Dalil Dilarangnya Mengucapkan Selamat Tahun Baru Masehi

Teduh.Or.Id – Tahni’ah atau ucapan selamat untuk tahun baru masehi difatwakan haram oleh banyak Ulama. Lalu apakah sebenarnya yang melandasi fatwa mereka tersebut?  

Berikut kami coba uraikan dalil-dalil mereka dengan singkat.

Dalil dari Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan al-Zur (perayaan-perayaan kaum musyrikin) (QS: al-Furqan 72)

Dalam Ayat ini Allah memuji perbuatan orang-orang yang beriman karena mereka tidak menyaksikan perayaan kaum musyrikin. Maka hal sebaliknya adalah Allah mencela bila ada yang menyaksikan perayaan mereka, dan tentunya jika sekedar menyaksikan saja dicela maka bagaimana lagi kalau sampai menyampaikan ucapan selamat kepada perayaan mereka? Tentu hal ini lebih parah meskipun tidak disampaikan secara tekstual dalam Ayat ini.

Dalil dari Hadits

Telah dilarang melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskan kita kepada mengikuti dan memperserupakan diri dengan ahli kitab. Dalam hadits disebutkan:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa saja yang memperserupakan diri dengan suatu kaum maka ia termasuk seperti mereka”. (HR: Abu Dawud)

Hadits ini dinilai tepat sebagai dalil atas dilarangnya mengucapkan selamat tahun baru masehi karena mengingat bahwa perayaan tahun baru masehi merupakan perayaan kaum nasrani,[1] sementara sebuah ucapan selamat (Tahni’ah) nilainya secara otomatis mencerminkan moment atau hal dari objek ucapan selamat tersebut.

Dalam hal ini objek tersebut adalah perayaan tahun baru masehi yang sudah ditetapkan dan diketahui merupakan perayaan agama kaum nasrani secara khusus.

Dan ketika seorang muslim mengucapkan dan menyampaikan selamat atas moment tahun baru ini maka hakikatnya ia ikut serta melibatkan diri ke dalamnya sehingga masuklah ia ke kategori memperserupakan diri dengan kaum nasrani.

Dalam hadits lainnya juga disebutkan agar seorang muslim menyelisihi kaum musyrik, Nabi ﷺ bersabda :

خالفوا المشركين

“Selisilah oleh kalian kaum yang musyrik” (Muttafaq ‘Alaih)

Alasan berikutnya karena perayaan tahun baru masehi terhitung sebagai bentuk lain dari hari raya atau ied yang telah ditetapkan dalam Islam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ datang ke Madinah, beliau mendapatkan kaum muslimin di Madinah memiliki dua hari tertentu yang dijadikan mereka sebagai hari khusus untuk bermain, kemudian Nabi ﷺ menghapus kedua hari tersebut dan menggantinya dengan dua hari raya Islam, Beliau bersabda:

 قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما فى الجاهلية ، وقد أبدلكم الله بهما خيرا منهما يوم النحر ويوم الفطر

“Saat aku datang kepada kalian, kala itu kalian memiliki dua hari bermain di masa jahiliyyah , dan Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik untuk kalian, yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri” (Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan bunyi hadits berasal dari Al-Baihaqiy).

Di sini Nabi ﷺ tidak menyetujui dengan adanya dua hari yang dijadikan waktu untuk bermain, dan juga tidak membiarkan mereka tetap bermain di dalamnya, walau pun hal itu mereka lakukan atas dasar adat yang berlaku di masa jahiliyyah.

Tidak hanya itu saja, bahkan Nabi ﷺ mendatangkan pengganti dari dua hari tersebut, tentunya hal ini menunjukkan atas dihapusnya dua hari tersebut, karena pergantian sesuatu mengharuskan ditinggalkannya objek yang diganti, sebab tidak mungkin pengganti dan objek yang diganti digabungkan menjadi satu untuk difungsikan dan dijalankan bersamaan.

Nah kaitannya hal ini dengan ucapan selamat tahun baru ada pada kesamaan nilai dan makna antara keduanya, yaitu sama-sama merupakan bentuk dari hari raya atau ied.

Di mana perayaan tahun baru masehi sudah jelas adalah satu waktu tertentu yang diisi oleh kaum nasrani untuk melakukan perayaan agama atau pun kebiasaan mereka secara terus menerus dalam setahun, dan inilah hakikat dari hari raya atau ied itu. Sedangkan Nabi ﷺ telah menghapus semua bentuk perayaan atau ied bagi kaum muslimin dan menggantinya hanya dengan dua hari raya.

Maka ketika seorang muslim menyampaikan selamat tahun baru walau pun atas dasar adat istiadat hidup modern maka secara otomatis ia terhitung terlibat ikut serta ke dalam membuat hari raya yang baru selain dua hari raya Islam dan sekaligus ikut serta dalam perayaan nasrani tersebut.

Dalil Ijma’

Di antara perjanjian Khalifah Umar bin al-Khatthab radliyallahu ‘anhu dengan ahli kitab (yahudi dan nasrani) yang berada di bawah kekuasaan kekhalifahan islam adalah, “mereka tidak dibenarkan memperlihatkan syiar-syiar agama mereka di negeri kaum muslimin”.

Hal tersebut merupakan ijma atau kesepakatan generasi Salaf bahwa mengucapkan selamat atau tahni’ah kepada perayaan-perayaan agama ahli kitab bukanlah bentuk berbuat baik (Al-Birru) yang dibenarkan. Ringkasnya, jika ahli kitab tidak dibenarkan menampakkan perayaan agama mereka, lalu bagaimana mungkin mengucapkan selamat kepada mereka kemudian dapat dibenarkan ? tidakkah hal itu rancu dan bertolak belakang?

Demikian[2] semoga Allah memberikan kita rejeki tetap tegar dan istiqamah di atas ketaatan. Amiin.


[1] Lihat :

أحكام التهنئة في الاسلام karya syaikh Shadiq al-Baidlaniy Rahimahullah hal. 170.

[2] Artikel ini kami intisari dari beberapa web fatwa di antaranya dari islamweb.net dengan No. fatwa  26883. http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=26883

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.