend terbaru. Ini tidak menutup kemungkinan mereka terjebak di dalam kondisi dimana mereka dikejar-kejar oleh sebuah fashion trend yang berlari begitu kencang di belakang mereka sehingga menyebabkan alokasi dana yang mereka habiskan untuk fashion tentunya lebih besar dari kebutuhan yang lainnya.

Kondisi yang menjebak mereka ini sudah pasti menjadikan diri mereka dituntut untuk menutup diri mereka dalam membuat keputusan untuk menjadi diri sendiri, baik dalam berpenampilan bahkan dalam berkepribadian. Fenomena ini juga membentuk mindset mereka bahwa pengakuan dan penilaian kebanyakan orang menjadi lebih penting daripada memaksakan diri menjadi pribadi apa adanya di tengah keramaian orang-orang yang bangga menjadi orang lain.

Kebahagiaan dalam menjalani hidup tentulah tidak dapat dirasakan apabila mereka hanya terus menerus memaksakan diri menjadi orang lain serta mengharapkan penilaian dan pengakuan orang lain. Kebahagiaan lahir dari sebuah kenyamanan tanpa adanya tekanan. Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika seseorang mengetahui posisi dirinya dihadapan Rabbnya. Tentu rasa kenyamanan seseorang dalam menjalani setiap perintah Rabbnya dan rasa kegelisahan ketika seseorang mencoba untuk mangkir dan terjerumus dalam bermaksiat kepada Rabbnya akan melahirkan kebahagiaan yang sebenarnya.

Mereka sudah pasti menjalani setiap lembar cerita hidup tanpa harus tertekan akan penilaian orang lain. Mereka akan percaya diri mempersembahkan “penampilan asing” mereka di tengah orang-orang yang mengenakan seragam fashion trend. Mereka sudah memiliki penyejuk dan penawar luka ketika harus menghadapi penilaian tajam dari orang-orang yang menganggap mereka asing. Dan mereka akan terus menerus merasakan kenyamanan dan menemukan kebahagiaan dalam keterasingan.

Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. {al-A’raf:26}

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)…{al-An’am:116}

Wallahu a’lam bishawab.