Distribusi Zakat Fithrah Apakah Seperti Zakat Harta?

Pendistribusian zakat fitrah menurut mayoritas ulama[1] tidak khusus hanya untuk orang miskin saja, namun juga boleh diberikan kepada delapan kelompok (Ashnaf) yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah ‘Azza Wajalla berfirman;

۞ اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (Attaubah 61)

Keumuman kata sedekah dalam ayat ini tetap berlaku jangkauannya sampai ke zakat fithrah, maka dari itu pendistribusiannya pun sama, tidak berbeda dengan zakat harta.[2]

Madzhab al-Syafi’iyyah mewajibkan penditribusiannya harus merata ke delapan Ashnaf yang ada, dan itu apabila yang membagikannya adalah pengurus zakat yaitu pemerintah, Imam Annawawi – rahimahullah – berkata :

(وأما) زكاة الفطر فمذهب الشافعي وجمهور اصحابه وجوب صرفها إلى الاصناف كلهم كباقي الزكوات

“(Dan adapun) zakat fithrah maka Madzhab Imam al-Syafi’i dan mayoritas Ash-habnya adalah wajib menyalurkannya kepada kelompok-kelompok (yang delapan) semuanya, sama seperti zakat-zakat lainnya.” (Almajmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/106)

Namun apabila yang membagikannya adalah pemilik zakat itu sendiri atau wakilnya maka boleh memberikannya hanya kepada orang miskin, Imam Annawai- rahimahullah – berkata;

هذا كله إذا فرق الزكاة رب المال أو وكيله فأما إذا فرق الامام أو الساعي فيلزمه صرف الفطرة وزكاة الاموال الي الاصناف الموجودين ولا يجوز ترك صنف منهم بلا خلاف

“Ini semua apabila pemecahan zakatnya oleh pemilik harta atau wakilnya, maka apabila pembagiannya oleh Imam (pemerintah) atau petugas pemerintah (assa’i) maka ia harus menyalurkan fithrah dan zakat harta kepada kelompok-kelompok yang ada dan tidak boleh meninggalkan satu kelompok darinya dengan tanpa ada perbedaan pendapat.” (Al-Majmu’ 6/107)

Distribusi Hanya Ke Fakir Miskin

Pendapat lain – dan insyallah ini yang kami ikuti – bahwa pendistribusian zakat fitrah hanya diperuntukkan kepada kaum faqir miskin saja, dan ini adalah pendapat dalam madzhab Al-Malikiyyah, dan satu riwayat pendapat dari Imam Ahmad, dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah[3]rahimahumullahu Jami’an – .

karena dalam hadits disebutkan secara jelas dan khusus bahwa zakat fithrah untuk kaum miskin:

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين

“Rasulullah ﷺ  mewajibkan Zakatul Fithr sebagai pembersih untuk orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan Rafats. Dan sebagai makanan untuk orang-orang yang miskin.”

Imam al-Syaukaniy – rahimahullah – berkata;

وفيه دليلٌ على أنَّ الفِطرةَ تُصرَفُ في المساكينِ دون غيرهم مِن مصارفِ الزَّكاة

“Di dalamnya hadits ini terdapat dalil atas pendistribusian zakat fithrah hanya dialokasikan untuk orang-orang miskin bukan kepada selain mereka dari beberapa kelompok penerima zakat.” (Nailul Authar 4/218)

Dan inilah bentuk praktik yang dijalankan pada zaman salaf, bahwa zakat fithrah hanya dibagikan kepada kaum miskin, Imam Ibnulqayyim – rahimahullah – berkata;

كان مِن هَديِه صلَّى الله عليه وسلَّم تخصيصُ المساكينِ بهذه الصَّدَقةِ، ولم يكن يَقسِمُها على الأصنافِ الثَّمانية قبضةً قبضةً، ولا أمَرَ بذلك، ولا فَعَلَه أحدٌ مِن أصحابِه، ولا مَن بَعدَهم، بل أحدُ القولين عندنا: أنَّه لا يجوز إخراجُها إلَّا على المساكينِ خاصَّة، وهذا القولُ أرجَحُ من القَولِ بوُجوبِ قِسمَتِها على الأصنافِ الثَّمانِيةِ

“Bagian dari petunjuknya Nabi ﷺ mengkhususkan sedekah fithrah ini untuk orang-orang miskin saja, dan beliau tidak pernah membagikannya untuk delapan kelompok secara satu persatu kepada mereka, dan tidak pernah memerintahkan demikian, dan tidak pernah dilakukan oleh para shahabatnya, dan tidak juga oleh generasi setelah mereka, bahkan salah satu dari dua pendapat di sisi kami bahwa tidak boleh mengeluarkannya kecuali atas orang-orang miskin secara khusus, dan inilah pendapat yang lebih kuat (Rajih) dari pendapat yang mewajibkan pembagiannya ke delapan Ashnaf yang ada.” (Zaadulma’ad 2/21)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin – rahimahullah – berkata;

الثاني: أنَّ زكاةَ الفِطرِ مَصرِفُها للفُقَراءِ فقط، وهو الصَّحيحُ

“Yang kedua : Sesungguhnya penyaluran zakat fithrah hanya untuk orang-orang fakir miskin saja, dan inilah dia pendapat yang benar.” (al-Syarhul Mumti’ 6/184)

Ahli Hadits terkemuka Al-Albani –rahimahullah – berkata;

ليس في السنة العملية ما يشهد لهذا التوزيع بل قوله صلى الله عليه و سلم في حديث ابن عباس : “وطعمة للمساكين ” يفيد حصرها بالمساكين والآية إنما هي في صدقات الأموال لا صدقة الفطر

“Tidak ada dalam Sunnah ‘Amaliyyah yang membenarkan pembagian ini, malah sabdanya nabi ﷺ dalam hadits Ibnu ‘Abbas – radliyallahu ‘anhuma – yang berbunyi ; “Dan sebagai makanan untuk orang-orang miskin” memberikan faedah pembatasannya hanya untuk orang-orang miskin, sedangkan Ayat ini (Surat Attaubah 61) berlaku hanya dalam zakat-zakat harta, bukan zakat fithrah.” (Tamamulminnah 1/387)

Demikian semoga bermanfaat

Musa Abu ‘Affaf.

——————-

[1] Lihat Al-Mausu’atulfiqhiyyah Alkuwaitiyyah (23/344)

[2]  Attarjih Fi Masailish-shaum Wazzakat. karya Syaikh Muhammad bin ‘Amr Bazmul (2/ 173 )

[3] Lihat Al-Mausu’atulfiqhiyyah Alkuwaitiyyah (23/344)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.