Dibalik Kata, “Ikhwan Kita”

Sungguh adalah kemudahan yang patut kita syukuri pada Allah Ta’ala bahwa dakwah Islam berkembang pesat di negeri ini. Konsekuensi dari meluasnya suatu perilaku komunitas adalah menggemanya syiar Islam yang sebelumnya mati suri kini menjadi hidup kembali, hal demikian adalah sebuah kebahagiaan bagi pemeluk Islam di negeri ini.

Kita dapati maraknya belakangan ini penggunaan kata seperti; akhi, ukhti, afwan, syukron, laa ba’sa, tafadhal, na’am, ahsanta, mumtaz, …. jiddan, khair dan istilah lain yang disadur dari negeri tempat lahirnya Islam. Belum lagi ditambah ucapan yang penuh dengan kebaikan dan pengharapan semisal; barakallahufikum, jazakumullahu khairan, syafakallah, selain yang sudah dikenal luas oleh sesiapapun baik muslim maupun kafir sebagaimana “insya Allah” dan kalimat pembuka pembicaraan yaitu “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Ini adalah tanda baiknya negeri, disaat syiar Islam nampak bukan hanya sekedar pada pakaian yang meluas penggunaannya seperti hijab. Yakni dengan adanya adaptasi nilai Islam dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Penggunaan kata tersebut menjadi marak seiring sejalan dengan banyaknya penjual herbal thibbun nabawi, pedagang busana muslim/muslimah, sekolah-sekolah Islam yang semakin tumbuh subur, hingga hal lain yang kini disematkan padanya nilai Islami contoh ojek syar’i, jilbab halal, dan purwarupa lainnya.

Salah satu yang fenomenal belakangan dikalangan teman-teman sepengajian ialah ucapan, “ikhwan kita”. Barangkali kata ini mengalir begitu saja ditengah pembicaraan kita khususnya yang terbiasa mengikuti pengajian salafi. Kata ikhwan kita ini menjadi sangat baru dan seru kala diucapkan, padanya terdapat nilai ukhuwwah yang sarat makna, padanya memunculkan nilai persaudaraan yang luar biasa, walaupun kadangkala padanya kata tersebut memunculkan kata kecewa, berat hati, hingga tak tega.

Kata itu muncul semisal ada sedikit pembicaraan, “kalau mau beli motor di akh X aja, dia ikhwan kita”, atau “kemarin ada lowongan tuh di perusahaan punya ikhwan kita”, bisa juga “alhamdulillah adik ana yang belum ngaji, kemarin baru aja nikah sama ikhwan kita”, atau yang barangkali paling menyesakkan, “ana gak enak mau nagih hutang ke dia, dia khan ikhwan kita, masak iya lupa sama utangnya”.

Tentu sebagaimana perkataan lain, kata tersebut tak ada salahnya sama sekali jika dihidupkan begitu saja, tanpa memandang kaidah kebahasaindonesiaan atau kaidah kosakata baku lainnya. Karena memang kata itu memiliki representasi yang elastis sesuai dengan penggunaan dan kalangan mana yang menyepakati penggunaan kata tersebut. Sebab hanya kalangan ikhwan yang telah mengaji, lebih khusus lagi yang mengikuti kajian salafi-lah yang memahami betul arti dari kata “ikhwan kita”.

Namun, alangkah baiknya jika kata baik ‘ikhwan kita’ tersebut dapat digunakan pula dalam koridor kebaikan, dalam sisi yang positif penggunaannya sebagai bagian dari bentuk taawun (kerjasama) kebaikan penuh perbaikan. Sebab jika kata “ikhwan kita” digunakan dalam koridor negatif bukan hanya persona yang dilabeli ikhwan kita tersebut yang mendapatkan dampak kurang baiknya, melainkan pada dakwah salafi itu sendiri. Sebab hanya salafi-lah yang paham dan mengerti istilah ‘ikhwan kita’ tersebut masa ini. Dan tentu harapan kita adalah kata tersebut adalah kata yang baik bukan jelek maknanya di kemudian hari, apatah lagi menjadi sesuatu yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang-orang merasa aman dari kejelekannya. Orang terjelek diantara kalian adalah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dirasa aman dari kejelekannya.” (HR. At Tirmidzi dan Ahmad).

Al Hafizh Ibnu Rajab dalam Lathaif Al Maarif mengatakan: “Secara keseluruhan: Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia dan yang paling bersabar akan gangguan manusia sebagaimana Allah mensifati orang bertakwa dalam firmannya ‘Orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang atau sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan’ (QS Ali Imran: 134)”

Adalah kebaikan karena ikhwan kita menjadikan lebih spesifik kemana kita harus melakukan kebaikan, dengan adanya kata ‘ikhwan kita’ yang salah atau keliru dapat diperbaiki bukan hanya pribadi akan tetapi dakwah salafi itu sendiri, dengan kata ‘ikhwan kita’, membantu kadangkala menjadi sempit dan lapang; sempit tersebab kasihan kaum muslimin lain yang tidak termasuk dalam golongan ikhwan kita padahal pada posisinya sangat membutuhkan uluran tangan dan bantuan, dan lapang sebab arah penggalangan bagi sosok ikhwan kita dapat terkoordinasi secara maksimal.

Tepat dan ideallah dalam penggunaan kata, semoga kita tidak menjadikan kata atau ucapan “ikhwan kita” hanya sebatas pada pembatasan dan menjebak kedalam lubang fanatik golongan. Jika kaum muslimin adalah bersaudara, maka bukankah kata ikhwan kita juga pantas dan layak bagi seluruh saudara kita se-Islam?

Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang dia curahkan kepada seorang muslim, atau dia menyelesaikan hutangnya, atau dia menepis rasa laparnya.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al Hawa’ij No 36 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash Shahihah No.906).

Oleh: Rizki Abu Haniina