Darah Sebelum melahirkan, Apakah Terhitung Nifas?

Teduh.Or.Id – Di antara persoalan yang sering ditanyakan adalah masalah darah yang keluar menjelang melahirkan atau pembukaan , karena menyangkut urusan shalat, hal ini sering ditanyakan apakah darah tersebut termasuk nifas atau bukan?

Menjawab masalah ini kami cukupkan dengan menukil penjelasan dari beberapa Ulama besar Islam, di antaranya Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, beliau berkata :

فأما الذي تراه قبل الوضع بيومين أو ثلاثة فهو نفاس لأنه دم خارج بسبب الولادة فكان نفاسا كالخارج بعدها وهذا  لأن الحامل لا تكاد ترى الدم فإذا رأته قريب الوضع فالظاهر أنه بسبب الولد لا سيما إن كان قد ضربها المخاض

“Maka adapun darah yang dilihat perempuan dua hari atau tiga hari sebelum melahirkan maka darah itu adalah nifas karena ia merupakan darah yang keluar karena sebab melahirkan maka ia terhitung nifas, seperti halnya darah yang keluar setelah melahirkan. Ini karena perempuan yang hamil hampir-hampir ia tidak melihat ada darah (yang keluar) sehingga apabila ia melihatnya ketika dekat (dengan waktu) melahirkan maka yang nampak hal itu terjadi karena janin, terlebih jika kondisi kontraksi (mules) telah menderanya”.[1]

Pendapat ini adalah pendapat dari madzhab al-Hanabilah, Ulama dalam madzhab al-Syafi’iyyah menilai berbeda, mereka menyatakan bahwa darah yang keluar sebelum janin terlahir tidak terhitung nifas melainkan darah fasad (darah yang rusak)

Khathib al-Syarbiniy Rahimahullah – salah seorang ahli fiqh madzhab al-Syafi’iyyah – berkata:

والنفاس هو الدم الخارج بعد فراغ الرحم من الحمل فخرج بما ذكر دم الطلق والخارج مع الولد فليسا بحيض لأن ذلك من آثار الولادة ولا نفاس لتقدمه على خروج الولد بل ذلك دم فساد

“Nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim dari kehamilan, maka dengan yang disebutkan itu maka tidak termasuk ke dalamnya darah kontraksi dan darah yang keluar bersama janin, keduanya bukan haid, karena darah itu adalah efek dari melahirkan dan tidak terhitung nifas karena ia lebih dahulu keluar dari pada bayi, akan tetapi darah tersebut adalah darah Fasad.”[2]

Menurut al-Faqih Ibnu ‘Usaimin Rahimahullah, pendapat madzhab al-syafi’iyyah ini kuat , beliau berkata:

وقال بعض العلماء: لا نفاس إلا مع الولادة أو بعدها، وما تراه المرأة قبل الولادة ـ ولو مع الطلق ـ فليس بنفاس وعلى هذا القول تكون المرأة مستريحة، وتصلي وتصوم حتى مع وجود الدم والطلق ولا حرج عليها، وهذا قول الشافعية ، وأشرت إليه لقوته؛ لأنها إلى الآن لم تتنفس، والنفاس يكون بالتنفس.

“Dan sebagian ulama berkata; ‘Tidak terhitung nifas kecuali (diwaktu) bersama melahirkan atau setelahnya walau pun disertai kontraksi maka itu bukanlah nifas, – sampai beliau pun berkata – dan ini adalah pendapat al-Syafi’iyyah , aku isyaratkan kepada pendapat ini karena kekuatannya”.[3]

sedangkan fatwa ulama al-Lajnah al-Da’imah di Saudi Arabia dalam masalah ini adalah sebagai berikut:

ما يخرج من الحامل قبل الولادة بيوم أو يومين ومعه علامة الولادة يعتبر نفاسا تترك من أجله الصيام والصلاة، وإن كان ليس معه أمارة ولادة فإنه لا يعتبر نفاسا. وعليها أن تصلي وتصوم ولو كان نازلا؛ لأن حكمه حكم البول

“Darah yang keluar dari perempuan hamil sehari, atau dua hari sebelum melahirkan dan disertai dengan tanda melahirkan, darah itu terhitung nifas, ia wajib meninggalkan puasa dan shalat karena hal itu, dan jika darah yang keluar tidak disertai dengan tanda melahirkan maka ia tidak terhitung nifas, dan wajib atasnya shalat dan berpuasa walau pun darah itu turun, karena hukumnya adalah hukum kencing”.[4]

kesimpulan dari nukilan-nukilan berharga di atas bahwa ulama terbagi menjadi dua pendapat : Pertama: darah tersebut bukan darah nifas sehingga tetap wajib shalat dan puasa, kedua: darah tersebut nifas namun dengan syarat disertai oleh kontraksi melahirkan, sehingga ia tidak boleh shalat dan puasa.

Dan masalah ini dalam pandangan kami yang dangkal adalah masalah yang tidak terdapat di dalamnya keterangan langsung secara jelas dan khusus dari Al-Qur’an dan al-Hadits sehingga dapat digolongkan ke dalam masalah Ijtihadiyyah yang terbuka toleransi antara satu pendapat dengan yang lainnya.

Namun apa yang dipaparkan Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah membuat hati kami cendrung kepadanya , itu karena ada kemudahan yang terhasil di dalamnya. kita ketahui bersama bahwa waktu menjelang persalinan, kaum ibu ketika itu betapa berat keadaan yang mereka hadapi, yaitu rasa sakit, dan pendarahan. sehingga dengan dikatakan darah tersebut adalah nifas maka mereka menjadi lebih ringan dari kewajiban mendirikan Shalat.  Wallahu A’lam.


 

[1] Syarhul’umdah Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah/Cet. Majma’ulfiqh (1/608)

[2] Mughnilmuhtaj 1/108) Penomoran Maktabah al-Syamilah

[3] Al-Syarhulmumti’ (1/506) penomoran Maktabah al-Syamilah

[4] Fatwa Lajnah Da’imah sebagaimana yang dinukil dalam fatwa islamweb