Dari Muslim di North Carolina Untuk Pengungsi Suriah di Turki

Tiga Korban, Satu Pahlawan

Februari 2015, Dunia bergema ihwal tiga orang aktivis muda muslim yaitu Deah S. Barakat, Yusor Mohammad, dan Razan Mohammad tewas ditembak berkali-kali di berbagai bagian tubuhnya di kediamannya, Chapel Hill-North Carolina, Amerika Serikat.

September 2015, Dunia kembali bergema terkait satu orang peneliti senior muslim berdarah Turki di North Carolina State University mendapatkan kehormatan mendapatkan hadiah Nobel. Penghargaan ini didapatkannya karena penelitiannya dalam bidang Reparasi-Biologis DNA yang berkontribusi dalam menghadapi kanker kulit akibat paparan sinar ultra violet.

Sekitar 26.000 muslim tinggal di North Carolina, angka 30 persen lebih tinggi dari populasi muslim 12 tahun yang lalu di North Carolina. Data tahun 2008 menunjukkan bahwa 84% penduduk North Carolina adalah Kristen, 1% Budha, 1% Yahudi, 12-13% Tak Beragama, menyisakan 1% untuk agama lain (muslim termasuk didalamnya). Dari total populasi sekitar 9.900.000, berarti hanya sekitar 0.26% populasi muslim di North Carolina.

Public Policy Poling (PPP) adalah lembaga survei yang cukup kredibel dan sering menjadi acuan dalam melihat reaksi masyarakat terhadap kebijakan publik di Amerika. Pada survei PPP terakhir di North Carolina, 72% peserta survey mengatakan bahwa Muslim tidak boleh menjadi Presiden Amerika serikat. Lebih dari itu, 40% mengatakan praktek-praktek keislaman haruslah dianggap illegal. Donald Trumph -calon presiden Amerika serikat terkuat saat ini dari Partai Republik- pun seperti mendapatkan angin segar. Trump seringkali memberi komentar negatif tentang Islam dan sering mengungkit masalah 9/11. Hal ini sejalan dengan dukungan kuat kepada Trump di North Carolina yang 72% masyarakatnya tidak ingin Presiden muslim. Anehnya Partai Republik adalah partai yang sering dikaitkan dengan keinginan kuat untuk bersikap konsekuen dengan konstitusi Amerika yang sebetulnya menjamin kebebasan beragama.

Deah Shaddy Barakat dan Yusor adalah Mahasiswa Amerika, keturunan Suriah, di University of North Carolina (UNC) dalam bidang kedokteran gigi. Sebenarnya ia juga telah lulus dari North Carolina State University dalam bidang administrasi bisnis. Ia dan 10 orang temannya sesama mahasiswa kedokteran gigi berencana untuk pergi ke Turki dalam rangka membantu pengungsi Suriah yang merupakan sebuah proyek dari kampusnya. Di waktu senggangnya Deah Barakat juga sering membantu kesehatan gigi para tunawisma di lingkungan sekitarnya secara cuma-cuma. Yusor Muhammad adalah istri dari Deah Barakat, dan mereka baru menikah 6 pekan saat peristiwa penembakan terjadi. Razan Muhammad adalah adik dari Yusor Muhammad. Razan dan Yusor adalah mahasiswa (arsitektur) dan lulusan (biologi) dari North Carolina State University.

Pembunuh ketiganya telah ditangkap, Mayat Deah telah di otopsi. Pembunuhnya memang dihukum pada level pembunuhan berencana, namun Polisi mengatakan motif pembunuhnya hanya karena masalah lahan parkir. Padahal sebelum peristiwa naas itu, si pembunuh telah memposting di halaman Facebooknya, postingan yang mengutuk seluruh agama, dan kekerasan atas nama agama. Bahkan jika kita baca Profilenya akan terbaca “Atheist for Equality”.

Lahan parkir itu terkesan begitu penting, sehingga Deah harus tertembak berkali-kali di dada, kepala, dan tubuh bagian atas lainnya.

Demi memberikan empati serta mengenang tragedi penembakan tiga orang mahasiswa muslim tersebut, Aisha Anwar dan Layla Qur’an dua orang jurnalis dan fotografer muslim di North Carolina, membuat sebuah video berdurasi 30 menit yang berjudul Passion in Practice: Muslims of The Carolinas. Film ini bertujuan untuk mengenalkan wajah komunitas muslim di North Carolina dengan mengumpulkan rekaman wawancara dari tokoh-tokoh muslim di North Carolina. Ada banyak tokoh yang mereka kenalkan, termasuk Imam Masjid, Arsitek, Politikus, Pembuat Roti dan Ketua Asosiasi Muslim North Carolina. Tak terkecuali, ada seorang tokoh ilmuwan muslim yang berbicara tentang hasil-hasil penelitiannya yakni Prof. Aziz Sancar.

