Dibalik Kumis Tipis Yang Klimis

Teduh.Or.Id – Kumis, siapa yang tak paham satu aksesori alam milik para pria ini, walaupun disisi lain kadang kita dapati kumis juga tumbuh pada kaum hawa. Namun sekali lagi, pada perjumpaan kali ini takkan kita bicarakan soal kumis para wanita baik dari sisi kesehatan atau sisi lainnya. Dalam sejarah panjang perjalanan dunia, lazim kita mengenal tokoh-tokoh dunia memiliki kumis. Ada Adolf Hitler pelopor perang dunia pertama dan terkenal dengan NAZI-nya, lalu ada pula Vladimir Lenin sang revolusioner komunis Rusia bersama dengan ideolog kebanggaannya yakni Karl Marx. Lihat pula Saddam Husain disaat kekuasaannya mencengkeram Iraq dengan gagahnya, mesti ada kumis yang menghiasi atas bibirnya. Agak jauh lagi, kita mengenal sosok Samuel Adam seorang tokoh Amerika yang menentang undang-undang pajak saat kebijakan tersebut diterapkan oleh Inggris dimana terkenal pula semboyan kala itu yang bergema “no taxation without representation”. Lihat pula Michaelangelo Buonarotti, seniman Italia yang hidup dan menjadi penggerak Renaissance disana, juga sosok yang berkumis.

Jejakkan kaki di Indonesia, namun sayang dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia kita tentu tak menemukan sejarah pemimpin Indonesia yang benar-benar memiliki kumis. Dimulai dari Soekarno, Sjarifuddin Prawiranegara, Mr. Assaad, Soeharto, hingga terakhir Joko Widodo. Kecuali mungkin hal itu kita dapati pada B.J Habibie yang kadangkala terlihat memiliki kumis tipis. Namun, sejarah perkumisan di Indonesia kita dapati justru pada sosok-sosok yang kontroversial dan kadangkala memiliki sedikit polemik. Tunjuk saja Andi Malarangeng, KRMT Roy Suryo dengan metadata yang menasbihkan dirinya menjadi pakar telematika, hingga yang sedang seru belakangan ini, setidaknya sampai artikel ini ditulis semisal Adam Suseno dan kasus perselingkuhannya dengan pedangdut Titin Karisma yang cukup menggoyang konflik rumahtangga ratu ngebor Inul Daratista. Lihat pula perseteruan dua pria berkumis yang saling serang secara tanpa sadar dimuka publik antara Abraham Samad dan Budi Gunawan, dimana keduanya juga berkumis.

Apa pengaruh kumis bagi pria? semua sepakat bahwa kumis ialah simbol kewibawaan, adakalanya disebut juga sebagai simbol kejantanan, dan tentunya memiliki kumis itu bisa mengangkat kehormatan pria dalam hal ketegasan secara signifikan. Pria berkumis biasanya cukup ditakuti oleh calon menantu, ayah yang berkumis biasanya memiliki sifat sedikit bicara banyak marahnya bagi para anak-anak mereka, atau pria berkumis mewakili simbol macho walaupun yang terakhir ini membutuhkan korelasi dan penelitian cukup keras dalam menjumpai hubungan yang valid serta empiris.

Mau dikata apa, kumis sudah menyejarah dalam perjalanan dunia yang cukup tua ini. Kumis sebagai simbol dari banyak pengejawantahan atas diri pria, sudah memiliki ruang khusus ditempat para penggemar dan pemeliharanya.

Akan tetapi, saat kita bicara Islam dan bagaimana pandangan Islam kesemua hal tersebut menjadi berbeda. Lho kok bisa? Karena memang, sebagai sebuah agama yang pengaturan atas umatnya bersifat menyeluruh. Maka soal kumis pun juga ada aturannya, dimana sajakah aturan soal kumis itu saudara? Kumis adalah bagian dari fitrah dalam Islam. Sebagai sebuah agama yang menjunjung tinggi kebersihan, maka merapihkan kumis, atau memendekkan kumis, atau bahkan memotong kumis ialah bagian dari Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitrah ada lima atau lima perkara dari fitrah; berkhitan, menghabiskan bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita nikmati pembicaraan Islam soal kumis melalui hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dibawah ini.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Cukurlah kumis, biarkanlah jenggot, dan selisilah majusi.” (HR. Muslim, 1/222/260). Dalam haditsnya yang lain, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Selisilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot, dan cukur habislah kumis.” (HR. Bukhari, 10/349/5892).

Memaksudkan penjelasan soal kumis ini ialah ada baiknya bagi seorang muslim untuk merapihkan kumisnya dan memendekkanya, seperti yang dijelaskan oleh Asy Syaikh Shalih Fauzan salah seorang dewan fatwa dari Saudi Arabia yang mengatakan, yaitu dengan memotongnya sependek mungkin. Dengan melakukan hal ini, akan terlihat indah, rapi, dan bersih. Dan ini juga dilakukan sebagai pembeda dengan orang kafir, (Lihat Al Mulakhos Al Fiqh, 37).

Maka, setelah kita melihat bahwa pentingnya bagi seorang muslim untuk menyelisihi orang kafir. Pun juga kita temui bahwa sejarah berkumis dimiliki oleh pemimpin dunia yang notabene mereka semua kafir dan tak luput pula dari sifat-sifat kedzhaliman terhadap rakyatnya. Jadi, buat para bapak, rapihkanlah sedikit kumis anda, dibuatlah pendek, dan niatkanlah untuk mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal yang satu ini, terlebih lagi jika memiliki semangat untuk menyelisihi para musuh Islam.

Sungguh, rapinya kumis para bapak tak serta merta menurunkan kewibawaannya, sumpah deh. Kewibawaan seorang pria baru turun apabila ia tak bisa mendidik keluarganya dalam naungan iman dan amal shalih. Gagahnya pria juga bukan karena kumisnya kok, akan tetapi bisa dibuktikan dari maunya ia menerima kebenaran dalam kehidupan, serta berbuat baik terhadap istri dan anaknya dalam hal urusan nafkah juga tanggungjawabnya dihadapan Rabbnya. Dan terakhir, kumisnya yang rapi bisa jadi mendatangkan sikap ramah terhadap tetangga dan tak terkesan menantang atasannya di kantor yang tak berkumis.

Wallahu waliyut taufiq.

Ditulis oleh: Rizki Abu Haniina

Sumber gambar:

http://miund.com/mumbles2/wp-content/uploads/2007/06/kumis-framed.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.