Wajah Muslim Amerika dan Nobel Yang Membuka Mata

Dalam video Passion in Practice tersebut, Prof. Aziz Sancar menerangkan tentang kontribusi beliau dalam bidang reparasi DNA secara biologi yang dapat menjelaskan peristiwa Kanker kulit akibat paparan sinar ultra violet yang merusak DNA. Video ini disebarkan di internet April 2015. Satu semester berselang, Oktober 2015, Prof. Aziz Sancar diumumkan sebagai pemenang penghargaan Nobel dalam bidang kimia atas penemuannya dalam bidang reparasi biologis DNA dan berkontribusi pada penanganan kanker.

Prof. Aziz Sancar terlahir sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara di tahun 1946. Orang tuanya tergolong keluarga berpendapatan menengah kebawah dan keduanya tak dapat membaca. Meskipun situasi sulit tersebut, kedua orang tuanya mendorong semua anaknya untuk menuntut ilmu. 7 Oktober 2015, reuters.com, menyebarkan video pernyataan pertama Prof. Aziz Sancar atas berita penghargaan hadiah nobelnya. Dalam video pendek tersebut Prof. Aziz Sancar yang berasal dari Savur-Turki ini menyatakan terimakasih kepada berbagai pihak, termasuk North Carolina State University. Selain itu beliau juga membuat sebuah pernyataan yang jika diterjemahkan secara bebas adalah sebagai berikut:

“Saya berasal dari kota kecil di Turki, kota perbatasan, dekat dengan perbatasan Suriah. Kita semua sadar atas tragedi yang sedang berlangsung di bagian dunia itu (maksudnya Suriah). Saya berharap agar kita semua bekerja kearah perbaikan yang damai dengan pendekatan ilmiah terhadap masalah kita. (-Hal inilah) yang lebih baik dari kecocokan biaya dan hal-hal yang memecah belah kita yang telah menyebabkan masalah besar ini dan tragedi ini di dunia dan khususnya pada bagian dari dunia yang saya berasal darinya.”

Sungguh unik North Carolina State University ini bagi kaum muslimiin terutama bagi pengungsi Suriah di Turki. Tiga muslim yang sedang berusaha berbuat kemanusiaan bagi wilayah konflik Suriah telah gugur dengan tuduhan makar terlampau sepele yakni “masalah parkir”.

Meskipun begitu makar Allah lebih dahsyat, dengan mendatangkan seorang muslim yang tidak hanya bicara misi penyelamatan kemanusiaan di Turki dan Suriah, tapi juga memberi bukti nyata yang membantu jutaan manusia dari penyakit Kanker. Hal ini mengingatkan penulis atas pernyataan Layla Barakat, Ibunda dari Deah Barakat, di hari pemakaman putranya dihadapan ribuan penduduk North Carolina.

“He died of hate crime and his legacy is never hate. You don’t respond back by hating the other. You respond back by love. By peace, by mercy. That’s Deah’s way.”

“Ia mati karena kebencian namun ia tak pernah mewarisi kebencian. Maka janganlah kaliah membalas dengan membenci orang lain, Kamu balaslah dengan Cinta, dengan Damai, dan dengan Kasih Sayang. Itulah jalannya Deah”

Bibliografi.

http://www.independent.co.uk/news/world/americas/chapel-hill-shooting-you-dont-respond-back-with-hate-deah-barakats-mother-leads-tributes-at-10040851.html

http://www.fosters.com/article/ZZ/20151006/SHAREABLE/151009943

https://en.wikipedia.org/wiki/North_Carolina

http://wunc.org/post/what-muslim-experience-north-carolina#stream/0

http://www.dailykos.com/story/2015/09/29/1425929/-North-Carolina-poll-72-percent-of-Republicans-say-a-Muslim-should-never-be-president#

https://en.wikipedia.org/wiki/2015_Chapel_Hill_shooting#cite_note-massive-44

http://islamicommentary.org/2015/04/passion-in-practice-muslims-of-the-carolinas/

http://www.carolinaturkevi.org/about.htm

http://www.reuters.com/video/2015/10/07/turkish-born-aziz-sancar-reacts-to-news?videoId=365862528